
Aku duduk selagi bersandar di kolam pemandian air panas, sementara Mamisa mendorong tubuhnya ke arahku.
"Ada benda keras yang menusukku."
Ini jelas perbuatan tidak senonoh.
"Sakit... sakit."
Aku mencengkeram kepalanya lalu melemparkannya ke arah kolam di sebelahku yang hanya terhalang oleh papan tembok.
"Aaaaaaareeee."
Byurrrrrrr...
Tempatmu di sana.
Aku kembali bersantai lalu memunculkan busur hitam di tanganku, sudah tiga hari semenjak aku meminta Aria menyelesaikannya dan ia melakukannya dengan baik.
Busur ini menyerap sihir penggunanya lalu melesatkannya dua kali lipat, kurasa aku bisa menembak sejauh 1000 mil dengan ini.
Aku memasukannya lagi ke penyimpananku bertepatan saat seseorang masuk ke pemandian ini, dia adalah guild master di kota pelabuhan bernama Crown.
"Nyaman sekali, kudengar kau banyak melakukan misi."
"Selagi menunggu senjataku dibuat, aku menghabiskan waktu dengan itu."
"Begitu, bagaimana menurutmu tentang guildku?"
"Cukup sepi."
Crown tertawa kemudian melanjutkan.
"Memang terlihat jelas, sebelumnya guild sangat ramai sayangnya sejak kemunculan guild di kota sebelah, mereka mengambil semua anak-anakku."
__ADS_1
Kota sebelah mana lagi sekarang?
"Apa hal itu bisa dilakukan?" tanyaku.
"Tentu saja bisa, asal mereka melakukannya dengan kehendaknya sendiri, mereka menggunakan para petualang cewek bahenol dan keuntungan besar untuk menggoda anggota guildku, sungguh keterlaluan... bisakah kau datang ke sana dan menghancurkannya."
"Aku tidak ingin terlibat konflik seperti itu.. tapi tunggu, aku ingin mencoba sesuatu yang menarik."
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku akan menembakannya dari sini."
Crown terbelalak kaget.
"Ka-kau bi-bisa melakukannya?"
"Aku hanya ingin mencobanya."
Aku mengikat handuk di pinggangku kemudian memunculkan busur setelah naik ke pinggiran kolam.
Menarik, busur ini bisa menerima sihir apapun, dari air aku mengubahnya menjadi cahaya kemudian api hitam.
"Kau pasti bercanda?"
Tanpa memperdulikan omongan Crown aku melesatkan panahnya dan itu menembus langit malam.
Saat jatuh, guild itu langsung meledak.
"Kurasa sudah selesai."
Aku menghilangkan busurnya dan pergi meninggalkan pemandian.
"Katakan sesuatu?" teriak Crown.
__ADS_1
Keesokan paginya di guild aku sedang menikmati teh hangat saat sekumpulan orang-orang berbondong-bondong ke tempat ini.
Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya meninggalkan guild ini. Aku sudah berbicara dengan Crown untuk menolak mereka dan hanya menerima para wanita bahenol yang sebelumnya bekerja di sana.
Sekarang tempat ini menjadi lebih baik.
Untuk suatu alasan Iris menantapku selagi mengembungkan pipinya hingga aku hanya tersenyum masam ke arahnya.
"Mari terima pria muda juga yang belum bergabung dengan guild lainnya juga."
"Bukan itu." teriaknya lalu pergi ke bagian receptionis.
Dia pasti marah karena menjadikan tempat ini dipenuhi wanita sexy, salah satunya duduk di depanku bersama Mamisa.
"Apa kau perlu sesuatu dariku?"
"Kau penyihir roh kan?"
"Jika kau ingin informasi dariku, bayarannya sangat tinggi loh."
"Kau boleh memesan apapun yang kau suka."
"Itu baru bagus... pelayan pesan ini, ini dan ini dan juga ini."
Dia memesan banyak makanan.
"Aku juga."
Mamisa juga malah ikut-ikutan.
Penyihir di depanku bernama Viore, ia menggunakan pakaian pendeta dengan kalung rosalio di lehernya yang menggantung baik di belahan dadanya.
Rambutnya berwarna hijau cerah dan tingginya sedikit lebih tinggi dari Mamisa, aku penasaran roh seperti apa yang dimilikinya.
__ADS_1
Apa seperti punya Rima atau lebih kuat lagi?