
Pedang Grandbell sepenuhnya telah membeku, karena itu terpaksa aku melepaskannya begitu saja lalu berguling ke samping, tepat saat aku berpikir bisa menghindarinya, semburan es itu mengejarku lalu sedikit mengenai lenganku.
Aku menggunakan sihir api untuk mencairkannya kemudian menggunakan sihir pelindung, sekitar 60 detik serangannya baru menghilang seutuhnya.
"Sialan.... seharusnya dengan serangan seperti itu, kau sudah mati membeku."
Aku membiarkan perkataan tersebut berlalu begitu saja, awalnya aku berniat untuk membunuh Tiamat demi menyelamatkan alam Dewi tapi sekarang tujuan itu berubah.
Jika ingin menyelamatkan dunia sana, aku harus membunuh naga di depanku, pedang Grandbell tidak bisa digunakan dan aku juga ogah untuk menggunakan mata jahat pada pria.
Yang bisa aku lakukan adalah membuat skill baru yang mampu membunuh seekor naga, aku menekan tombol pilihan di menu bar dan itu membutuhkan waktu dua menit sampai skillnya berhasil dibuat.
"Jika kau tidak mau menyerang, maka aku yang akan melakukannya."
Selagi menghindari pukulan Galius, aku terus mendengarkan sistem yang terus menghitung dalam kepalaku, dua menit itu cukup lama jika kau berada di situasi hidup dan mati.
Aku meninju wajahnya, begitu pula Galius membuat gigiku rontok berjatuhan.
"Tunjukan semua kemampuanmu utusan Dewi."
"Tanpa mengatakannya, aku akan menunjukannya.. Hell Fire."
"Ice floor."
Seluruh pijakanku membeku dan aku terjatuh karenanya, karena Galius memiliki kaki cakar yang kuat dia bergerak tanpa kesulitan.
Pukulan samping kiri, kanan kemudian tengah menembus ulu hati lalu membuatku terbang ke langit.
Aku mengarahkan kedua tanganku dan berkata.
"Hell Fire," untuk kedua kalinya, berbeda dari sebelumnya aku tidak perlu takut kehilangan keseimbangan karena aku benar-benar melayang sekarang atau lebih tepatnya terbang ke atas.
__ADS_1
Galius menarik nafasnya dalam-dalam lalu menyemburkan bongkahan es kasar padaku, beberapa membuat kulitku terkelupas sementara sisanya tidak terlalu parah.
Tinggal satu menit lagi.
Galius menekuk lututnya mengirim otot-ototnya hingga merebas beberapa sentimeter pada pijakannya, lalu ia melesat ke arahku dengan kecepatan cosmic.
Kuakui naga adalah petarung hebat.
Dia menghancurkan perisaiku hingga tangannya menembus tubuhku, dari ujung kukunya yang tajam tetesan darah jatuh begitu saja.
"Guakh."
Darah menyembur dari mulutku sebagai efek tambahan.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Galius risau.
"Bukan apa-apa, hanya saja tak kukira aku harus menggunakan tubuhku sendiri sebagai umpan."
Aku memegangi tangannya tanpa membiarkannya terlepas. Kulit naga cenderung tebal dan keras aku bahkan harus repot-repot membuat skill anti naga jika ingin menghabisinya.
Hitungan dimulai.
[Tiga]
"Lepaskan, Sialan..."
[Dua]
"Apa yang kau lakukan?"
[Satu]
__ADS_1
"Terkutuk kau."
[Skill khusus diperoleh]
Pertama aku menggunakan skill [Paralyze] untuk membuat tubuh Galius lumpuh hingga jatuh ke bawah lalu kuaktifkan skill yang sudah kubuat barusan.
"Tarian Hutan Pedang."
Namanya terdengar sederhana.
Puluhan pedang raksasa menyeruak dari dalam tanah kemudian menembus tubuh Galius dari punggung dan membawanya ke atas langit.
"Bwahhh."
Untuk memastikan aku terbang naik ke atas, dan Galius benar-benar telah tewas.
Dengan ini kurasa alam Dewi telah kembali sedia kala, aku turun untuk mengambil pedang Grandbell milikku lalu berjalan ke dekat Tiamat yang terbaring tak berdaya.
"Kau ingin membunuhku?"
"Kurasa aku lebih suka membuatmu memulai hidup yang baru."
"Jangan konyol, aku sudah tidak memiliki masa depan."
Aku melenyapkan kutukan kematian yang diterimanya, untuk sesaat aku menoleh ke arah Nibel yang sedang dirawat oleh Calistha, kurasa dia akan baik-baik saja.
Aku menarik tubuh Tiamat agar berdiri sejajar denganku, walau dia menolak aku akan terus memaksanya hingga kami berdua pergi ke sebuah Dungeon lewat sihir teleportasiku.
Berbeda dengan Dungeon pada umumnya, dungeon ini berada di tengah kota yang hancur bisa dibilang dungeon ini sengaja dibuat seseorang sebagai ruangan bawah kota.
"Bukannya ini?"
__ADS_1
"Benar sekali, ini adalah Wall Abyss," kataku demikian.