Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 215 : Mencari Informasi


__ADS_3

Aku meminta para pelayanku kembali ke kota dengan masing-masing Wyvern untuk ditunggangi, sementara aku dan Draggel pergi ke kota lain menaiki sang ratu.


"Aku belum tahu siapa namamu?" aku berkata ke arahnya.


"Namaku Draggel."


"Kau mau ngajak berantem?"


Draggel mengalihkan pandangannya ke samping.


"Namaku Astrea."


"Nah Astrea, aku minta maaf soal yang terjadi padamu."


"Berisik, kau menodaiku.. aku akan minta tanggung jawab."


"Tanggung jawab apa yang kau minta? Aku tidak melewati batas."


"Berisik."


"Kau ini akan dikutuk suatu hari nanti Beaufort."


"Bisakah kau diam dulu."


"Ah di sana kita turun."


Orang ini menyebalkan.


Kami turun tepat di atas genteng orang lain, Astrea merubah bentuknya menjadi manusia lalu aku memberikan sebuah mantel coklat dengan tudung untuk menutupi wajahnya.

__ADS_1


Ini adalah pusat kota kesatria yang mendukung kerajaan negeri awan, menurut Draggel ada sebuah tempat yang menyimpan berbagai dokumen tentang kejahatan di negara ini, dan di situlah tempat yang akan kami kunjungi.


Kami turun ke jalan lalu berbaur dengan yang lainnya, bisa kulihat di setiap jalan posterku dan Draggel ditempel.


Draggel mengambil salah satunya.


"Aku tampak tampan di sini."


"Aku malah tidak seperti manusia."


Orang yang menggambarku sengaja membuatku seperti iblis dengan hidung hewan dan telinga aneh.


Astrea tertawa.


"Itu cocok denganmu."


"Berisik, mari jalan lagi."


"Ada beberapa kesatria yang menggunakan lubang ini untuk masuk ke dalam dan mangkir dari pekerjaannya."


"Kesatria benar-benar sangat terhormat," kataku mengejek.


Kami memasukinya dan muncul di sebuah ruangan luas, banyak arsip yang ditumpuk di sini, Draggel meminta kami mengumpulkan arsip pada hari, bulan dan tahun kejadian hingga semuanya ada 100 arsip yang bisa kami kumpulkan.


Astrea duduk di kursi bosan sedangkan aku mencari sesuatu yang bisa kujadikan untuk menghabiskan waktu.


"Kalian berdua, setidaknya bantu aku."


Tentu saja jawabanku," Ogah."

__ADS_1


Selagi menyusuri rak tinggi, beberapa kasus juga menarik perhatianku terlebih pada kasus batu jiwa.


Aku mengambilnya dan membaca isinya, kurasa tempat seperti ini juga lebih berguna seperti perpustakaan.


Tahun xx bulan xx, sebuah monster mengerikan muncul di wilayah ini, monster itu menyerupai singa dengan sayap kelelawar serta ekor ular, dikatakan bahwa monster ini melahap manusia sebagai makanannya, suatu hari ada seorang yang mengatakan bahwa dia mampu mengalahkannya lalu menggunakan batu jiwa untuk menelan semuanya ke **********, sejak itu batu jiwa di simpan di istana sementara orang yang mengalahkannya menjadi ratu di wilayah ini dan memberikan nama wilayah ini sebagai negeri awan.


Dia membuat banyak peraturan untuk melindungi rakyatnya dan salah satu yang terpenting adalah tidak boleh mendirikan rumah di bawah kaki gunung alasannya karena akan menyebalkan saat kabut muncul secara mendadak.


Konyol sekali.


Dengan kata lain, orang yang memiliki batu jiwa itu adalah nenek moyang Fate.


Aku kembali melirik Draggel yang menggebrak meja bersemangat.


"Masih ada satu perampok yang belum ditangkap."


Ekpresinya perlahan memburuk.


"Sayangnya dia pergi ke hutan racun jika pergi ke sana aku tidak yakin dia masih hidup."


"Paling tidak kita bisa mencobanya dulu, mungkin saja di tubuhnya ada bukti."


"Kau gila, kita bisa mati."


"Jangan khawatir, aku punya topeng yang bisa mengatasinya."


Aku mengeluarkannya hingga keduanya terkejut, bukan karena topengnya menakutkan hanya saja.


"Kau ini bukan manusia?" tanya Draggel bingung.

__ADS_1


Saat aku perhatikan tanganku kembali menjadi tengkorak, tubuhku sudah tidak bisa menahan kutukannya rupanya.


__ADS_2