Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 396 : Bunga Terkutuk


__ADS_3

Di bawah pohon itu, Layne menengadahkan pandangannya ke langit di mana awan yang sebelumnya terlihat mendung mulai memudar ke segala arah, bersamaan itu sebuah tirai cahaya dijatuhkan bagaikan sebuah panggung indah yang menampilkan sinar matahari yang diisi dengan kehangatan.


Sudah sekitar dua jam ia menunggu hujan berhenti, dan sekarang akhirnya dia bisa meneruskan perjalanannya.


Berbekal sebuah catatan kecil di tangannya, ia membaca kembali setiap perjalanan yang ia lalui selagi menyusuri padang rumput yang landai. Berkat seseorang dia memutuskan untuk menuliskan kisahnya di dalam buku.


Mungkin suatu hari dia akan mengenang kisahnya sendiri atau mungkin seseorang tertarik dengan perjalanannya, manapun pilihannya keduanya terdengar cukup menyenangkan.


Karena hujan cukup deras langkah kakinya tidak menimbulkan jejak di belakangnya, saat dia melewati perkebunan bunga, sesuatu memanggilnya dari bawah kaki.


Itu berasal dari sebuah bunga yang berada di pinggir jalan.


"Halo, di bawah sini."


"Kau bisa bicara?"


"Memang aneh aku bisa berbicara?"


"Menurutku begitu," balas Layne demikian selagi mendengarkan penjelasan lebih lanjut.


"Maukah kau membantuku, sebenarnya aku ini manusia yang dikutuk hingga berubah seperti ini."


"Jadi apa yang kau inginkan dariku?"


"Aku ingin berubah kembali, bisakah kau menyentuhku, dengan begitu aku akan bisa berubah kembali."


"Heh, begitukah."


Saat Layne akan melakukannya seorang lebih dulu menahan tangannya, dia seorang pemuda yang barusan tergesa-gesa turun dari kereta miliknya.


"Apa yang kau lakukan?" teriaknya.

__ADS_1


"Aku ingin mengembalikannya menjadi seperti manusia."


"Itu mustahil, dari awal mereka memang bunga."


"Mereka? Benarkah?"


Saat Layne kembali mengalihkan pandangan ke bunga yang akan dia sentuh, bunga tersebut telah menghilang.


"Apa maksudnya?"


"Kau mungkin ingin menginap di desaku, mari naik, aku akan memberikanmu tumpangan."


"Terima kasih banyak."


Layne duduk di samping pemuda itu lalu kereta mulai berjalan kembali, di sepanjang jalan pemuda itu dengan ramah menjelaskan bunga yang ditemui oleh Layne.


Bunga tersebut disebut bunga pemakan jiwa, bunga ini akan membujuk para pejalan kaki untuk menyentuhnya kemudian mereka akan mati setelahnya.


Layne bertanya.


"Aku tidak tahu tapi cerita ini berasal dari desaku hingga tak ada siapapun yang berani menyentuhnya."


"Begitu."


Kereta akhirnya tiba di desa yang dimaksud, ada gapura di luar desa bertuliskan 'Selamat datang' seolah mereka menganggap bahwa para pelancong yang datang sebagai tamu penting.


"Di ujung jalan ini rumahku, kalau mau kau bisa menginap di tempatku... ngomong-ngomong aku juga tinggal sendirian."


"Tidur serumah dengan pemuda asing, jantungku pasti berdegup kencang, apa yang terjadi malam nanti yah."


"Tidak akan terjadi apapun, kau menganggapku seperti apa," balas pemuda itu lalu melanjutkan.

__ADS_1


"Namaku Tim."


"Aku Layne, seorang petualang."


"Petualang kah, apa kau pergi ke berbagai tempat dan menuliskannya di sebuah jurnal atau semacamnya."


"Benar sekali."


"Boleh aku mendengar semua kisahmu."


"Aku tidak keberatan, lagipula aku memutuskan untuk tinggal selama tiga hari."


Tiga hari adalah waktu yang pas bagi seorang petualang tinggal di suatu tempat.


"Begitukah haha."


Sesampainya di rumah itu. Tim mulai memindahkan barang bawaannya dari kereta, peti-peti berat itu dia susun di dalam rumah lalu berkata pada Layne.


"Di dalamnya adalah manisan kering dari buah-buahan yang cukup digemari penduduk di sini, aku biasa menjualnya sekitar 1 koin tembaga, mau coba?"


"Apa boleh?"


"Tentu saja."


Satu peti dibuka dan di dalamnya menampilkan buah berbentuk bintang. Layne mengambil satu dan segera itu menyukainya.


"Enak sekali."


"Jika mau tambah, kau harus membayarnya."


"Itu curang."

__ADS_1


"Cuma bercanda, makanlah sebanyak yang kau suka."


"Baik."


__ADS_2