
Riselwood adalah sebuah kerajaan yang berdiri di tengah hutan Eldior, hutan ini memiliki luas sekitar 14 hektar dengan pohon-pohon yang memiliki keunikan sendiri, jika itu malam hari semua tanaman di sini akan bersinar terang.
Konon siapapun yang merusak tanaman ini mereka akan langsung di serang dan tak pernah kembali lagi, sebuah hutan yang cocok untuk habitat dari para elf.
Aku meminta Hesna untuk turun sedikit jauh dari kota yang kutuju memungkinkan kami berdua bisa melihat pepohonan itu dari dekat.
"Bagiku terlihat sama saja."
"Tapi lihat di sana," aku segera berjalan ke sebuah pohon yang aneh dimana bentuknya menyerupai manusia dan demi human atau sejujurnya itu terlalu mirip jika di sebut pohon.
"Sepertinya mereka dirubah menjadi pohon."
Aku setuju dengan apa yang dikatakan Hesna, mungkin saja mereka telah mencoba merusak hutan ini.
Tak ingin berlama-lama kami berjalan ke arah kota berada.
"Ngomong-ngomong tuan, kemana Rin, Amnestha dan Gabriela aku tidak melihatnya lagi sejak tuan kembali dari pulau malaikat."
"Aku meminta mereka pergi ke kerajaan Artana."
"Artana?"
"Seharusnya aku membantu mereka mencari penerus kerajaan untuk menjadi raja, tapi sayangnya aku harus mengambil dulu tanganku di kota ini, sampai aku selesai mereka akan mencoba menjelaskan keterlambatanku di sana."
"Jadi begitu."
Dari jalanan setapak yang kami lalui terlihat sebuah tembok besar yang diperuntukan sebagai pelindung serangan dari luar, di baliknya adalah sebuah kota yang akan aku tinggali beberapa hari, kukira hanya ada kami berdua namun ternyata beberapa orang sudah mengantri di depan gerbang masuk.
Mereka semua lelaki dari berbagai ras yang mencoba perjodohan di tempat ini, saat bagianku tiba elf wanita yang bertugas sebagai penjaga menjelaskan.
__ADS_1
"Pertandingan tahun ini akan sangat meriah karena ratu sendiri juga akan ikut di dalamnya, kuharap kau bisa memenangkannya."
"Ah iya."
"Tuan terlihat tersipu."
"Apa kelihatan?"
"Um."
"Apa boleh buat elf itu sangat cantik, dada mereka juga besar-besar," atas pernyataanku Hesna mengembungkan pipinya selama perjalanan di kota.
"Apa itu gaya merajukmu?"
"Benar."
"Apa yang tuan katakan, aku jadi malu."
Wanita itu memang sulit dimengerti.
Tidak berbeda dengan pemukiman penduduk biasanya, para elf juga meniru bangunan manusia pada umumnya, di setiap jalan diisi oleh pertokoan dan di belakangnya terdapat rumah-rumah yang berbaur dengan penginapan, kafe, kedai dan beberapa hiburan lainnya.
Jika mengalihkan jauh ke tengah kota ada sebuah bangunan tinggi yang diperuntukkan sebagai kediaman ratu, bangunan itu terbuat dari es yang tampak indah. Padahal hari ini cukup panas tapi kulihat es itu tidak berubah bentuk sedikitpun.
Para lelaki yang kulihat sebelumnya di luar tampak bersenang-senang selagi menggoda elf-elf yang mereka temui, aku akan menegaskan satu hal di sini.
Para elf ini memiliki umur yang bervariasi dari puluhan tahun sampai ratusan tahun tapi penampilan mereka terlihat seperti gadis di usia antara 16-20 tahunan, aku tidak heran jika ada elf yang berumur ribuan tahun di sini.
Aku membeli dua potong roti seharga enam koin tembaga pada penjual warung.
__ADS_1
"Silahkan."
"Terima kasih."
Salah satu roti kuberikan pada Hesna.
Roti ini diisi oleh daging, telur dan sayuran walaupun bentuknya memanjang tetap saja rasanya hampir seperti hamburger.
"Ini enak sekali."
"Benar tuan."
Si penjual warung berkata ke arahku.
"Apa tuan ingin mengikuti pertandingan bela diri?"
"Ah iya, aku punya alasan untuk mengikutinya tapi dibanding itu aku lebih tertarik dengan sejarah dari kerajaan ini."
"Begitukah, kalau ada ingin tahu Anda bisa ke perpustakaan kerajaan, tentu saja tuan juga harus memiliki izin dulu dari ratu."
"Sepertinya aku akan melakukan itu, tapi berapa umurmu nona?"
Elf itu memegangi wajahnya malu-malu.
"Seratus tahun, aku janda yang sudah memiliki 10 anak dan dua cucu."
Sudah kuduga kebanyakan di sini bukan perawan, mari tinggalkan tempat ini sesegera mungkin.
Kalau bisa, aku ingin mengambil tanganku tanpa harus ikut dalam perlombaan seperti ini.
__ADS_1