Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 436 : Penjelajah Dungeon


__ADS_3

Keesokan paginya Len mengambil waktu pagi sekali untuk berlatih, dia berlari mengelilingi lapangan akademi dimana siswa lain masih tertidur lelap.


Setelah 10 putaran dia melanjutkannya dengan olah raga sederhana seperti push up dan sebagainya.


Tak lupa dia juga membawa pedangnya untuk mengayunkannya sebanyak 1000 kali, ini adalah porsi latihan Kazuya saat dia hanya seorang penduduk desa.


"Akademi masih belum dimulai, kenapa kau ada di sini?" suara itu berasal dari Koko yang muncul dari belakang selagi menuntun Momo di belakangnya.


"Kau guru pendek."


"Siapa yang kau panggil pendek? Pendek."


"Aku cuma berlatih untuk memanaskan tubuhku sebelum beraktivitas."


"Teknik bertarungmu seperti Kazuya, apa dia yang mengajarimu?"


"Benar."


"Pantas saja, orang itu tidak normal jadi jangan terlalu memaksakan diri untuk mengikutinya."


"Aku akan mengingatnya.... ciat... ciat."


"Dan hentikan suara aneh itu."


"Tidak akan."


Setiap harinya Len ataupun Falena terus berlatih di bawah bimbingan Koko bersama para murid lainnya, setelah sebulan sebuah ujian diadakan.

__ADS_1


Siapapun yang mendapatkan nilai tinggi mereka diizinkan untuk menantang dungeon, Len maupun Falena lolos pertama dan mereka bisa menantang dungeon lebih dulu.


Di depan dungeon berbentuk tengkorak itu Len menarik pedangnya lalu berjalan beriringan bersama Falena, setiap dinding dialiri air serta lumut yang tumbuh subur di dalamnya setiap langkah mereka ditemani oleh riak-riak air yang jatuh dari atas gua menciptakan kolam-kolam kecil.


"Jadi seperti ini namanya dungeon."


"Kau takut Len?"


"Aku tidak takut."


"Kalau aku sedikit takut... aku belum pernah melihat monster."


Beberapa kodok muncul di depan mereka, walau ukurannya hanya sebesar setengah meter mereka bisa menggunakan lidah mereka sebagai cambuk.


Satu ekor melompat dan Len menusuknya dengan tenang hingga berubah menjadi koin tembaga.


"Aku mulai menyukai dungeon."


"Jika mengenai uang kau cepat berubah pikiran Len."


"Kalau kau tidak mau yah sudah."


"Aku tidak mengatakan tidak mau, jangan lupa untuk membaginya nanti."


"Baiklah."


Len mulai mengumpulkan beberapa koin yang dikumpulkannya lalu memasukannya ke dalam sihir penyimpanan miliknya.

__ADS_1


Mereka turun ke lantai dua di mana musuh yang harus dilawan masih seekor katak yang ukurannya sedikit lebih besar.


Katak itu melilit Falena, sebelum ia di makan Len sudah berdiri di antara keduanya lalu menusukan ujung bilahnya menembus kepalanya.


Tring.


Koin perak jatuh dengan bunyi pelan.


Tak hanya ukurannya, katak di lantai ke dua juga jelas lebih cepat dalam menyerang maupun bergerak bahkan mereka memiliki kemampuan kamuflase dengan lingkungan sekitar.


Len maupun Falena terus mewaspadai apapun yang mereka lewati tak terkecuali dinding, ketika mereka melihat sesuatu yang bernapas mereka akan langsung menyerangnya.


"Len di sampingmu."


Atas pernyataan Falena, dia menusukan pedang di batu di dekatnya dan seekor katak telah tertusuk dengan baik sebelum berubah menjadi koin perak.


"Bagaimana sekarang Len?"


"Aku sudah kelelahan, lebih baik kita mengakhiri ini dan kembali ke pusat desa."


"Cuma sampai lantai 5 kah, tempat ini benar-benar sulit."


Falena mengarahkan tangannya ke atas untuk mengaktifkan sihir teleportasi hingga keduanya muncul di tempat yang dimaksud.


Asalkan tempat itu sudah dikunjungi, mereka bisa kembali dengan mudah menggunakan sihir teleportasi sebelumnya.


Untuk sekarang beristirahat adalah sesuatu yang penting untuk keduanya.

__ADS_1


__ADS_2