
Iblis ketiga yang harus kami hadapi adalah iblis yang menyerupai ular raksasa, dia melingkarkan tubuhnya untuk membelit seluruh kota menjadi satu, di sekelilingnya terdapat gas beracun yang memungkinkan seseorang tidak bisa mendekatinya tentu saja itu tidak berlaku untukku.
Aku berjalan santai di dalam asap keunguan selanjutnya ular itu menjadi debu dan hancur dalam sekejap.
Olien berkata ke arah Cleo.
"Apa kau merasa aneh juga? Kenapa mengalahkan iblis terlihat sangat mudah."
(Entahlah, guru kita mungkin manusia langka)
"Mungkin begitu, tapi aku senang semuanya baik-baik saja."
(Iya)
Kota ini tidak bisa ditinggali lagi, karena itu kami langsung ke lokasi berikutnya. Ketika malam tiba kami semua memutuskan tidur di dalam dimensi bersama para peri, aku juga membawa kereta kami.
Selagi menikmati teh aku memperhatikan semua orang yang sedang berpesta.
Tingkerbel yang terbang di sisiku berkata.
"Bukannya mereka sangat manja."
"Kurasa tak apa jika meminjamkan pahaku sebagai bantal untuk mereka berdua... di masa lalu mungkin mereka telah mengalami hal sulit bersama, aku ingin mengajarkan mereka cara melindungi diri sendiri, agar mereka bisa bahagia di masa sekarang dan masa depan nanti.
Tingkerbel yang memperhatikan hanya tersenyum kecil lalu mengubah topik pembicaraan.
"Kami para peri selalu diburu oleh manusia dan hewan buas? Aku pikir kami adalah peri terakhir yang ada."
"Karena belum melihat bukan berarti tidak ada, aku yakin di luar sana ada banyak peri seperti kalian."
"Kuharap begitu."
Manusia biasa menangkap peri untuk mengambil sayap mereka lalu dijadikan sebagai obat serta bahan untuk memperkuat perlengkapan. Walau wanita itu memperkerjakan peri seperti itu paling tidak dia telah melindungi peri yang sekarang bersamaku.
__ADS_1
Karena itu saat pergi dari hutan Lavender aku diam-diam meletakan sekantong uang di dalam rumahnya, aku yakin dia sudah membuat tempat pariwisata yang luas bersama para kelinci.
Aku kembali menyeruput tehku selagi mendengarkan alunan musik yang dimainkan para peri ini hingga tanpa kusadari telah tertidur pulas.
"Guru saatnya kembali berpetualang?"
"Kalian sudah bangun rupanya."
Aku sudah tidak peduli mereka memanggilku seperti apa.
"Aku akan mencuci muka dulu."
Saat aku hendak berdiri kedua pendeta ini mencium pipiku di waktu bersamaan.
"Terima kasih."
(Terima kasih)
"Apa kalian salah makan sesuatu?"
(Baik)
Aku hanya tersenyum melihat keduanya, kemudian membasuh wajahku untuk melanjutkan perjalanan kami kembali.
Kereta muncul kembali tepat di kota yang sebelumnya, dari sini perjalanan akan sedikit jauh karena itu kami harus membeli beberapa bahan pokok di desa terdekat.
Sesampainya di sana tidak ada siapapun yang berada di dalamnya. Cleo menggelengkan kepalanya saat dia memeriksa rumah terakhir.
"Begitu, apa boleh buat... Kita akan pergi dengan sihir teleportasiku."
"Bukannya sihir itu hanya bisa digunakan setelah penggunanya pernah pergi ke tempat tersebut."
"Soal itu aku sedikit berbeda."
__ADS_1
Kami dengan sekejap berpindah tempat ke kota tujuan kami, berbeda dari sebelumnya di sini sangat ramai.
"Tuan, tunggu sebentar."
Tiba-tiba saja ada seorang pemuda yang berlari mendekatiku yang sedang mengendalikan kereta.
"Apa kau berasal dari luar daerah?"
"Benar."
"Apa kau melewati desa sebelum kemari?"
"Benar, bagaimana keadaannya?"
"Tidak ada siapapun di sana."
"Kau yakin."
"Sangat yakin."
"Begitu."
Pemuda itu langsung terdiam, tak lama kemudian seorang pria paruh baya mendekatiku dan mengatakan hal sama.
Tentu jawabannya sama.
Tak lama kemudian.
Pria yang lain muncul kembali.
Lagi.
Dan lagi
__ADS_1
Sebenarnya apa yang terjadi?