
Rin dan pasukannya muncul langsung di sebuah medan perang, beberapa orang tampak kebingungan saat dipindahkan ke sebuah hutan meski begitu mereka segera menenangkan diri mereka lalu menarik pedang bersama-sama.
Tepat saat itu, pohon-pohon tumbang dan dari belakang mereka para robot bermunculan secara serempak.
"Mereka semua ada di sini, jika kalian melihat pemimpinnya jangan berani melawannya biar aku yang menghadapinya sendiri."
"Baik."
Walau ucapan Rin terkesan arogan tidak ada siapapun yang mempermasalahkannya, jika tuannya orang hebat sudah jelas pelayannya juga.
Semua orang mengaktifkan pelindung mereka lalu menerobos ke depan dengan berlari.
Rin juga melakukan hal sama hanya saja dia memilih untuk terbang ke langit demi mencari pemimpinnya, dengan pandangannya dia melihat tiga orang yang merupakan Mr.A. Mr.B. dan juga Mr.C.
Mereka manusia dengan kata lain mereka memiliki darah, hanya dengan itu Rin sudah cukup untuk mengalahkan mereka.
Rin menukik ke bawah tepat saat ketiga Mr. itu menyadarinya tangan Rin menembus dua diantaranya... saat tangannya ditarik darah dari orang yang dia lukai menjadi pedang.
Mr.A dan Mr.B tidak berkutik sebelum akhirnya ditendang ke samping oleh Rin sementara Mr.C ditebas oleh dua pedang Rin hingg tubuhnya terpotong dua bagian.
"Kenapa dia bisa melukai kita, bukannya Garius telah memberikan kita kekuatan yang kuat," ucap Mr.A yang mendapat ketidaktahuan Mr.B.
Tubuh mereka hanya kuat terhadap lawan yang lemah dibandingkan mereka jika lawannya sekelas Rin itu jelas suatu yang sulit.
__ADS_1
Mr.A dan Mr.B menerjang ke depan, hentakan keduanya menciptakan retakan di bawah tanah sampai keduanya menggerakkan tinju mereka dengan kecepatan tinggi.
Bagi Rin itu masih terlihat, dengan lihai Rin melewati serangan tersebut lalu.
Wus.
Dengan gerakan cantik dia telah berdiri di belakang mereka.
"Apanya kekuatan? Omong kosong... kita masih kalah."
"Guakh."
Keduanya menyusul kematian Mr.C yang lebih dulu dikalahkan.
Di sisi lain pertarungan Amnestha lebih terlihat bermain-main, dia harus melawan Mr.D Mr.E dan Mr.F yang ketiganya memiliki serangan kombo.
"Kalian terlalu lemah," ucap ringan Amnestha selagi melirik para robot yang telah dikalahkan pasukannya.
Sementara untuk pertarungan Gabriela dia terbang di langit menggunakan sayap putihnya hingga musuhnya kesulitan menyerang.
Mr.G yang sedikit frustasi menghancurkan bebatuan di sekitarnya kemudian melemparkannya satu persatu ke arah Gabriela yang menatap dengan pandangan bermasalah.
"Apa kalian benar-benar kuat?"
__ADS_1
"Sialan kau, akan kutunjukan kekuatan sejati dariku."
Mr.G mengangkat batu yang lebih besar dari tingginya, dia memutar-mutar tubuhnya lalu melemparkannya ke arah Gabriela hingga meledak dahsyat. Serpihannya jatuh ke bawah sungai di bawah Grabriela hingga memunculkan riak-riak air ke atas.
Para pasukannya sedang bertarung ketat dengan para robot, sebaiknya dia juga harus menyelesaikan pertarungannya lalu membantu mereka.
Jika salah satu anggotanya mati, Gabriela akan frustasi pasalnya dirinya telah berjanji untuk tidak membuat seseorang mati di pertempuran ini walaupun sebenarnya Kazuya tidak mempermasalahkannya.
Semua orang yang berada di medan perang semuanya orang-orang yang siap mati demi negaranya.
Ini murni hanya karena Gabriela ingin mendapatkan pujian saja.
"Apa kau takut? Turunlah hadapi aku secara langsung."
Gabriela melebarkan sayapnya.
"Bagiku kau tidak ada apa-apanya."
Bulu-bulu dari sayap Gabriela berjatuhan dengan kecepatan kosmik hingga menancap di tubuh Mr. G.
Selanjutnya.
"Boom"
__ADS_1
Tubuh itu meledak.
"Bagiku kau sangat lemah, sekarang kalahkan pasukan robotnya," ucap senang Gabriela.