Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 199 : Kejutan


__ADS_3

Di luar rumah aku membantu memotong beberapa kayu yang akan kami gunakan untuk mandi air panas.


Aku mengayunkan kapakku dan bongkahan kayu terbelah jadi dua bagian.


Amnestha dan Gabriela yang berjongkok di belakangku hanya menatap kosong selagi bertepuk tangan.


Sikap mereka benar-benar menyebalkan.


Aku kembali membelah kayu-kayu lalu mengumpulkannya ke dalam keranjang, paling tidak aku ingin memotong bongkahan kayu ini agar bisa dipakai selama seminggu.


Sebanyak itulah yang ingin kulakukan.


Ketika aku asyik dengan ini, suara Rin tiba-tiba terdengar hingga mengagetkanku.


"Ayam.. ayam."


Amnestha dan Gabriela yang menonton juga ikut berteriak, " Ayam, ayam," selagi tertawa.


"Kau mengagetkanku."


"Maaf soal itu, aku sudah membawa pria ini."


"Di mana istri dan anakku?'


"Mereka ada di dalam."


Pria itu langsung berlari dan masuk ke dalam rumah, bahkan dari luar aku bisa mendengar tangis haru mereka.


"Waktunya kembali bekerja lagi."


Rin diam di sampingku selagi memainkan jarinya dengan malu.


"Tuan soal itu?"


"Ah benar, silahkan minum darahku."


Rin langsung memelukku dan menjatuhkan tubuhku ke atas tanah yang dingin, dia melakukan hal sama seperti dia lakukan pada Amnestha akan tetapi lebih agresif.


"Uwwaaahh... ini terlalu ekstrem, Gabriela, Amnestha, selamatkan aku.. dia merobek pakaianku dan menjilati seluruh tubuhku."

__ADS_1


Keduanya mengalihkan pandangan dariku.


"Kayu bakarnya sudah siap, mari mandi Amnestha."


"Benar, aku juga perlu bersantai."


"Kalian berdua?" teriakku, tapi tidak ada yang menyelamatkanku.


Rin menggigitkan kedua taringnya di leherku dan aku meletakkan kedua tanganku di pinggangnya.


Aku juga harus mengambil kesempatan jadi aku meraba-raba punggungnya dan turun ke bagian bawahnya.


"Aku tidak keberatan dengan hal seperti ini, hanya saja aku bisa mati, hentikan Rin, kau terlalu banyak meminum darahku."


"Aku akan menjaganya tetap di batas normal, mungkin akan sedikit pusing setelahnya."


"Itu bukan ide bagus."


Rin terdiam seolah sesuatu membuatnya tidak nyaman.


"Ada sesuatu yang menusukku," katanya polos.


Aku yakin ini pertama kalinya dia menghisap seorang pria.


Mungkin ini yang disebut karma.


Itu membuatku sedikit trauma.


Sementara orang yang melakukannya tidur dengan nyenyak bersama kedua pelayanku yang lain.


Mulai sekarang aku akan berhati-hati agar Rin tidak terangsang.


Pagi berikutnya sinar matahari cerah menerpa wajahku yang bangun tidur, udara di sini sedikit terasa hangat.


Tiba-tiba saja Gabriela keluar dengan wajah panik.


"Tuan, mereka hilang."


"Mereka?" aku memiringkan kepalaku.

__ADS_1


"Rania dan ibunya."


"Mana mungkin mereka menghilang, mereka mungkin jalan-jalan."


"Tidak, kami sudah mencarinya," suara itu berasal dari Rin yang muncul bersama Amnestha.


Mereka muncul dari luar.


Aku diam sejenak lalu berkata.


"Orang itu menculik istri dan anaknya sendiri, sial."


"Jadi benar yang aku katakan," atas pernyataan Rin, aku mengangguk mengiyakan.


Rin sempat mengatakan bahwa aroma monster tercium dari tubuh pria itu, jadi untuk berjaga-jaga aku memintanya meletakan sesuatu yang bisa kami gunakan untuk melacaknya yaitu darah Rin sendiri yang ia tempelkan di punggung bajunya.


"Rin kita pergi."


"Baik."


Rin merangkul tanganku dan selanjutnya kami berdua menghilang dan muncul tepat di depan pria itu yang sedang menggusur istri dan anaknya dengan kereta luncur.


Aku melihat dada mereka naik turun, yang berarti mereka masih hidup.


"Apa-apaan ini paman? Aku pikir kau ingin bertemu dengan istri dan anakmu tapi yang kulihat malah berbeda."


Dia mendecapkan lidahnya.


"Alasan aku ingin menemukan mereka adalah untuk mengorbankan mereka pada Tarantula, dengan begitu aku bisa memiliki banyak uang dan hidup dalam kemewahan, akhirnya kesabaranku akan membuahkan hasil."


"Tarantula, maksudmu laba-laba besar?"


"Bukan hanya laba-laba, dia adalah iblis agung yang memberikan kami kekuatan."


Pria itu melepaskan pakaiannya menampilkan tato hitam bermotif laba-laba.


"Sepertinya Tarantula itu bermain-main dengan manusia," ucap Rin maju selagi mengeluarkan cakar dari tangan kanannya.


"Terserahlah, kalian tidak akan tahu apapun, akan kubunuh kalian berdua."

__ADS_1


Saat pria itu maju, kedua tangannya terputus begitu mudahnya oleh Rin, pria itu membelalakkan matanya kaget hingga tubuhnya merosot ke bawah.


"Jangan khawatir, setelah ini kami juga akan membunuh laba-laba itu," bertepatan saat aku mengatakan itu, kepala pria itu telah terbang ke udara dengan darah memuncrat ke sekelilingnya membuat warna putih dari salju berubah menjadi merah.


__ADS_2