
Malam hari itu semua orang memilih untuk tetap di luar rumah selagi menari di depan api unggun yang memancarkan kehangatan.
Dari tempatku duduk, aku bisa melihat para prajurit yang sedang asyik minum-minum bersama komandan mereka, salah satunya adalah Nibel, aku sudah mengembalikan tangannya jadi dia tidak perlu hidup dengan satu tangan.
Mengirim minuman dari cangkir ke dalam mulutku, ratu dari kerajaan ini muncul selagi memberikan satu daging paha yang besar padaku.
Aroma harum dari daging panggang tercium dari sana.
"Makan juga ini."
"Aku tidak berselera makan."
"Kau ingin menentang perintah ratu dari negara ini."
Sepertinya aku akan dicap sebagai pengkhianat hanya karena menolak makanan yang diberikan ratu bernama Calistha ini, pada akhirnya aku memaksakan diri untuk memakan satu gigitan.
Padangan kami berdua terarah pada dua orang wanita yang sedang asyik membagi-bagikan makanan kepada anak kecil, tentu mereka adalah Paula dan Mion.
Aku lebih tertarik dengan dada Paula, meskipun umurnya sedikit lebih tua dari wanita di sekitar sini, itu bergerak naik turun dengan sempurna saat dia melakukan aktivitasnya.
Seorang penjaga tampak tidak sengaja menumpahkan anggur ke belahan dadanya.
"Maafkan aku."
"Aku akan memaafkanmu jika kau menikahiku."
"De-dengan senang hati."
__ADS_1
Sepertinya seorang telah menemukan pasangannya, berbeda denganku padangan Calistha lebih tertuju pada Mion hingga aku bertanya padanya.
"Apa ada sesuatu?"
"Dia putri dari kerajaan pertama... aku selalu merasa bersalah saat melihatnya."
"Kurasa kau tidak perlu mengkhawatirkannya, sepertinya dia menyukai kehidupannya yang sekarang, aku yakin walau kau menawarinya tahta dia akan menolaknya."
Calistha tersenyum kecil lalu meminum wine di gelas kayunya.
"Kurasa begitu, kupikir aku juga sudah waktunya mencari pasangan hidup."
Dia mungkin sudah mabuk saat melihat Paula yang sedang berduaan.
"Aku akan bergabung dengan yang lainnya."
"Aah."
Aku berkata dalam hati.
Kalian tidak akan berubah menjadi manusia lalu mengikutiku kemanapun seperti Dorothy kan? Dan jawabannya sudah jelas bahwa mereka hanya kucing biasa.
Tak lama Arthur, Clara, Pireta dan Luis berdiri di depanku.
"Terima kasih atas bantuannya. Anda telah membantu kami dari nol sampai sekarang, bahkan mengembalikan kedamaian di kerajaan ini, kurasa kami tidak mungkin bisa membalasnya."
"Aku tidak pernah memikirkan hal seperti balas budi, semua orang selalu memiliki masa-masa sulit dan aku hanya kebetulan datang untuk membantu."
__ADS_1
Semuanya membungkuk sekali ke arahku lalu berjalan pergi ke arah api unggun untuk menari bersama penduduk lainnya, alunan musik yang merdu merupakan sesuatu yang mereka miliki di desa ini.
Saat aku menatapnya sesuatu yang lembut menekan punggung kepalaku.
Jumlahnya ada dua buah.
"Apa terasa nyaman tuan?"
"Seperti biasa, punya Amnestha yang paling lembut."
Rin dan Gabriela memegangi lenganku lalu mengapitku dari segala sisi.
"Malam yang damai," ucap Rin demikian lalu Gabriela menambahkan.
"Rasanya sudah sangat lama melihat api unggun seperti ini."
Aku dan ketiga pelayanku memiliki sejarah yang sangat panjang, dari sebuah pertemuan yang tidak disengaja sampai bertemu lagi setelah sekian lama.
Aku sangat bersyukur bertemu dengan mereka.
Keesokan paginya kami semua berpamitan lalu muncul tepat di desaku yang sama sekali tidak berubah, di tengah desa ada sebuah gerbang besar yang menghubungkan Ibukota dengan desa ini.
Saat aku memeriksa siapa yang datang, jumlahnya sangat banyak.
Aku berjalan di depan sementara ketiga pelayanku mengikutiku selagi menjaga rambutnya agar tidak kusut tertiup angin.
Satu hal yang ingin kukatakan sekarang hanyalah.
__ADS_1
"Waktunya bekerja."
Lebih cepat aku menyelesaikan semuanya lebih cepat juga aku pensiun dari tugas pahlawan maupun kepala desa, walaupun aku merasa kalau itu tidak akan pernah terjadi.