
"Apa kau tahu apa tujuanku yang sebenarnya?"
"Membunuhku," kataku ragu.
"Salah."
Dolla melepaskan rantai yang melilit tubuhku sementara kedua tanganku menyatu sedia kala.
"Kukira kau ingin membalas dendam?"
"Tentu saja tidak, keberadaanku ada di dunia ini hanya untuk mengembalikan dunia sedia kala, dungeon menghilang dari dunia ini karena itu keseimbangan telah lenyap, manusia kehilangan mata pencariannya dari monster dan jiwa para monster tidak bisa kembali ke dungeon... setiap monster yang dibunuh jiwa mereka akan terlahir lagi di dungeon, sama seperti dengan manusia yang bereinkarnasi, tapi kini siklus itu tidak bisa berjalan dengan baik.. di saat orang-orang membenci monster disaat yang sama manusia juga membutuhkan mereka."
Aku bangkit kembali.
"Jadi kau ingin aku mengembalikan dungeon di seluruh dunia ini."
"Tepat sekali, aku sudah tidak ingin melihat jiwa-jiwa ini berterbangan tanpa arah."
Aku memikirkannya sesaat lalu melanjutkan.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat."
"Monster tidak boleh menyerang tempat manusia."
"Itu bukan masalah tapi jika manusia yang masuk ke dalam dungeon mereka akan dibunuh oleh kami."
Aku mengangguk mengiyakan.
Aku mengarahkan tanganku ke arahnya hingga perlahan tubuh Dolla mulai bersinar dan sedikit demi sedikit menjadi pecahan bola cahaya.
Aku memperbaiki semua Dungeon dari seluruh dunia dan bersamaan itu Dolla lenyap seutuhnya.
"Dengan ini tugasku selesai, terima kasih."
Aku hanya menyaksikan Dolla yang menghilang seutuhnya.
"Sekarang hanya satu hal yang harus kulakukan lagi."
Aku menyentuh gerbang neraka itu lalu memindahkannya ke alam Dewi. Saat aku sadari keempat Dewi muncul di sekelilingku.
__ADS_1
Amnesia, Hecate, Ariel dan juga Ristal tersenyum ke arahku.
"Kalian semua."
Mereka melambaikan tangan ke arahku.
"Apapun keputusanmu, kami selalu berterima kasih."
Keempat Dewi itu membungkuk ke arahku.
"Saat kembali nanti aku dan Ariel akan memanjakanmu, jadi lakukan yang terbaik."
"Iya."
Sebuah panel muncul tepat saat aku berjalan ke Dewi Nimpa yang masih terkurung di dalam kristal, aku melepaskan cincin di tanganku satu per satu lalu memasukannya ke dalam layar milikku.
Saat kulakukan cahaya mulai bersinar di tubuh Nimpa selanjutnya kristal itu pecah dan aku menangkap Nimpa dengan tanganku. Amnesia yang memperhatikan berjalan ke dekat kami untuk menutupi tubuh Nimpa dengan selimut.
"Selamat datang."
"Bukannya aku."
"Aku."
Air mata jatuh dari pipi Nimpa, bersamaan itu aku menyerahkan sistem dunia padanya.
"Bukannya ini?"
"Dengan ini kau menjadi Dewi sesungguhnya."
"Terima kasih banyak hueeeehh."
Dia menangis.
"Bangunlah, kami akan menjelaskan semuanya nanti di alam Dewi."
Sekarang tugasku setelah selesai, aku kini bukan pahlawan ataupun seorang yang berusaha membuat kedamaian di dunia ini.
Aku hanya seorang penduduk desa biasa seperti dulu.
__ADS_1
Beberapa minggu setelah semuanya kembali sedia kala, di meja makan kesepuluh istiku tampak akrab seperti biasanya, mereka masing-masing membantu satu sama lain membawakan makanan sedangkan putriku duduk di antaranya termasuk Rusina, Dorothy dan juga Yuki.
Para pelayanku juga turut duduk di meja yang lainnya, saat aku berdiri mereka semua bertepuk tangan.
"Mari bersulang untuk hari yang indah ini."
"Bersulang."
Kami semua berteriak semangat, setelah sarapan yang mewah itu aku memutuskan pergi ke pusat desa selagi duduk di tempat favoritku.
Semua orang tampak ada di sini dan mereka melakukan tugasnya seperti apa yang ditugaskan pada mereka.
Kurasa tempat ini telah menjadi rumah bagi semua orang termasuk aku sendiri saat aku memikirkannya, Selly dan Sella sudah berada di depanku selagi mengulurkan tangannya.
"Nah Tuan, bukannya kita harus menaikan levelmu kembali dari sekarang," kata Selly disusul Sella.
"Benar, hari ini aku bahkan berpenampilan sexy."
Mereka hanya mengenakan kimono yang sama saat aku bertemu dengan mereka.
"Kurasa selalu nganggur juga tidak baik bagi kesehatanku, aku akan sedikit berolahraga."
Aku menerima tangan keduanya lalu bangkit dari tempat dudukku.
"Kurasa tidak ada salahnya memulainya dari nol lagi."
Tanpa sadar aku tersenyum senang sesaat mengingat masa lalu.
"Selly, Sella, terima kasih banyak."
"Apa tuan mengatakan sesuatu?"
"Tidak."
"Heh?"
Di bawah langit cerah kami bertiga berjalan pergi meninggalkan daun-daun yang masih tertiup oleh angin dingin.
Musim semi akan segera tiba dan itu menjadi awal baru bagi desa ini.
__ADS_1
TAMAT.