
"Mari kesampingkan soal pahlawannya dulu, dengan kata lain wilayah naga diledakkan olehnya, kemudian merekapun memutuskan mengambil wilayah Harpy," atas pernyataanku, Lupin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Nermia mengusulkan satu ide.
"Bagaimana kalau tuan meminta para ras naga tinggal di sini?"
"Kau gila, ras naga itu sulit dijinakkan bisa-bisa bukan hanya wilayah ini, mereka juga akan menghancurkan seluruh kerajaan ini."
"Bagaimana dengan negosiasi, aku tahu bahwa jika tuan bisa mengalahkan pemimpinnya mereka pasti akan tunduk padamu."
"Yang ada nanti aku bisa-bisa mendapatkan gelar raja naga."
Dewa kegelapan juga sudah parah, raja naga, bisa-bisa aku sulit berjalan karena gelar yang berat.
Lupin hanya memperhatikanku dengan mata polosnya. Ditatap seperti itu membuatku tidak bisa melakukan apapun.
"Baiklah, aku tahu... mari temui mereka."
"Terima kasih tuan."
"Makan lagi nasi gorengmu."
"Baik."
Kepolosan anak-anak bisa meluluhkan hati siapapun.
Lupin adalah seorang yang bisa melarikan diri dari kurungan para naga, pasti dia selama ini telah berjuang hingga bisa datang kemari.
Aku berdiri di luar masion saat menyadari kedatangan dua pelayanku dari kejauhan, mereka berlari dengan cepat meninggalkan debu di belakang mereka dan aku lihat beberapa orang jatuh dari langit.
"Aku yang menang Selly."
"Jangan harap, aku yang akan menang."
Sampai sekarang aku tidak pernah percaya kekuatan mereka telah hilang.
__ADS_1
Aku mendesah pelan saat keduanya tiba secara bersamaan.
"Siapa yang menang tuan?"
"Kalian seri."
"Tidak ada kata seri di kamusku, mari ulangi," kata Selly.
"Siapa takut?"
Aku menarik kedua pipi mereka.
"Kalian bisa hentikan itu, kita sedang mendapatkan masalah, dan juga diantara kalian sama sekali lupa soal oleh-olehnya."
Keduanya memalingkan wajah saat aku menatap keduanya. Sella yang membalasku.
"Sebenarnya kami ingin menghadiahkan tubuh kami pada tuan sebagai oleh-oleh."
Tidak ada baiknya punya pelayan seperti mereka.
Aku meminta mereka mandi kemudian menjelaskan masalah apa yang kita hadapi pada keduanya.
"Aku juga Nermia."
"Baik."
"Kalian tidak mendengarkanku sama sekali," balasku lemas.
Setelah beristirahat semalaman akhirnya kami pergi ke pulau langit, menggunakan balon udara, dari kejauhan aku bisa melihatnya.
Pulau itu terdiri dari 10 pulau yang mana sembilan pulau berada diluar membentuk sebuah lingkaran sementara satu lagi yang lebih besar berada di tengahnya.
Para naga mulai bermunculan saat melihat kedatangan kami.
"Kurasa sambutannya kurang baik di sini."
__ADS_1
Aku melayang keluar untuk menghadapi mereka semua dan berfikir bagaimana cara mengalahkan mereka tanpa membuat mereka terluka parah.
"Siapa kalian semua?" teriak salah satu naga yang kuabaikan begitu saja.
Mereka semua bersamaan menembakan bola api ke arahku, tanpa menggunakan sihir semua serangan tidak bisa menembusku.
"Mustahil, siapa orang ini?"
Pada akhirnya aku memukul mereka satu persatu hingga berjatuhan ke bawah, salah satunya mengangkat tangan tanda menyerah saat aku hendak menggunakan pukulanku di wajahnya.
"Ampuni aku."
"Baiklah, tolong bawa kami ke pemimpinmu.. aku punya sesuatu untuk kuberi padanya."
Tentu saja yang kumaksud sebuah pukulan.
Dengan berat hati si naga mengantarkan kami ke sebuah tempat luas dimana sebuah bangunan tinggi tampak berada di tengahnya, para naga membentuk sebuah barisan sementara para Harpy ditempatkan di dalam kurungan raksasa.
Lupin berteriak.
"Aya, ibu."
"Lupin."
Aku segera menahannya untuk mendekat.
Ketiga pelayanku hanya diam memperhatikan sampai akhirnya berbuat kehebohan.
"Mereka semua naga Selly."
"Benar. Naga itu terkenal dengan sifat bodohnya.. mereka buruk dalam menghitung serta membaca."
"Oi."
Mendengar perkataan Selly para naga menunjukkan ketidaksenangannya, terutama naga emas yang duduk di bangunan tinggi tersebut.
__ADS_1
Tamat sudah.
Jika terjadi hal buruk akan kukorbankan dua pelayan ini.