
Aku kembali ke kota tepatnya di bar Elona, bagiku tidak ada tempat yang senyaman tempat ini.
Selagi menikmati tehku aku mulai menelusuri salinan dokumen evaluasi murid, di bagian atas ada dua nama yang menjadi perhatianku, mereka adalah Pireta dan Arthur. Keduanya cukup menjanjikan menjadi calon raja dimana masing-masing dari mereka hanya sedikit memiliki kekurangan.
Pireta tidak terlalu percaya diri dengan kemampuannya hingga mengalami kegagalan, sedangkan Arthur terlalu berani dan terkesan orang yang hanya bertarung menggunakan otot saja.
Seiring waktu mereka akan menyadarinya sendiri jadi tidak perlu untuk ikut campur. Kembali ke bar, dengan kembalinya pada Succubus orang-orang di sini semakin ramai.
"Tolong Omelet rice."
"Baik tuan."
"Aku pesan makanan paling enak di sini ditambah senyuman."
"Baik, senyumannya dua kali lipat dari harga makanannya."
"Uang bukan masalah."
"Berubah jadi enak, Kyun..Kyun.."
Bar yang menyajikan makanan memang terbaik. Di sini juga kita bisa sesekali mengintip para pelayannya.
Aku bertanya ke arah Reny.
"Elona tidak masuk hari ini?"
"Bos memiliki janji dengan seseorang di luar kurasa dia akan kembali beberapa menit lagi."
"Seseorang? Mungkinkah pacarnya," atas pernyataanku Reny menggerakkan tangannya ke kiri ke kanan.
"Aku pikir dia hanya sedang mengambil bahan langka untuk bar kami."
"Aku belum tahu itu?"
"Belakangan ini kami menyediakan menu spesial, ini dia."
Aku menerima menu dari Reny.
"Lobster emas?"
__ADS_1
"Benar, ini bahan yang langka dimana bahannya sendiri di dapat di perairan dingin di Utara, rasanya sangat enak."
"Begitu, boleh aku mencobanya... harganya cukup mahal pasti tidak banyak yang memesan ini."
"Ada beberapa orang yang memesan tapi mereka patungan sebanyak 50 orang."
"Sampai segitunya."
"Aku akan membuatnya sendiri, mohon tunggu sebentar."
"Baik."
Tak lama kemudian lobster emas telah disajikan di mejaku, kecuali warnanya tidak ada yang berbeda dengan lobster lainnya.
"Silahkan."
"Terima kasih, aku makan."
Ketika aku memasukannya ke dalam mulutku itu benar-benar sangat enak, kulit luarnya begitu renyah serta dagingnya yang empuk dan berlimpah membuat puas siapapun yang memakannya, aku bisa mengerti kenapa makanan ini sangat enak dan langka.
Langka di sini bukan karena bahan di dalamnya sedikit melainkan tempat untuk menangkap lobsternya sangat sulit.
"Sangat lezat."
"Syukurlah."
Ketika aku dan Reny berbincang santai, Elona muncul dengan wajah suram.
"Bos, kau seperti ikan mati?"
"Sebenarnya Minggu ini tidak akan ada lobster emas."
"Tidak mungkin."
Bahkan orang yang mendengar turut terkejut.
"Bagaimana bisa kita hidup tanpa lobster enak itu? Aku tidak mau menjalani hidup seperti itu."
"Jadi kau memesannya setiap hari?" aku balik bertanya pada pria tersebut.
__ADS_1
"Tidak, aku cuma akting biar tambah bagus situasinya."
Orang ini.
"Duduklah dulu Bos, akan kubuatkan air dingin."
"Tolong yah."
Aku bertanya pada Elona yang duduk di depanku.
"Memangnya segawat itu hingga kau panik?"
"Sebenarnya beberapa hari lagi akan ada pesta bagi para bangsawan di tempat ini, mereka ingin meminta sajian lobster emas sebagai menu utama."
"Ini pertama kalinya para bangsawan menggunakan bar sebagai tempat acara."
"Mereka mungkin mencari tempat yang sedikit bebas."
Reny datang dan memberikan gelas yang dibawanya yang langsung diminum oleh Elona.
"Aku tidak keberatan untuk membantu mencari lobsternya."
"Seriusan?"
"Selama ini Elona sudah banyak membantu aku rasa kini giliranku membantumu."
"Terima kasih banyak, dengan uang yang kudapatkan dari mereka, aku akan memperbesar tempat ini dan menambah jumlah Succubus di tempat ini juga."
"Bos ingin melakukannya?"
"Tentu saja, para Succubus nanti tidak perlu tinggal di jalanan lagi menawarkan mimpi aneh."
"Itu bukan mimpi aneh, itu adalah ambisi para pria."
"Itu mimpi aneh."
"Bukan.."
Aku hanya menikmati makananku selagi menonton perdebatan mereka.
__ADS_1