Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 269 : Hal Yang Ingin Disampaikan


__ADS_3

Dua hari berikutnya, di kedai yang ramai para pedagang Bougenville sedang menikmati makan malam mereka yang ditambah dengan minuman bir.


Untuk Arthur dan Clara mereka sedang melakukan pertemuan bersama receptionis guild pedagang.


"Ini baru dua hari tapi barang yang kalian jual hampir habis, aku yakin sehari lagi besok semuanya akan selesai."


Arthur bertanya ke arahnya.


"Apa potion yang dibuat oleh Clara semuanya dibeli oleh para bangsawan?"


"Ada beberapa dari kalangan menengah ke bawah meskipun mereka hanya membeli satu buah," mendapatkan jawaban itu, wajah Clara terlihat puas.


"Memangnya ada apa?"


"Sebenarnya ada barang lain yang ingin Anda jual murah."


"Murah."


Arthur mengambil sebuah tas cukup besar yang dari tadi ia taruh di bawah mejanya yang kemudian diberikan pada receptionis.


"Eh, tunggu ini..."


"Ini adalah salep buatanku yang memiliki efek sama seperti potion sebelumnya, aku ingin guild pedagang menjualnya hanya sekitar 5 koin tembaga."


"Kalian pasti bercanda."


Clara mengangkat bahunya sementara Arthur lebih membiarkan pembicaraan diambil alih sepenuhnya oleh Clara.


"Sebenarnya potion yang aku tawarkan kemarin digunakan untuk memeras kekayaan para bangsawan, sementara ini digunakan untuk membantu orang-orang yang terluka jika aku membuat potion yang sama para bangsawan akan marah, tapi jika berbentuk salep mereka tidak akan curiga kalau yang menjualnya orang yang sama."


"Kalian benar-benar pedagang? Bukannya itu sama saja membuat kalian rugi."

__ADS_1


"Kurasa tidak juga, benarkan Arthur."


"Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan uang, bagi kami membantu orang juga sesuatu yang membahagiakan."


"Begitu, baiklah... aku akan menjualnya seperti yang kalian inginkan, jika bangsawan membelinya aku akan menolaknya."


"Sesuai yang diharapkan dari mbak receptionis, malam ini biar aku yang membayarnya sebagai permintaan maaf karena merepotkan Anda," kata Arthur.


"Tidak udah, ini sudah tugasku, aku akan menganggapnya ini sebagai hutang... lain kali giliran aku yang akan mentraktir kalian berdua."


"Sepakat."


Ini adalah cara membuat hubungan bertahan lama antar pebisnis.


"Tolong birnya."


"Baik."


Clara dan Arthur saling bertukar pandang lalu mengangguk mengiyakan.


"Ini waktunya kita mencari tahu namanya."


"Benar sekali," balas Clara, semenjak datang ke kota ini, receptionis di depan mereka tidak pernah menyebutkan namanya bahkan di pakaiannya juga tidak tertera nama siapapun.


Arthur memegangi bahunya untuk mendorongnya ke belakang sementara Clara mulai meraba-raba sekujur tubuhnya dan menemukan identitas si receptionis.


Namanya.


"Mionmion."


"Bukannya namanya sangat imut."

__ADS_1


"Aku juga setuju, aku akan meletakkan kembali kartu namanya dan Arthur sebaiknya kau mengantarnya pulang."


"Meski kau mengatakan itu, aku tidak tahu dia tinggal di mana."


"Apa sebaiknya dia tidur bersamaku saja di penginapan?" tepat saat Clara mengatakannya, ibu pemilik kedai muncul lalu memberitahukan lokasi rumahnya hingga akhirnya Arthur sendiri yang mengantarnya dengan menggendongnya di punggung.


Hari sudah larut malam hingga tak ada siapapun yang terlihat di sepanjang jalan yang merek lalui. Untuk seorang wanita dewasa harusnya dia tidak membuat dirinya mabuk.


"Mbak receptionis, kau baik-baik saja?"


"Apa aku terlihat sakit, tentu saja aku baik-baik saja... hoah, kamu anak baik? Kakak sangat suka pria sepertimu."


Dia mabuk.


"Berhentilah memelukku, saat sadar Anda akan merasa malu."


"Mana mungkin, aku sudah dewasa melakukan hal memalukan bukannya sudah tidak aneh lagi.. uwaahh kepalaku pusing."


"Tingkah orang dewasa memang seperti ini."


Arthur naik ke atas tangga membuka salah satu kamar yang disewa lalu membaringkan tubuh Mionmion di atas tempat tidur, ia merasakan pinggangnya berderit karena kaku.


"Kalau begitu aku harus pergi."


"Jangan pergi, temani aku sampai tidur... aku hanya tinggal sendirian di sini, terkadang itu menakutkan."


Bagi Arthur dia sama sekali tidak mengharapkan hal seperti ini, terlebih Arthur sudah tahu bahwa wanita di depannya sudah mulai sadar sebelum dia memasuki tempat ini seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.


Sebenarnya apa itu?


Tanda tanya muncul di kepala Arthur?

__ADS_1


__ADS_2