
Kami semua berpamitan pada Rania dan ibunya. Sungguh disayangkan atas kejadian yang telah terjadi, kendati demikian kami sudah tidak bisa berbuat apapun.
Hanya menunggu waktu saja sampai kesedihan mereka hilang sendirinya.
Rin meneteskan darah dari ujung jarinya dan seketika lingkaran sihir tercipta di bawah kakinya, dan dari sana para kelelawar berterbangan.
"Mulai sekarang kalian tinggallah di rumah itu dan lindungi penghuninya."
Para kelelawar mulai bertengger di rumah Rania, mulai sekarang mereka bisa hidup aman tanpa ada gangguan dari siapapun. Kami berempat kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan bersalju.
Setelah memeriksa mayat orang yang dihabisi Rin, aku akhirnya menemukan keberadaan Tarantula yang dikatakan oleh pria itu. Iblis itu telah mencoba memperbudak manusia karena itu, aku harus melenyapkannya.
Sesampainya di sana, para penjaga mengintrogasi kami semua, dari nama, keperluan serta asal kami.
Kami menjawabnya seadanya dan penjaga memperbolehkan kami masuk, kota ini telah melindungi iblis secara terang-terangan seharusnya dihancurkan saja.
Baru beberapa langkah kami malah di kelilingi penjaga yang lain.
"Ada apa ini?" tanyaku.
"Maaf saja, tapi kota ini memiliki peraturan bagi para pelancong di mana hanya orang yang mengabdikan pada Tarantula yang akan dibiarkan hidup sementara yang tidak, akan dihabisi."
Aku menghentikan Rin yang bergerak maju.
"Apa ada pilihan yang lain?" tanyaku ringan.
"Tentu saja ada, jika kalian bisa tinggal di kota ini, kalian harus bertarung di arena Colosseum dan memenangkan pertandingan, paling tidak salah satu dari kalian harus maju sebagai perwakilan."
"Jika kami menolaknya?" giliran Gabriela yang bertanya.
"Maka kalian tidak akan bisa keluar hidup-hidup."
Manapun adalah pilihan buruk.
__ADS_1
"Kalau begitu kami akan ikut duel."
"Pilihan bijak, siapa yang akan maju?"
"Aku sendiri," jawabku singkat.
"Baiklah, ikut denganku.. jika perwakilan kalian kalah salah satu harus menggantikanmu, jadi ingat itu."
Itu sama saja mengirim kami ke dalam kematian.
Dalam perjalanan aku bertanya ke arah penjaga.
"Siapa yang sebenarnya membuat peraturan ini?"
"Dia pemilik kota ini, dia juga yang membawa Tarantula kemari... setiap bulannya kami harus memberikan iblis itu makanan karena itu, bagi siapa yang mau mengorbankan keluarga terdekat mereka, pemilik kota ini akan memberikan banyak uang sebagai hadiah."
"Jangan-jangan semua orang yang gugur saat duel diberikan kepada iblis itu juga," atas pernyataan Amnestha, si penjaga mengangguk mengiyakan.
Sejauh ini aku bisa mengerti, apa yang sebenarnya terjadi.
Kesimpulannya.
Seorang bisa tinggal di kota ini jika ikut berduel atau memberikan makanan pada iblis itu demi kekayaan serta mengabdikan diri padanya.
Sebaliknya jika menolak mereka akan dihabisi.
Kami tiba di sebuah ruangan tunggu, di sini si penjaga akan mendaftarkanku sebagai peserta lalu memberikan penjelasan.
"Tidak ada aturan untuk berduel, kau harus membunuh lawanmu siapa saja itu."
"Bagaimana jika aku tidak membunuhnya?" semenjak datang kemari aku hanya bisa memberikan pertanyaan pada mereka.
Si penjaga diam sesaat lalu melanjutkan.
__ADS_1
"Tangan mereka harus dipotong, dengan begitu entah pemilik kota atau Tarantula, dia sudah tidak berguna lagi untuk kami dan dia akan dikeluarkan dari kota."
Sungguh mengerikan, itu jelas lebih menyakitkan daripada mati.
"Sebentar lagi giliranmu, bersiaplah?" penjaga itu berjalan lebih dulu sementara aku berbisik ke arah ke tiga pelayanku.
"Saat aku bertarung kalian bertiga bunuhlah semua orang di kota ini, biar kuhabisi sendiri si pemilik kota dan Tarantulanya.
"Kami mengerti."
Kota ini telah jatuh sejak awal karena itu, orang-orang di tempat ini sudah tidak layak untuk hidup. Aku berjalan ke arah penjaga itu dan saat berada di ujung lorong sebuah hamparan penonton tampak duduk selagi berteriak meriah.
Orang-orang ini hanya datang untuk melihat pembunuhan secara langsung, untuk pertanyaan terakhir aku kembali bertanya.
"Bagaimana dengan penduduk kota yang tidak menyukai hal ini?"
"Mereka sudah keluar dari kota ini sejak awal, kalau ada pertanyaan lagi cepat katakan saja?"
"Itu sudah cukup."
Aku menarik pedang dari punggungku lalu menebas penjaga itu hingga ia duduk bersandar di dinding.
"Apa yang kau lakukan? Kau akan terkena masalah."
Penjaga itu terlihat terkejut selagi mengeluarkan batuk darah.
"Tidak akan ada masalah yang menimpaku, karena kalian semua akan mati."
Dengan ringan aku menembuskan pedangku tepat di jantungnya sebelum melangkah masuk ke arena.
Dari awal aku bukanlah pahlawan yang memberikan kedamaian pada kedua sisi, entah itu orang baik atau buruk. Aku adalah orang yang menghancurkan segala hal yang tidak seharusnya ada di dunia ini.
Mata dibayar mata, dan nyawa dibayar nyawa.
__ADS_1