
Pusat pemerintahan ibukota Harnes.
Di ruangan rapat itu.
"Beberapa kota kita sudah hancur, jika begini terus kekaisaran Harnes akan jatuh."
"Jaga ucapanmu, kekaisaran kita tidak akan jatuh.... kita masih bisa melawan, kita hanya harus tahu siapa pelaku sesungguhnya dari semua ini dan makhluk apa yang kita hadapi."
"Itu benar, yang mulia ratu... izinkan pasukanku untuk memimpin pengintaian."
"Ratuku, biar aku saja."
Tepat saat mereka berdebat siapa yang maju seorang pria dengan topeng monster tiga mata muncul di depan mereka, topeng itu adalah topeng yang sama yang dulu digunakan Kazuya.
"Siapa kau?"
Pria di depan mereka memiliki rambut perak dengan pakaian serba hitam, dengan ringan dia menciptakan tombak besi di tangannya secara berurutan dan lalu menusukannya ke semua orang kecuali ratu yang hanya berdiri dengan wajah terkejut.
Pria itu membuka topengnya menampilkan wajah yang tidak asing baginya.
"Skargo."
"Lama tak bertemu ibu."
"Jadi kau yang mencoba menghancurkan kekaisaran ini."
"Tepat sekali, ini adalah balasan karena kau tidak mau memberikan tahtamu padaku dan malah mengusirku begitu saja... akulah satu-satunya pewaris yang kau miliki tapi kau malah berniat untuk menjadikan kekaisaran ini menjadi pemerintahan militer, itu sangat gegabah?"
"Lebih baik seperti itu dibandingkan menyerahkan padamu, kau suka bermain dengan wanita terlebih kau mampu membunuh siapapun yang kau inginkan."
"Itu wajar..... karena aku ini seorang Dewa, jika aku bilang mereka mati maka kematianlah yang mereka dapatkan."
"Ingat ini Skargo, di atas langit akan selalu ada langit kau tidak akan pernah menjadi Dewa."
__ADS_1
"Tepatnya aku sudah menjadi Dewa itu sendiri, akan kubuktikan semua itu padamu.. ibu. Akan kujatuhkan seluruh kekaisaran ini dan memulai perang dengan daratan."
"Kau akan menyesalinya."
"Tidak, ibu yang akan menyesalinya karena tidak menjadikanku seorang kaisar tertinggi."
Setelah membunuh 10 orang, pria bernama Skargo lenyap dalan sekejap digantikan seorang prajurit yang menerobos masuk.
"Yang mulia rat..."
Prajurit itu tampak terkejut hingga memuntahkan seluruh isi perutnya, begitu juga ratu tersebut.
Bagaimanapun seluruh komandan itu dibunuh dengan tragis, darah menggenang di lantai bersama organ tubuh mereka yang terdorong ke belakang punggung mereka karena sebuah tombak.
"Ada apa?"
"Ada laporan dari nona Kelly."
"Akan kulihat."
"Tolong panggil Britania kemari."
"Ba-baik."
"Kurasa dengan bantuannya, kami bisa menyelamatkan negeri ini."
***
Aku sedang duduk di kedai saat tiba-tiba hidungku gatal dan bersin.
"Apa kau masuk angin?" tanya Rima.
"Kurasa begitu, perjalanan kemari sangatlah jauh, tubuhku rasanya mulai terasa sakit apalagi bagian kepalaku terasa berat."
__ADS_1
"Itu karena Dorothy merubah wujudnya jadi manusia dan duduk di kepalamu."
"Apa? Cepat turun Dorothy," teriakku.
"Meong."
Bellatrix yang dari tadi fokus pada makanannya kini terganggu dengan pandangan orang lain.
"Mungkin perasaanku saja, tapi semua orang sedang menatapku."
"Wajar saja, tanduk dan ekormu terlihat."
"Jadi itu haha, akan kusembunyikan."
Orang lain pasti akan menganggap kami kelompok yang aneh, selagi menangis aku memakan mie keringku yang lezat.
Saat aku mengalihkan pandangan untuk minum air, mie itu habis dalam waktu singkat.
"Jadi siapa yang dari kalian yang menyolong mieku?"
"Aku tidak tahu."
"Aku juga."
"Meong."
Lebih tepatnya mereka semua sedang menjahiliku, ketika aku akan mengambil makanan mereka, seorang lebih dulu memegangi bahuku.
"Yo kawan, aku melihatmu tadi... kau sangat hebat."
"Kau mungkin salah orang."
"Tidak, tidak, aku yakin dengan penglihatanku... kau mengalahkan burung yang tidak bisa dikalahkan para penjaga."
__ADS_1
Semua orang kini mengalihkan pandangannya kepadaku dengan rasa kekaguman, sekarang aku malah lebih menarik perhatian semua orang dibanding ketiga orang yang duduk di meja yang sama denganku.