
Di pagi hari aku meminta kedua saudara itu mengangkat gaunnya hingga wajah mereka memerah.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Olien.
Masing-masing dari kaki mereka kuikatkan sarung pistol yang kubuat sendiri, dengan begini mereka akan jauh lebih kuat, dan yang harus mereka lakukan hanyalah menggunakan senjatanya dengan baik.
(Apa ini?) tulis Cleo.
"Pistol, benda ini secara otomatis mengambil mana kalian lalu menembakannya menjadi bola kecil dengan kecepatan tinggi."
Aku perlu 200 poin untuk menciptakannya, senjata ini tidak akan bisa hancur walaupun terkena sihir apapun.
Sebelum kembali melanjutkan perjalanan aku membeli banyak roti dan susu untuk para peri, di alam liar mereka juga bisa memakan buah karena itu aku membelinya sekeranjang penuh yang langsung kukirim ke dalam dimensiku.
Setelah selesai makan siang kami pergi ke lokasi yang dikatakan Olien sebelumya, di sana ada sebuah gua besar yang seluruhnya diselimuti kegelapan, menurut penduduk jika ada seseorang melintas ke sini mereka akan ditarik sebuah tangan bayangan lalu menghilang selamanya.
Aku mengirim sihir api ke dalam gua untuk melihat seberapa gelap di dalamnya hingga tak lama kemudian bayangan manusia keluar dengan jumlah tangan sangat banyak.
"Dia iblis dari neraka kedua, mari habisi."
Olien dan Cleo bersama-sama menembakan senjata mereka namun sayangnya itu sama sekali tidak kena sasaran, yang ada, kaki mereka ditangkap kemudian ditarik ke atas secara terbalik.
Tentu apa yang di dalam gaun terlihat jelas.
'Kyaaaa... jangan melihatnya."
Cleo menunjukkan tulisannya bahkan di saat sulit seperti itu.
(Kyaaa mesum)
"Kalian berdua jangan melawak terus, cepat gunakan senjata kalian."
__ADS_1
"Aku tahu."
Dari pistol mereka ditembakan peluru berwarna emas yang mampu memotong seluruh tangan bayangan tersebut, di saat itu aku meluncur dengan kecepatan tinggi menusuk tubuh utamanya dengan Grandbell milikku hingga menjadi debu.
Kedua pendeta itu jatuh dengan bunyi keras.
"Kalian tidak apa-apa?"
"Harusnya kau menangkap kami."
(Itu benar)
"Sudahlah, mari ikuti aku."
Aku memutuskan untuk memeriksa guanya, di sana tampak beberapa manusia terkapar begitu saja di lantai, beberapa orang telah meninggal dan sisanya ada yang masih hidup sekitar lima orang.
Iblis barusan memakan manusia rupanya.
"...."
Kereta kami bergerak menuju kota di balik gunung yang mana menjadi kota selanjutnya yang akan kami kunjungi.
Selama perjalanan, aku beberapa kali bertemu orang-orang yang pergi dari tempat yang akan kami tuju, saat aku bertanya apa yang terjadi.
Jawabannya tetaplah sama.
"Ada iblis."
Berarti kami sudah dekat.
Olien dan Cleo saling memainkan pistol di tangan mereka. Sesekali mereka menembak ke luar kereta sebagai latihan.
__ADS_1
Aku segera menghentikan kereta.
"Ada apa tuan Kazuya?"
(Apa kau ingin pipis)
"Aku menemukan madu."
"Madu?"
Aku segera turun dari kereta dan sedikit masuk ke dalam pepohonan, dari sana ada pohon yang berlubang dan kulihat lebah terbang masuk dan keluar begitu saja.
"Apa itu bisa dimakan?"
Di dunia ini tidak banyak orang yang mengetahuinya.
"Kau akan tahu nanti."
Aku mengambil beberapa ranting yang kuikatkan dengan dedaunan muda, saat aku membakarnya itu cukup membuat asap untuk mengusir mereka.
Aku melayang ke pohon tersebut lalu mengambil sarang secara hati-hati, aku tidak ingin membunuh para lebah ini yang akan kuambil hanyalah setengah sarangnya dan memastikan tidak sampai menyakiti ratu lebahnya.
Aku membagi sarang tersebut menjadi tiga bagian yang masing-masing kuberikan pada mereka.
"Ini sangat manis."
(Enak)
"Kalian hanya boleh mengambil sarang secukupnya dan pastikan untuk tidak membunuh ratu lebahnya."
"Baik guru, ajaranmu akan selalu kuingat. Aku juga akan belajar bagaimana cara menyibak gaun seorang gadis."
__ADS_1
"Jangan lakukan itu," kataku lemas.