
Semenjak aku mengirimkan surat ke dewan penyihir, aku maupun Valesta hanya menunggu selagi menghabiskan waktu santai.
Aku biasanya akan pergi ke alun-alun kota untuk menyaksikan orang-orang berlalu lalang, akan tetapi di hari ketiga seluruh pasukan anggota dewan penyihir mengepungku.
Aku kira yang akan datang salah satu dari mereka, sayangnya yang muncul hanyalah Hornes yang sebelumnya aku kalahkan.
"Kau datang untuk kalah lagi? Aku sama sekali tidak memiliki urusan denganmu," kataku mengejek bertepatan saat orang-orang melarikan diri dari sekitarku.
Valesta terlihat muncul dari belakang orang yang mengepungku, dia baru saja membeli eskrim dan aku minta untuk tidak bergerak dulu.
"Sekarang aku berbeda dari waktu itu, sekarang aku akan mengalahkanmu serta mengambil Valesta dan menyeretmu dengan dua tangan terputus."
Itu terdengar terlalu kejam.
"Serang dia."
Aku menggunakan sihir angin dan mereka semua terbang ke segala arah dengan mudahnya. Hornes tersenyum pahit selagi mengeluarkan suntikan aneh di dalam saku bajunya.
"Dengan ini aku akan memiliki kekuatan luar biasa hingga mampu mengalahkanmu dalam sekejap."
"Apa itu?"
Valesta yang menyadarinya berlari untuk menghentikan Hornes sayangnya dia terlambat hingga tubuhnya terlempar ke udara bersamaan asap yang mengepul ke udara.
Oi, oi, ini bukan manga Attack Of Titan, jangan bilang dia berubah jadi raksasa.
Saat aku memikirkan hal buruk yang akan terjadi, sosok Hornes memang berubah hanya saja bukan menjadi raksasa melainkan sosok yang menyerupai sihir dewa milik Valesta akan tetapi kekuatannya terlihat tidak stabil.
Rambut Hornes berdiri ke atas dengan warna emas selaras dengan pakaiannya, di belakangnya ada sebuah piringan yang memiliki bilah bercahaya.
"Itu?"
Valesta yang muncul dari sampingku menjelaskan.
__ADS_1
"Sihir dewa buatan, pada dasarnya hanya 8 orang saja yang diberikan sihir ini namun, salah satu dewan penyihir bernama Laura mulai mencoba melakukan ekpresimen untuk membuat tiruannya sayangnya suntikan barusan masih dalam uji coba."
"Nah, Valesta mari satukan kekuatan dan habisi orang jahat ini... jika dibiarkan dia akan menghancurkan wilayah kita."
"Kau salah paham, orang ini bukan orang yang seperti itu? Dia memiliki alasan."
"Apa? Kau sepertinya telah dicuci otak, baiklah... akan kuhabisi dia dulu, sebelum menyadarkanmu."
"Hentikan Hornes."
Valesta berdiri di depanku untuk menghalangi serangan Hornes, sebagai akibatnya wajahnya terhantam pukulan membuatnya terhempas sejauh lima kilometer menabrak setiap bangunan yang dia lewatinya.
Aku mengirim tinjuku pada Hornes dan dia mampu menahannya walau sedikit mundur beberapa langkah dari tempatnya semula.
"Apa yang kau lakukan? Bukannya dia temanmu?"
"Orang yang berkhianat harus menerima hukumannya, jika setelah ini dia tak mau meminta maaf, aku juga terpaksa membunuhnya."
Aku melirik ke arah salah satu menara tertinggi di kota ini dan kulihat seorang wanita berpenampilan seperti ilmuwan tersenyum selagi mendorong kacamatanya.
Rambut ungunya berkibar tertiup angin bersamaan kumpulan merpati yang berterbangan di belakangnya.
Sebelum mengalahkan Hornes aku tidak punya kesempatan untuk mengalahkannya.
Di sisi lain Hornes semakin lama semakin kuat.
Dia menerbangkan piringan yang ada di belakangnya hingga dari lubang di tengahnya, itu menembakan sinar mirip laser.
"Shield."
Prang.
Bahkan sihir pertahananku hancur berserakan.
__ADS_1
Aku mencari keberadaan Hornes dan ia sudah berada di belakangku.
"Lambat."
Dengan piringan di tangannya dia menebasku yang mana memuncratkan darahku ke udara, tak hanya berhenti di sana karena dia tahu bahwa sihir penyembuhanku bisa mengatasinya.
Dia terus menyerangku tanpa henti lebih cepat dari sihir regenerasiku.
"Gawat."
"Jika kau abadi, aku hanya harus memisahkan setiap bagian tubuhmu secara terpisah."
Orang ini benar-benar serius.
Tepat saat dia muncul di depanku, sebuah tembakan keemasan mengenai tubuhnya hingga dia terdorong lalu menabrak bangunan, menghasilkan ledakan besar.
Itu berasal dari sihir dewa milik Valesta.
Penampilannya juga telah berubah.
"Aku akan mengatasi Hornes, kau hadapi saja wanita itu."
"Kau yakin bisa mengalahkannya?"
"Entahlah, paling tidak akulah yang akan membunuhnya."
Valesta sudah tahu keadaannya.
Tanpa mengatakan apapun lagi, aku menggunakan sihir teleportasiku dan muncul di depan wanita bernama Laura tersebut.
"Sayang sekali ada orang yang mengganggu, aku hanya ingin tahu seberapa kuat ekpresimen yang telah kuciptakan."
"Setelah ini, kau tidak akan memiliki kesempatan."
__ADS_1
"Lihat saja nanti... nah, mari bertarung Beaufort Reymond atau aku harus menyebutmu Haru Kazuya."