Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 382 : Di Balik Masa Lalu


__ADS_3

Aku bertanya pada Iris yang duduk di lantai selagi mengupas jeruk di meja kecil.


"Apa kau mau makan bubur?"


"Bubur orang sakit rasanya tidak enak."


"Jangan khawatir, aku akan memasukkan daging dan telur kedalamnya serta beberapa jamur juga."


"Kelihatannya enak, tapi bubur juga tidak cukup."


"Aku mengerti, Iris memiliki perut besar."


"Jangan mengejekku."


Dia terlihat imut saat mengembungkan pipinya, beberapa menit berlalu aku menghidangkan seluruh makanan yang kubuat, kebanyakan adalah bahan yang dibawa oleh Iris, seperti salad, belut bakar, sup kentang serta bubur itu sendiri. Karena ada bahan sisa kubuat puding juga sebagai makanan penutup.


Iris mencicipi buburnya kemudian disusul yang lainnya, ekpresinya tampak bahagia.


"Enak sekali, dua jempol untukmu."


"Syukurlah kalau kau menyukainya."

__ADS_1


Aku mengambil sumpit untuk memakan belut yang kubuat, saosnya tidak mengecewakan.


"Nah Redo, boleh aku bertanya sesuatu tentangmu?"


"Panggil saja Kazuya, jadi apa yang ingin kau tanyakan?"


"Kenapa kau bertingkah seperti orang mesum padahal kau tidak seperti itu, kau selalu menjaga jarak dari petualang wanita bahkan terlihat seperti kau memperlakukan mereka dengan baik... bahkan jika mau sekarang kau bisa menyudutkanku ke tembok dan melakukan hal mesum."


Aku menaruh sumpitku.


"Kau menyadarinya?"


"Dari awal terasa aneh."


Aku selalu memperlakukan wanita dengan baik dan menjaga kehormatan mereka tanpa melecehkannya.


"Apa kau mau sedikit mendengar kisahku saat masih kecil?'


Iris mengangguk mengiyakan.


"Saat masih kecil aku kehilangan orang tuaku karena serangan monster, saat itu aku hidup sendirian dan kesepian di desa namun dari semua teman laki-lakiku, ada satu orang yang tidak pernah membuatku merasakan hal tersebut. Walau dia terkesan bodoh dan mesum dia adalah orang yang baik yang selalu membuat sekelilingnya ikut bergembira. Suatu hari aku pergi ke hutan untuk menemui seorang wanita bernama Aurora, dia seorang petualang yang tinggal di dekat desaku sementara waktu... saat itu dia memutuskan untuk pergi dan aku mengantarnya... semuanya baik-baik saja namun saat aku kembali ke desa, desa itu telah terbakar habis, di sana aku melihat tubuh temanku terbakar begitu saja, karena dia sudah meninggal aku tidak bisa berbuat banyak... dengan bersikap mesum aku ingin paling tidak mengingatnya selama hidupku dan tanpa kusadari aku jadi terbiasa hehe... loh, kenapa kau menangis?"

__ADS_1


"Habisnya, habisnya, itu sangat sedih dan menyentuh."


Aku hanya tersenyum masam selagi menggaruk rambut belakangku.


Alasan kenapa aku tidak pergi dari rumah ini karena ini mungkin adalah terakhir kali aku menemui Iris, bagaimanpun aku telah meninggalkan tanggung jawabku sebagai kepala desa, suami, serta seorang ayah selama beberapa minggu. Sudah waktunya aku kembali ke rumahku yang sebenarnya.


Aku duduk berseiza selagi memegang lututku untuk membungkuk kepada Iris.


"Kenapa kau bertingkah sopan?"


"Aku akan kembali ke desaku sekarang setelah menjemput para Siren di kediaman Scarlet, terima kasih untuk semuanya tolong sampaikan permintaan maafku pada semuanya."


"Semua orang di guild sudah tahu suatu hari kau akan pergi, tapi kenapa kau tidak berpamitan langsung saja?"


"Aku mungkin akan sulit untuk pergi."


Iris tersenyum kecil lalu membungkuk ke arahku seperti yang kulakukan. Aku langsung terkejut dibuatnya.


"Apa yang?"


"Maaf atas keegoisanku ini, mohon bawa aku juga bersamamu."

__ADS_1


Berbeda dengan wajahku yang kebingungan, wajah Iris dihiasi dengan senyuman nakal. Rasanya seperti seseorang meminta kawin lari denganku.


__ADS_2