Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 288 : Pekerja Baru


__ADS_3

Menyelesaikan ceritanya di sana, Zeper dan Suhen memutuskan tidur sebelum larut malam, baru keesokan harinya bertepatan saat matahari tiba kelompoknya sudah berdiri di luar desa dengan persiapan matang.


Belalang hanya makhluk kecil, melawannya akan sedikit menyulitkan.


Bertepatan itu, para belalang mulai terlihat dari kejauhan, mereka terbang membentuk dirinya seperti sebuah pusaran badai, jika menghitungnya cepat ada lebih dari 1.000 ekor di dalamnya.


"Mengalahkan tanpa menghancurkan tubuhnya pasti menyulitkan, kita hanya harus membakarnya dengan sihir api saja."


"Itu memang lebih mudah, hanya saja kita harus menunjukkan ke semua orang bahwa mereka juga bisa dijadikan makanan agar hal seperti ini tidak terjadi di masa depan," balas Zeper atas pernyataan Virda.


"Paling tidak mereka tidak menyerang manusia," tambah Lusy dan Suhen mengangguk mengiyakan sebelum akhirnya mereka melangkah maju.


Beberapa belalang memakan tanaman hijau yang mereka lewati sementara sisanya terus terbang ke desa.


Lusy memunculkan dua lingkaran sihir di tangannya demi menembakan kilatan cahaya yang mampu memotong tubuh mereka hingga berjatuhan di tanah.


Suhen yang tidak pandai menggunakan sihir serangan menggunakan jaring untuk menangkap mereka sebelum akhirnya memasukan mereka ke dalam air panas dalam gentong.


Cara ini lebih mudah dilakukan.


Penduduk desa yang melihat dari kejauhan akhirnya memutuskan untuk membantu, hanya Virda saja yang diam selagi mendesah pelan.


Baginya ini sesuatu yang membosankan.


"Kenapa kau tidak menyerang mereka?" tanya Zeper.


"Kekuatanku hanya bisa melenyapkan mereka sekaligus, aku kesulitan meniru cara kalian."


"Jika begitu kuserahkan sisanya."

__ADS_1


"Itu jauh lebih baik," ucap Virda tersenyum senang sebelum memunculkan pedang Grandbell di tangannya.


Asap hitam menyebar dari ujung pedangnya menelan sekelilingnya, orang-orang mulai berhenti karena merasakan kegelapan tersebut.


Melihat itu, akhirnya kelompok Zeper mengetahui satu hal, alasan kenapa Virda diberikan pada kelompok mereka adalah untuk menjaga Virda agar tidak seenaknya mengeluarkan kekuatannya.


Saat semua orang terdiam belalang yang terbang di langit terbakar dengan api hitam.


"Sudah selesai."


Pedang di tangan Virda mulai menghilang dan seketika ekpresinya kembali sedia kala, Zeper berbisik ke arah Lusy.


"Semua menjadi ketakutan, lakukan hal itu."


"Dengan senang hati."


Lusy kembali menangkap dada Virda hingga dia mengeluarkan suara aneh.


"Kenapa kau terus menyentuh dadaku."


"Biarkan aku merasakannya."


"Hentikan."


Penduduk desa sedikit terlihat lebih rileks dari sebelumnya.


***


Masih berada di dalam ruanganku, aku akhirnya menyelesaikan pekerjaanku juga, selagi meregangkan tanganku sebuah ketukan terdengar dari pintu.

__ADS_1


"Masuk."


Yang muncul dari balik pintu itu adalah wanita berambut pirang yang cantik, ia membawa koper besar di tangannya serta mengenakan gaun terusan panjang.


"Aku lelah sekali," walau dia mengatakan itu, ekpresinya lebih terlihat gembira.


"Lama tak bertemu Kazuya."


"Akhirnya kau sudah datang, Zeper pasti akan senang melihatmu."


"Benarkah? Tapi kurasa hati seseorang akan berubah seiring waktu."


"Jangan khawatir... orang itu masih tidak berubah sejak datang ke toko tempatmu bekerja."


"Kuharap begitu, saat di kota awal aku ingin menyapanya lebih banyak tapi kau malah melarangku... aku ingin memulai semuanya dengan pelan sekarang."


"Mau bagaimana lagi, itu adalah keputusan Zeper... aku tidak bisa berbuat lebih banyak."


"Lalu apa pekerjaanku?"


"Mulai sekarang kau akan menjadi sekertarisku dan membantuku untuk mengawasi desa berama yang lainnya."


"Sekarang aku merasa tidak aman, aku benar-benar tidak boleh lengah di dekatmu."


"Sudah kukatakan aku lebih memilih mati daripada melakukan hal itu padamu."


"Ugh... jawabanmu tidak berubah."


Aku berdiri lalu mendekat selagi mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengannya.

__ADS_1


"Selamat datang di desaku, Isabel."


"Aah, mulai sekarang tolong bantuannya Haru Kazuya," balasnya tersenyum hangat.


__ADS_2