
Aku mengayunkan pedang Grandbell untuk menebas lehernya dari samping namun Tiamat menahannya dengan punggung tangan kanannya dan kemudian tangan lain memukul wajah kiriku hingga aku terlempar beberapa meter jauhnya.
Tak hanya kuat, tangannya diselimuti api hingga setengah wajahku sekarang melepuh.
"Hanya untuk manusia sepertimu kau sungguh sombong melawan naga sepertiku."
"Aku ini Dewa bukan manusia."
"Dewa.. berarti semuanya benar-benar kebetulan."
Tanda tanya muncul di kepalaku bertepatan saat aku mencoba untuk memperbaiki postur tubuhku.
"Apa maksudmu?"
"Saat aku menyerang alam Dewi, itu semua murni perbuatan orang lain yang mengirimku ke sana... namun jika sekarang semuanya adalah keinginanku."
"Siapa orang yang kau maksud?"
"Mungkin kau juga akan tahu nanti."
Tiamat memunculkan pedang di tangannya lalu bergerak maju, aku pun melakukan hal sama hingga pedang kami berdua bertubrukan menghasilkan percikan ke udara.
Mari kesampingkan urusan soal orang yang berusaha menghancurkan alam Dewi, yang harus kucari tahu adalah tujuan Tiamat.
Saat pedang kami saling tertahan satu sama lain, aku berkata.
__ADS_1
"Lalu tujuanmu sendiri apa? Susah payah membuat ritual sihir aneh."
"Semuanya demi membangkitkan klan naga yang dulu menguasai dunia ini."
"Apa maksudmu bawahan Hesna?"
"Sepertinya kau belum tahu apapun, dahulu ada dua klan naga yang menguasai seluruh benua... klan naga pertama adalah naga yang mengatakan bisa hidup berdampingan dengan manusia dengan saling memisahkan diri satu sama lain.. dan satu lagi adalah klanku yang bertujuan untuk memusnahkan umat manusia dan mengambil tanah kalian para manusia."
Kami saling menjaga jarak satu sama lain.
Aku selalu berfikir bahwa dunia ini terus-menerus berperang hanya untuk alasan konyol, seperti Alexius yang ingin dipuja-puja orang banyak ataupun raja iblis yang ingin mengambil alih dunia ini seutuhnya.
Jika misal mereka masih hidup sudah jelas mereka hanya akan membawa dunia ini ke dalam kehancuran bahkan jika mereka saling berperang satu sama lain.
Aku bertanya kembali.
"Mereka bukan kalah melainkan mengkhianatiku, awalnya kami berperang satu sama lain hingga banyak korban berjatuhan dipihakku, orang-orangku yang menyadari bahwa kami akan kalah memutuskan untuk menyerah dan bergabung dengan musuh."
Jadi seperti itu.
Akan lebih baik jika Tiamat juga menyerah, sayangnya dia sudah banyak kehilangan sesuatu yang berharga baginya saat memulai peperangan.
"Manusia hanyalah makhluk menjijikkan, mereka menggunakan naga sebagai alat jadi sudah sepantasnya lebih baik kami binasakan."
Itu mengingatkanku saat aku berkunjung ke sebuah reruntuhan di masa lalu. Dulu aku berkeliling bersama pelayanku membunuh para monster di semua Dungeon saat berusaha menciptakan sepuluh cincin kegelapan, dan di salah satu Dungeon terdapat ukiran di mana naga dirantai oleh manusia.
__ADS_1
Dungeon itu di sebut.
"Wall Abyss."
Mendengar pernyataanku mata Tiamat terbelalak kaget.
"Bagaimana kau tahu nama itu?"
"Dulu aku pernah mengunjungi Dungeon di seluruh benua di dunia ini."
"Wall Abyss adalah sebuah tempat dimana para naga berasal dan tinggal, sebelum akhirnya manusia muncul dan menyerang rumah kami."
Entah karena emosi, Tiamat menjelaskan lebih rinci lagi.
Saat itu kedua klan naga bertarung bersama hingga mereka berhasil mengalahkan manusia yang berusaha menyerang mereka, namun sebagian naga tidak terima dan masih memendam kebencian hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menghancurkan seluruh umat manusia agar hal itu tidak terulang lagi.
Itulah alasan kenapa naga terbagi menjadi dua fraksi.
Hesna yang memimpin saat itu memindahkan naga ke tempat lain yang jauh lebih baik, sementara naga lain yang dipimpin Tiamat terus membuat kerusakan pada manusia.
Sebagian manusia memutuskan mengunjungi klan naga yang dipimpin Hesna dan membuat kesepakatan aliansi bersama, sebagai penawaran mereka memberikan informasi tentang pertanian pada klan naga... hingga akhirnya.
Manusia yang beraliansi dengan naga bertarung melawan naga yang dipimpin Tiamat.
Hal itu berlangsung sejak lama dan sekarang masih terus berlanjut sampai sekarang hingga menjadi urusanku juga.
__ADS_1
Dunia ini benar-benar tidak memberikanku kedamaian.