
Di dalam ruangan khusus itu, aku diam selagi memperhatikan ke dua orang yang saling mengirim kebencian di mata mereka.
Pertama adalah Orihime yang seratus persen membenci pria dan menyukai para gadis sedangkan di sisi lain adalah pria yang telah mencuri tahtanya, biar mudah aku akan menyebutnya Mr x.
Mr x hanya ingin mengembalikan status pria pada tempatnya di mana menjadi kepala rumah tangga meskipun dia juga harus memutuskan untuk mengusir seluruh pengikut Orihime demi menciptakan kedamaian.
Di sisi lain aku melihat Orihime seperti orang yang memberikan masalah, obsesinya terhadap tubuh wanita sudah melewati kewajaran, jadi bagaimana cara membuat kedua belah pihak ini berdamai?"
Aku sudah memikirkannya akan tetapi aku ingin lihat bagaimana mereka mengatasinya sendiri.
Haruna muncul dengan teh yang dia seduh yang mana kunikmati secara perlahan.
Beberapa menit kemudian.
Keduanya masih tidak berbicara satu sama lain.
Beberapa jam kemudian.
Masih sama.
Saking kesalnya Haruna sudah kelelahan mengambil teh untukku.
"Ah, ayolah kapan ini selesai?"
Keduanya memalingkan wajah.
"Apa yang kulakukan tidak salah? Dengan mengambil wilayah ini maka angka kelahiran bisa teratasi dan pria kembali memiliki haknya."
"Hak yang kalian dapatkan hanya menjadi budak kami, wanita seperti kami yang harus memimpin wilayah ini dan kalian harus menurut saja."
Meski wilayah ini diambil alih oleh pria, mereka masih mengizinkan para wanita untuk tinggal bahkan para istri mereka yang berasal dari luar pun diperbolehkan tinggal.
"Tuan Kazuya, jika begini masalahnya tidak akan selesai, tolong lakukan sesuatu?"
"Sepertinya begitu, para istriku mungkin marah jika aku tidak segera pulang."
__ADS_1
"Apa tuan Kazuya tipe takut istri de gozaru?"
"Tidak juga, tapi ada kalanya pria juga memiliki hal untuk ditakuti oleh istri ketika mereka benar-benar marah."
"Ah, aku pasti akan mengerti saat menikah nanti."
"Kau masih menyukai pria kan."
"Tentu saja."
Itu melegakan bahwa dia tidak masuk ke jalan yang sesat.
Aku berdeham sekali lalu melanjutkan hingga keduanya melirik ke arahku.
Mr x bertanya.
"Apa mungkin tuan Kazuya memiliki ide yang lebih baik?"
"Yah, sebelumnya aku sudah meminta agar Orihime mengubah sistemnya agar menerima para pria juga serta memberikan hak setara seperti para wanita."
"Tapi tuan.."
Aku segera menghentikan Mr x yang akan mengajukan keberatannya.
"Meski begitu Orihime tidak akan mengambil negeri samurai lagi."
"Eh, bukannya itu?"
"Tenanglah dulu, aku belum selesai mengatakannya."
"Maaf."
Orihime duduk kembali dari kursinya dan aku melanjutkan.
"Jika negara memiliki dua pemimpin juga itu mustahil, karena itu aku akan membuat negara yang baru untuk Orihime dan semua pengikutnya."
__ADS_1
Mata ketiga orang di tempat ini terbelalak kaget lalu berdiri secara bersamaan.
"Kau pasti bercanda, tidak ada daratan lagi di sekitar sini kecuali lautan saja," teriak Orihime di susul Mr x.
"Aku tidak tahu apa yang sedang tuan pikirkan?"
Mereka akan tahu jika sudah melihatnya.
Di ujung pulau negeri samurai, aku melayang ke atas lalu terbang sedikit jauh dari tempatku sebelumnya, tentu yang di bawahku sekarang hanya lautan berarus tenang.
Bisa kulihat semua orang sedang memperhatikanku dengan tatapan kagum, saran yang kuberikan pada keduanya adalah untuk saling memaafkan dan hidup berdampingan sebagai dua negara yang berbeda.
"Sistem Administrator..." bersamaan perkataanku beberapa opsi dari layar menu bermunculan.
Konsep dunia ini seperti pada sebuah game karena itu, aku bisa menganggap apa yang sedang kulakukan ini hanyalah membangun sesuatu dalam game.
Pertama aku membuat pulau yang sangat luas dua kali lipat dari pulang negeri samurai untuk konfensasi.
Setelah jadi, aku mulai mengisinya dengan rumah-rumah bergaya tradisional dengan lantai tatami dan pintu geser, agar lebih indah aku menambahkan hutan-hutan kecil, bunga, serta memindahkan beberapa serangga ke dalamnya.
Jangan lupa untuk membuat pohon sakura juga, hingga kini semuanya terlihat jauh lebih indah.
Aku kembali menkonfirmasi apa yang terjadi dengan para penonton di belakangku dan mereka hanya melongo.
"Kau ini dewa kah?" Teriak Orihime yang kubalas dengan mengangkat bahuku ringan.
Mulai sekarang daratan ini akan disebut sebagai Negeri Sakura.
"Kalian harus rukun satu sama lain, kalau begitu aku pamit."
Lima samurai wanita menundukkan kepalanya atau sejujurnya semua orang juga melakukan hal sama.
"Kita bisa merayakannya dulu."
"Mungkin lain kali, kalau begitu sampai nanti," kataku pada Orihime sampai lingkaran sihir memindahkanku dalam sekejap.
__ADS_1
Setidaknya aku masih sempat pulang untuk makan malam.