Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 48 : Melawan Dullahan


__ADS_3

Selly dan Sella berdiri dengan pedang besar di tangan mereka, Dullahan yang memperhatikan turun dari kudanya selagi membawa kepala serta long sword di tangan kanannya.


"Lawanku adalah wanita kembar, sungguh beruntungnya... aku akan menodai tubuh kalian berdua dengan pedang terkutuk ini."


"Burung perkutut," Selly memiringkan kepalanya.


"Itu maksudnya burung yang ada di balik celananya mungkin."


"Kalian ini bolotkah? Maksudku pedang terkutuk," teriak Dullahan memamerkan bilah pedang yang telah terselimuti bayangan hitam.


"Sebelum bertarung boleh aku tahu kenapa kepalamu lepas, kau pasti cerita yang menarik," atas pernyataan Sella Dullahan tersenyum senang.


"Hohoh, kau menyadari pesonaku.. baiklah, akan kuceritakan kisahku dulu... saat aku masih muda kepalaku masih berada di leherku, saat itu aku sedang mengintip wanita mandi di pemandian umum, namun tiba-tiba.."


"Seseorang memenggalmu dari belakang?" kata Selly.


"Bukan."


Kemudian dilanjutkan Sella.


"Kau ditebas oleh wanita yang kau intip."


"Bukan."


Ketika kedua pelayan itu menyerah akhirnya Dullahan menjawabnya sendiri.


"Aku sengaja memutuskan kepalaku lalu melemparkannya ke pemandian wanita agar bisa melihat dengan jelas."


"Sampai segitunya."

__ADS_1


Selly dan Sella hanya membuang nafas panjang kemudian menarik kedua pedangnya.


"Mengobrolnya sudah cukup, mari serang dia Sella."


"Oke."


Kedua pelayan itu melesat dengan kecepatan tinggi, mengayunkan pedangnya dengan baik hingga menghantam pedang Dullahan hingga tanah yang dipijaknya merebas beberapa centimeter ke dalam.


"Kalian berdua ini siapa sebenarnya, senyuman kalian... kalian terlihat menikmati pertarungan ini."


"Kau tidak perlu tahu siapa kami," jawab keduanya dengan hawa membunuh di sekelilingnya.


Boom.


Di dalam ledakan debu itu Dullahan melompat ke belakang dengan nafas terengah-engah.


"Kalian berdua mo-monster."


"Tapi menurutku tuanlah yang lebih hebat."


"Benar juga, Sella dan aku tidak bisa menandinginya."


"Monster dari monster, tuan kalian kalian pasti raja monster."


"Bisa dibilang begitu juga, kami pernah menunjukan tubuh telanjang kami tapi dia malah mengikat kami dengan tali lalu menggantung kami berdua di atas pohon, benarkah Selly?"


"Itu benar Sella, saat itu aku harusnya lebih agresif lagi."


Dullahan menunjukkan ujung pedangnya ke arah keduanya lalu berkata.

__ADS_1


"Cukup sudah, aku tidak ingin mendengar ocehan kalian... akan kuselesaikan semuanya. Sword Darkness."


Sebuah bola hitam terkumpul di ujung pedangnya kemudian menembakan sebuah laser gelap yang menghancurkan apapun yang dilaluinya, saat menghantam kedua pelayan itu, itu menghasilkan ledakan yang membuat tanah bergoyang dan hanya menyisakan kawah raksasa setelahnya.


Kendati demikian.


Selly masih berdiri di sana tanpa membuat pakaiannya kotor sedikitpun.


"Sial, di mana satu lagi?"


"Mencariku."


"Mustahil."


Sella sudah berada di belakang Dullahan, ketika dia berbalik sebuah sihir suci mendarat di tubuhnya lalu membuat Dullahan melebur menjadi asap.


"Sudah selesai," kata Sella menepukan kedua tangannya sebelum mendekat ke arah Selly.


"Kerja bagus."


"Apa kita baru saja melanggar perjanjian dengan Dewi Ristal?"


"Tidak, barusan kita hanya membela diri saja."


Di sisi lain pertempuran telah mencapai akhirnya dan kini hanya tersisa pertarungan Elona dan Hesna melawan Marina.


Nermia dan Riel pun telah selesai menghajar pasukan musuh.


"Pertarungan yang sengit, apa kita harus membantu mereka?" tanya Riel pada Nermia.

__ADS_1


"Kurasa tidak sopan menganggu mereka, lebih baik kita menunggu saja sampai selesai."


"Sepertinya begitu."


__ADS_2