
"Refleksion."
Beberapa cermin berukuran kecil bermunculan di sekitarku selagi menembakan cahaya dari dalamnya, aku melompat ke samping kemudian menghancurkan setiap cermin dengan pedangku.
"Kau tidak ingin menggunakan sihir dewa? Aku ingin melihatnya."
"Aku tidak melihat bahwa aku harus menggunakannya."
"Jadi aku harus memaksamu."
Aku melompat dengan ledakan besar di belakangku, selain berputar aku mengirim bola-bola air meluncur padanya.
Setiap aku melakukannya cermin besar akan secara otomatis muncul untuk menelannya kemudian mengembalikan seranganku kembali.
Wush.
Aku menambah kecepatan pada pergerakanku, ketika tepat berada di wajah Hornes kuayunkan pedangku memotong tubuhnya menjadi dua bagian.
Aku bukannya berniat membunuhnya hanya saja aku tahu bahwa ini memang palsu, tubuh yang terpotong itu berubah menjadi pecahan cermin dan saat kusadari aku terperangkap di dalam kumpulan cermin.
"Apa ini sihir dewa?"
"Kenapa kau begitu terobsesi dengan sihir itu?"
"Yah, aku ingin melihatnya secara langsung," kataku pada seluruh cermin yang menampilkan sosok Hornes di dalamnya.
Mereka semua mengeluarkan pecahan cermin yang dibentuk sebagai pisau lalu melesatkannya padaku, entah kenapa aku sedikit kecewa.
Aku menciptakan bola air di sekitarku lalu meluncurkannya seperti sebuah peluru menangkis maupun membalas semua serangannya dengan mudah. Cermin-cermin itu hancur berkeping-keping, sementara si pengguna berhasil melarikan diri ke luar.
"Bagaimana bisa? Siapa kau sebenarnya?"
__ADS_1
"Itu tidak penting, yang terpenting mana sihir dewanya."
"Orang ini."
Sudah kuduga pertarungan ini merepotkan, sihir ruang hanya sangat kuat jika digunakan sebagai sihir pendukung, jika melawan satu lawan satu. Itu sama sekali tidak berarti.
Aku meluncur ke depan, kuberikan sebuah pukulan ke wajah lalu beberapa kali di perut hingga Hornes berputar-putar di permukaan air kemudian berhenti selagi menatap langit.
"Apa boleh buat, akan kutunjukan sihir dewa."
Inilah yang kutunggu-tunggu
Pria itu bangkit lalu mengarahkan tangannya ke langit, bisa aku lihat sebuah cermin raksasa telah menyerap tenaga matahari.
"Kau pasti bercanda, sihir seperti ini bisa disebut sihir dewa?"
"Kau meremehkanku."
Kurasa dia anggota dewan terlemah.
"Bagaimana, rasakan itu."
Aku yang menyelam menarik kedua kaki Hornes hingga tubuhnya masuk ke laut sementara aku berjongkok di depannya.
"Kau ini bodohkah? Paling tidak sihir dewa ini setingkat dengan yang kubuat sekarang."
Sekitar 10 ekor ular naga terbuat dari air bermunculan dari belakangku sebelum akhirnya lenyap.
"Kau ini monster."
Aku tidak bisa menyangkalnya, jadi aku merubah topik pembicaraan.
__ADS_1
"Jadi kenapa kau menyelimuti seluruh wilayahmu dengan cermin? Membuat para penduduk kepanasan."
"Aku disuruh untuk menggantikan seseorang menjadi anggota dewan penyihir. Untuk itu, aku perlu melaporkan situasi wilayahnya kepada orang bersangkutan."
"Dan siapa orang itu?"
"Itu aku."
Aku mengalihkan pandanganku ke asal suara di mana di sana berdiri wanita dengan senyuman di wajahnya, dia melepaskan kacamatanya lalu mengikat rambutnya ke belakang.
"Kau rupanya, siapa? Valen?"
"Aku Velesta, yang kau permalukan di dalam kereta," teriaknya.
"Oh yah itu.... saat itu aku melihat sesuatu yang menyenangkan."
"Berisik."
"Jadi kau itu?"
"Sage, sialan.... Aku tidak ingin membuat banyak perhatian jadi aku meminta Hornes bertukar tempat denganku, kau ingin melihat sihir dewa maka akan kukabulkan."
Sebuah energi sihir menerbangkan seluruh permukaan air ke segara arah menciptakan gelombang di mana Valesta menjadi titik pusatnya.
Aku melirik ke arah Hornes dan dia telah menghilang.
"Dia melarikan diri."
Tubuh Valesta diselimuti cahaya keemasan, kukira dia akan berubah menjadi Super Seiya, akan tetapi ternyata bukan.
Dia mengenakan pakaian seperti bodysuit sexy terbuka dan hanya menutupi bagian terpenting wanita. Sebuah hiasan mirip sepasang sayap angsa berada di rambutnya sementara itu di belakang punggungnya puluhan pedang melayang membentuk dirinya menjadi sayap.
__ADS_1
"Jadi ini sihir dewa itu."
Aku rasa aku juga tidak perlu menahan diri.