Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 207 : Hal Yang Disebut Keadilan


__ADS_3

Jauh dari arah pelabuhan ada sebutan tebing yang bisa dimasuki satu perahu, di sana terdapat sebuah gua yang bisa digunakan untuk menyembunyikan perahu kami sampai pekerjaan kami selesai.


Negeri awan merupakan negeri yang dipenuhi pegunungan tinggi di mana orang-orang memilih mendirikan perumahan atau kota di bagian atasnya dibanding di bawahnya.


Alasannya sederhana, itu karena wilayah kaki gunung semuanya tertutup oleh kabut putih dan dari sinilah nama negeri awan terbentuk.


Untuk berpindah tempat mereka membuat sebuah kereta gantung yang jalurnya sendiri mencapai tiap gunung satu sama lain.


Ini memang sebuah keuntungan bahwa tidak akan ada yang mencari kami di bawah sini, hanya saja pandangan kami benar-benar terhalang.


"Aku menyentuh sesuatu yang lembut, besar, dan sangat empuk."


"Itu dadaku tuan."


"Punya Amnestha kah... Jika begini terus kita benar-benar akan tersesat, apa boleh buat, semuanya terus mendaki."


Di ujung kabut pemandangan berbeda telah menyambut kami, bersamaan sinar matahari yang menyilaukan ditambah butiran salju yang berjatuhan, semuanya tampak memukau.


Dari kami semua Fate terlihat sangat kelelahan.


"Sudah sangat lama aku tidak mendaki gunung, bagaimana kalian bisa kuat sampai kemari?"


Sebelumnya kami pernah melakukan hal sama saat menemui Aurora, gunung bagi kami bukanlah apa-apa.


Untuk mencari informasi, Rin mengeluarkan ratusan kelelawar dari lingkaran sihirnya dan mulai menyebar ke segala penjuru.


Jika dibutuhkan dia bisa menyambungkan inderanya dengan mereka.


"Aku sudah selesai tuan."


"Kerja bagus, pertama kita harus tahu bagaimana situasi di negeri ini, sebelum menyerang langsung ke istananya."


Fate yang mendengarkan menarik nafas panjang.


"Kau langsung ingin menyerang."


"Jika dipikir-pikir mencuri secara diam-diam tidak seru, lebih baik berperang."


"Kau ini."

__ADS_1


Amnestha berbisik ke telinga Fate hingga dia merasa geli.


"Hentikan... eh, yang benar?"


"Tuan memang seperti itu."


"Kalian berdua, apa yang kalian bicarakan?" tanyaku demikian.


Fate melirik ke arahku.


"Kau ingin membantuku untuk mengambil wilayah ini kembali sampai sejauh itu."


"Aku tidak melakukannya secara gratis, kau harus membayarnya nanti."


"Dengan tubuhku?"


"Itu memang sangat menggoda, tapi aku lebih menginginkan batu jiwa."


"Darimana kau tahu bahwa ada batu jiwa di sini?"


"Seorang peramal memberitahu kami."


"Aku yakin bisa melakukannya, yang kubutuhkan batu itu, bukan jiwa yang ada di dalamnya," kataku singkat.


"Baiklah, aku akan memberikannya saat aku kembali mendapatkan kerajaanku."


"Apa mungkin penguasa yang sekarang bisa menggunakannya?" tanya Gabriela.


"Itu mustahil, batu itu tersembunyi di ruang bawah tanah hanya aku dan ayahku saja yang mengetahuinya."


"Meski begitu, tidak ada jaminan bahwa dia tidak menggunakannya," tambah Rin yang mendapatkan anggukan kecil dariku.


Untuk sekarang kami bisa mengesampingkannya dulu dan pergi ke dalam kota di gunung ini.


Aku membeli beberapa ubi bakar yang kuberikan masing-masing kepada mereka, di atas gunung udaranya sudah terasa dingin ditambah sedang musim dingin jelas menjadi dua kali lipat.


Jika kami tidak mendapatkan penginapan kami akan membeku dalam beberapa jam. Ini enak, tapi tidak cukup untuk menghangatkan diri.


Aku bisa merasakan hawa dingin menembus tulang-tulangku sekarang, untuk mengatasinya kami menemukan satu penginapan di belakang kota yang masih buka.

__ADS_1


Kebanyakan penginapan telah gulung tikar akibat larangan pelancong untuk memasuki wilayah yang jauh dari pelabuhan.


"Kami pesan kamar," saat aku berkata itu receptionis memberikanku foto-foto gadis muda.


"Apa ini penginapan?"


"Penginapan sudah tidak ada, tempat ini berubah jadi rumah bordil."


Saat aku hendak menulis namaku.


Rin dan Gabriela menahan tanganku lalu menyeretku ke luar bersama Fate dan Amnestha.


Fate memegangi kepalanya frustasi.


"Pantas saja hanya penginapan ini yang masih buka... kotaku malah menjadi berbahaya, sebelumnya tidak ada tempat seperti ini di negeri awan."


Rin memotong.


"Tidak hanya di sini, di tempat lain juga malah lebih parah, korup dimana-mana dan setiap kebijakan hanya menguntungkan pihak petinggi pemerintah."


"Kita harus menangkap mereka."


"Soal itu kami hanya akan mendengarkan perintah tuan kami? Perintah Anda tuan?"


Semua pelayanku melirik ke arahku menunggu jawabanku.


"Sama seperti saat di kota itu, kita akan membunuh mereka, pastikan untuk tidak membunuh keluarganya yang tidak terlibat."


"Baik tuan."


Fate menatapku dalam diam lalu membuka mulutnya.


"Apa-apaan ini?"


"Maaf Fate, tapi kami ini bukan pahlawan yang menjunjung ideologi dimana yang bersalah harus diampuni dan tersenyum setelahnya tanpa dosa, mereka harus mendapatkan hal sepadan yang mereka lakukan, itulah yang kami yakini."


Aku menunjuk ke dalam gang sempit hingga Fate menutupi mulutnya tak percaya.


Di gang itu, banyak sekali mayat yang mati dan sebagiannya telah menjadi tulang.

__ADS_1


__ADS_2