
Di lantai 60 Dungeon yang seluruh areanya disinari cahaya dari kristal mereka berempat berisitirahat, ada sebuah mata air yang bisa mereka minum untuk melepaskan dahaga.
Pireta menggunakan sihir penyimpanan untuk mengeluarkan berbagai makanan yang dia beli, walau di dalam Dungeon udara dingin tidak menembus ke dalam sana, di sisi lain Luis menatap Pireta kesal.
"Jika kau bisa melakukan ini, seharusnya kau juga menyimpan perbekalan yang kubawa ini."
"Kukira kau lebih senang membawanya sendiri."
"Kau sengaja, sialan."
"Tae-hee."
Arthur dan Clara yang memperhatikan hanya memandang pahit ke arah Pireta yang tersenyum manis, kata yang bisa keduanya katakan hanyalah.
"Dia laki."
Selagi menikmati makanan mereka Clara mulai menceritakan berbagi cerita yang dia dengar di desa, entah itu cerita menyeramkan atau sedih semuanya sangat bagus. Clara memiliki kemampuan untuk berbuat orang simpati padanya bahkan ketiga orang yang mendengarkan ceritanya tanpa sadar memberikan uangnya pada Clara.
"Terima kasih."
"Oi."
Mereka berteriak secara bersama lalu merebut uang mereka kembali.
"Sedikit bercanda di Dungeon memang menyenangkan," kata Clara sedikit jahil, mereka berempat saling bergiliran tidur, dua orang dua orang, ketika mereka sudah mendapat gilirannya maka perjalanan kembali dilanjutkan.
Meski monster tidak sebanyak yang dipikirkan tetap saja mereka harus waspada, beberapa slime terlihat berkerumun memakan daging busuk yang ada di dalam Dungeon lantai 60, slime di alam liar berfungsi sebagai pengurai juga, karena itu dungeon selalu terjaga baik dalam pemeliharanya walaupun yang mereka larutkan adalah tubuh manusia.
"Aku ingin muntah," kata Pireta lalu disusul Clara.
"Itu bukti bahwa seberapa amannya Dungeon kita bisa mati jika ceroboh."
"Aku bisa mengerti itu."
__ADS_1
Luis melompat untuk menghajar lipan yang muncul dari belakang, berkat beban yang telah hilang di punggungnya dia bisa bergerak lebih cepat dari sebelumnya, belakang dan depan mirip sebuah setrikaan.
"Bukannya Luis terlihat seperti kepiting sekarang."
"Pura-pura saja tak melihatnya," balas Clara ke arah Arthur.
"Terima ini kalian."
"Fire Bolt."
Kombinasi ramuan Clara dan sihir Pireta telah membawa keduanya menuju lantai 70, dari sini lawan yang mereka harus kalahkan hanyalah kecoa dan kecoa.
"Dungeon ini tidak memiliki variasi monster yang bagus, bagaimana menurutmu?"
"Kecoa menakutkan."
"Kau ini pria bersikaplah seperti pria," teriak Arthur melompat ke atas kecoa selagi memberikan tebasan dari pedang perunggu dan pedang baru.
Karena penasaran Luis bertanya.
"Menurutku pedang perunggu tidak sekuat pedang satunya lagi, kenapa kau masih menggunakannya?"
"Ah, pedang ini dibelikan oleh Clara, benda berharga yang akan aku selalu jaga sampai kapanpun... sebenarnya pedang ini juga."
"Kau, malulah sedikit."
Istirahat, kemudian melanjutkan perjalanan dan sesekali menambang kristal, itulah yang mereka lakukan dalam beberapa hari berikutnya atau sejujurnya hanya itu yang mereka bisa lakukan.
Dalam perjalanan ke lantai 100, Arthur membuka catatan yang diberikan oleh penjaga sebelum mereka masuk ke dalam Dungeon.
Pireta berkata dengan jarak dekat yang mana membuat Arthur menguatkan dirinya.
Dia laki, laki, laki, laki.
__ADS_1
Bagaimanapun melihatnya Pireta jelas lebih cantik dari wanita di akademi, ini membuat sebuah pria akan menangis termasuk Arthur sendiri.
"Kenapa kau menangis, kau tidak bisa membacanya kan?" kata Luis.
"Aku sedang mengenang masa lalu, lupakan soal itu.... sepertinya di lantai 100 ada ruangan rahasia."
Clara yang melihat dari belakang mendesah.
"Ini pasti sengaja dibuat oleh orang yang yang membuatnya."
"Kau ini bicara apa."
"Paling tidak kuharap ada harta karun di sana."
Setelah menemukan banyak lubang untuk dilalui akhirnya mereka sampai ke tempat yang dimaksud di dalam kertas, saat mereka tahu bahwa ada kolam air panas mereka langsung terkejut karena sosok yang ada di dalam kolam itu.
"Yo, kalian datang kemari juga."
"Heh.."
Bagaimanapun orang yang mereka lihat adalah orang yang membuat mereka berada di akademi Kazuya Haru.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Arthur.
"Yah, aku sering datang kemari.. Aku sempat kehilangan banyak kemampuanku syukurlah aku bisa membeli skill Teleportasi lagi, kalian mau mandi?"
Clara segera melepaskan pakaiannya lalu masuk ke dalam kolam, dia mengenakan pakaian renang jadi itu bukan masalah, yang jadi masalahnya adalah keberadaan sosok Pireta.
"Anu, jangan melihatku seperti itu."
Entah Luis, Arthur atau Kazuya ketiganya hanya bisa berkata.
"Dia laki."
__ADS_1