
Hari ini aku mengunjungi sebuah kota di wilayah ujung kerajaan, awalnya ini hanya dua desa yang digabungkan menjadi satu untuk membentuk kota baru.
Di antara orang-orang yang berlalu lalang, kulihat seorang gadis bertudung merah membagikan sesuatu yang sangat kukenal baik, itu adalah sekotak korek api dari kayu.
Beberapa orang membelinya dengan harga 1 koin tembaga.
Bagi kebanyakan orang, itu harga yang terlalu murah meski begitu orang-orang masih mau mengambilnya tanpa menambahkan jumlahnya.
Saat aku dan dengan gadis itu saling bertatapan dia menyodorkan satu kotak ke arahku tanpa mengatakan apapun, dunia memang begitu kejam bahkan membuat seorang gadis kecil harus menjual sesuatu seperti ini demi bertahan hidup.
Aku memberikannya satu koin perak untuk satu buah yang kuambil, mungkin ini perasaanku tapi aku sempat melihatnya tersenyum kecil.
Tanpa memperdulikan hal itu lagi aku pergi ke balai kota untuk menemui orang-orang yang berdiri menyambutku, di sana seorang yang bertanggung jawab atas kota ini menyambutku baik, yah... walau aku tidak memakai mahkota di kepalaku aku tetap dianggap seorang raja.
Saat aku melambaikan tanganku orang-orang berteriak heboh, ini pertama kalinya aku melihat orang sangat antusias saat bertemu denganku.
"Mulai sekarang kalian hidup rukun satu sama lain," dan perkataanku membuat orang-orang bertambah heboh.
Ini sudah berbeda level.
Aku menerima sebuah jamuan terhormat dari orang yang bertanggung jawab, saat seorang pelayan menyalakan sebuah korek api untuk menyalakan lilin, tiba-tiba saja semua orang di sekelilingku tumbang tanpa sebab.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?"
Aku memeriksa korek api tersebut dan korek itu sama persis dengan korek api yang kupegang, aku berlari keluar dari bangunan menuju arah di mana aku bertemu dengan gadis tersebut, sama seperti orang-orang yang kutemui di dalam bangunan semua orang juga mengalami hal sama.
Kepalaku semakin bingung bahkan saat aku berhadapan dengan gadis itu, saat aku melihat matanya suatu pemandangan yang asing terlintas begitu saja di depan mataku seolah seperti kilasan balik.
Itu adalah musim dingin di mana salju turun begitu lebatnya, di saat itu aku melihat gadis kecil sedang berlarian ke sana kemari dengan nafas terengah-engah, tubuhnya bergetar karena dingin dan wajahnya terlihat sangat rapuh seolah dapat tumbang kapanpun.
Dia terus berusaha menyodorkan korek api di tangannya meski begitu tidak ada yang membelinya.
"Silahkan beli."
Seberapa ia berusaha masih tidak ada yang membelinya, dengan wajah menangis dia terus melakukannya berulang-ulang.
Salju mulai bertambah lebat hingga akhirnya diapun menyerah, ia menyeret kakinya kembali ke rumah kecilnya di ujung desa.
Yang menantinya di sana seorang nenek yang terbaring di tempat tidur.
"Kau sudah pulang? Apa laku?"
"Iya nenek, orang-orang sangat membutuhkannya," jawab si gadis, tentu itu semua hanyalah kebohongan belaka, meski begitu gadis itu tersenyum hangat dan beberapa hari kemudian neneknya meninggal.
__ADS_1
Kini dia sendiri dan harus berusaha terus hidup, desa ini maupun desa sebelah membiarkannya begitu saja hingga pada akhirnya gadis itu juga meninggal tepat ketika dia menyalakan korek apinya sendiri, saat dia meninggal dia mengirim sebuah kutukan di detik nafas terakhirnya.
"Suatu hari saat kalian membeli korek api padaku, maka hidup kalian akan berakhir"
Seperti itulah.
Dan sekarang menjadi kenyataan, orang-orang membeli korek api dari gadis yang ada di depanku, bukan karena harganya murah melainkan mereka teringat dengan gadis yang mereka terlantarkan.
Gadis itu telah meminta tolong untuk menyelamatkan neneknya akan tetapi tidak ada yang mendengarnya.
Gadis itu meminta tolong karena kelaparan tidak ada yang mau membantunya.
Saat pandanganku kembali sedia kala, gadis di depanku telah menghilang seutuhnya meninggalkan cerita mengerikan yang akan dibagikan ke semua orang di generasi mendatang.
Aku mengutip sebuah kalimat di akhir cerita.
"Ketika kau punya kesempatan menolong seseorang, maka lakukanlah agar kau tidak menyesal di kemudian hari."
Kota baru yang dibuat kini hanya menjadi kota mati dengan makam di depan rumah mereka.
Aku menceritakan hal ini pada Bellatrix dan Katharina yang telah selesai mengerjakan tugas mereka. Keduanya tidak bisa menghentikan air mata yang jatuh di wajah mereka.
__ADS_1
Sekarang aku menyesalinya.
Seharusnya aku tidak menceritakannya.