
"Silahkan ikuti saya."
Di depan istana kerajaan, Minerva bersikap layaknya komandan apa adanya, orang-orang meletakan tangan di dada mereka selagi bersikap tegak sebelum mempersilahkan kami masuk ke dalam aula singgasana.
Indentitasku sekarang hanyalah seorang petualang serta siswa akademi tidak lebih ataupun kurang.
Minerva berlutut memberikan hormat kepada raja sementara aku hanya berdiri.
Maaf saja aku memutuskan untuk tidak berlutut pada siapapun, karena statusku yang sesungguhnya adalah raja maupun Dewa. Ketika semua orang di tempat ini meneriakanku atas ketidaksopananku, raja memotong dengan ramah.
Raja yang bijaksana.
"Tak apa, aku memberikan pengecualiannya pada tuan?"
"Beaufort Reymond."
"Tuan Beaufort, Anda pasti telah mendengar semua penjelasan dari Nona Minerva, kerajaan kami kini sedang dalam bahaya kami mohon untuk meminjamkan kekuatan tuan."
"Aah, tapi aku meminta imbalan setelah pekerjaan ini selesai."
"Tentu saja, semua kontribusi yang tuan Beaufort lakukan akan diperhitungkan."
Bagiku uang bukan masalah akan tetapi, aku tidak ingin membuat seseorang berhutang budi padaku apalagi sebuah kerajaan jika aku melakukannya secara gratis. Ini ada timbal balik yang membuat kedua belah pihak sama-sama diuntungkan.
Raja melanjutkan.
"Aku punya satu permintaan... bisakah tuan membawa putriku juga, ini adalah tahun pertamanya masuk ke akademi sihir, aku ingin ada seseorang yang mau mengajarinya."
Dari sampingku putri yang dimaksud berjalan mendekat.
__ADS_1
"A-anu... namaku Almaira Riteila, mo-mohon bimbingannya."
Aku tersenyum lembut ke arahnya, dia gadis cantik dengan rambut pirang panjang serta tubuh langsing berisi, ia mengenakan pakaian akademi sepertiku hanya saja tergantung pemakaiannya, pakaianpun bisa memancarkan aura berbeda.
Aku balik bertanya pada raja.
"Sebenarnya di akademi aku akan memilih kelas terendah dari rakyat jelata, apa raja tak keberatan."
"Aku akan menyerahkan semua keputusan pada tuan Beaufort, tolong jaga dia."
Orang ini seenaknya saja menyerahkan putrinya pada pria asing, seberapa besar dia mempercayai Minerva.
"Aku mengerti."
"Dan Minerva, kamu bisa kembali ke pasukanmu."
"Terima kasih banyak, kalau begitu kami izin pergi."
"Dengar... jangan melakukan hal aneh-aneh dengan putri, dia gadis polos."
"Jangan menyebutku gadis polos."
Dia cukup marah soal itu jadi aku memotong.
"Aku tahu, lagipula aku sudah menikah."
"Me-menikah?"
"Sebenarnya putri, orang ini lebih tua dari yang terlihat jadi jangan sampai terjebak."
__ADS_1
"Bisakah kau menggunakan kata yang lebih bagus lagi," atas pernyataanku Minerva tertawa santai lalu melanjutkan.
"Untuk sisanya aku serahkanlah padamu."
"Aah, mari pergi Almaira."
"Ba-baik."
Kami meninggalkan kerajaan lalu berjalan menuju sebuah bangunan akademi sihir yang dimaksud, di tengah-tengah perjalan aku membeli dua roti yang salah satunya kuberikan pada Almaira.
"Ambilah, apa kau tidak menyukai makanan rakyat jelata?"
"Bukan begitu, hanya saja aku merasa senang ada seseorang yang memperlakukanku seperti seorang gadis biasa."
"Begitu."
Selagi menikmati roti padangan kami tiba-tiba saja teralihkan pada sebuah gang kecil di mana kulihat dua orang gadis sedang diganggu oleh beberapa preman.
Satu orang memiliki rambut merah panjang dan satu lagi berambut biru sebahu. Kurasa aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.
"Almaira, aku di akademi sedang menyamar karena itu, aku sedang berpura-pura lemah... Bisakah kau nanti segera membawa dua orang itu melarikan diri agar tidak melihatku bertarung."
"Aku mengerti tuan, maksudku Beaufort."
Aku berdiri di antara preman dan dua gadis itu saat Almaira menariknya pergi, salah satu preman berteriak kasar ke arahku.
"Mau jadi pahlawan Hah?"
"Hajar saja bos, kita tunjukkan siapa yang berkuasa."
__ADS_1
Selanjutnya.
Akulah yang memukuli mereka sampai babak belur sebelum akhirnya kuberikan kepada para penjaga untuk ditangkap. Mereka benar-benar lemah dan hanya bisa menganggu seorang gadis saja.