
Koko yang terbang paling atas melihat dua muridnya terbang ke arahnya.
"Yang satu menggunakan sihir terbang seperti orang itu dan satu lagi menggunakan sihir pemanggilan, bukan sihir pemanggilan biasa itu adalah harimau yang berasal dari bukit petir kah, mari kita lihat sekuat apa mereka... Momo."
"Ough...ough."
Momo membuka mulutnya untuk menciptakan bola hitam dari sana kemudian meluncurkannya ke dua muridnya.
Falena maupun Len menghindarinya dengan baik, tapi tidak bagi orang yang dibawah mereka. Mereka semua teman sekelasnya walau menahan dengan sihir pelindung serangan tersebut sama sekali tidak bisa ditahan seolah memilih efek menghancurkan pelindung.
"Oi Len, apa kau punya rencana untuk mengalahkannya?"
"Hanya satu."
"Apa itu?"
"Hajar saja dia."
"Itu bukan rencana."
Len melesat dengan cepat seolah memberikan dorongan pada kedua kakinya, Koko yang menyadarinya itu menghindarinya dengan cepat agar kepala Len tidak menubruknya.
"Momo dari sini aku sendiri yang melawannya."
"Ough."
Len maupun Falena menciptakan sihir secara bersamaan.
"Fire Bolt."
"Thunder Bolt."
__ADS_1
Kedua bola sihir itu menghantam Koko dari dua arah berbeda kecuali asap yang diciptakan karena ledakan, itu sama sekali tidak menghasilkan damage apapun.
"Kalian tangguh juga, melawan kalian di udara cukup merepotkan bagaimana bisa jika kita bertarung di bawah saja."
"Tidak akan kubiarkan" teriak Len melesat maju.
Koko meninju perutnya hingga Len menukik jatuh ke bawah, para murid yang tertimpa berhamburan bersamaan tanah yang terangkat ke udara.
"Guru, apa kau tidak berlebihan?"
"Dia tidak akan mati hanya dengan serangan seperti itu, jika pun mati itu kesalahannya."
"Apa?"
Harimau yang ditunggangi Falena turun ke bawah untuk memeriksa keadaan Len, seperti apa yang dikatakan Koko dia tampak baik-baik saja.
"Sakit sekali, walau umurnya tidak jauh dari kita kekuatannya sangat kuat."
"Sekarang lawan aku semuanya," menerima provokasi itu, semua murid yang bangun mengepung Koko selagi mengirim tinju maupun tendangan.
Satu murid melompat ke atas Koko, dengan santai dia meninju perutnya lalu menarik tangannya untuk di tabrakan dengan murid lainnya.
"Kalian boleh menggunakan pedang ataupun sihir, gunakan saja semua kemampuan kalian."
"Ini mengerikan."
Koko menendang wajah beberapa muridnya hingga terbang ke udara, dibanding mengajar ini lebih seperti pertarungan nyata.
"Bagaimana ini? Guru kita terlalu kuat."
"Aku punya rencana," potong Len.
__ADS_1
"Menyerangnya secara langsung bukan rencana."
"Bukan itu, aku benar-benar memiliki rencana sesungguhnya."
Len membiarkan rencana miliknya di dengar oleh Falena.
"Kau yakin? Itu sangat berbahaya untukmu."
"Jangan khawatir, jika tidak dengan kekuatan penuh kita tidak bisa mengalahkannya."
"Aku mengerti."
Setelah keduanya sepakat Len maupun Falena yang merupakan siswa yang masih berdiri melesat maju.
Len menarik pedangnya, dia menutup matanya sesaat dan lingkaran sihir muncul di pedangnya.
"Enchanter."
"Sihir penambah efek kah... aku yakin siapa yang mengajarimu."
"Percepatan."
Dengan cepat Len sudah berada di depan Koko, dia mengayunkan pedangnya hingga Koko harus menahannya dengan pedang yang dipungutnya dari murid lain.
Trang... Trang... Trang.... Prang.. Srang...
Kilatan cahaya muncul setiap kali mereka bergerak dengan cepat, Len mengayunkan pedangnya dari samping dan itu menubruk pedang Koko hingga terpotong dua bagian.
Murid yang memilikinya hanya bisa memekik keras.
"Itu pedangku."
__ADS_1
Koko mengambil pedang lainnya yang ada di tanah dan lagi-lagi pedang tersebut patah.