
"Akan kuperlihatkan bagaimana sihir ledakan sesungguhnya itu, sialan."
Diiringi musik kematian sebuah lingkaran sihir raksasa telah muncul di langit, jumlahnya sekitar 10 buah dengan masing-masing berputar ke arah berbeda.
"Dia sudah gila, dia ingin meledakkan kita semua," ucap Helfina.
"Kita, maksudmu kalian... Oi Edgar, lakukan tugasmu."
"Yare, yare seenaknya saja kau menyuruhku begitu saja."
Yang muncul dari belakang Ludin adalah seorang pria berambut perak yang diikat bergaya ponytail.
"Dia juga seorang pahlawan loh."
Edgar menjentikkan jarinya dan seketika aku maupun Helfina muncul di sebuah tempat serba putih dimana kedua orang yang sedang kami hadapi berdiri di atas batu raksasa yang menyerupai iblis dengan empat tangan.
"Sihir ruang dan waktu" kataku demikian.
"Haru lingkaran sihirnya ikut bersama kita juga."
Ini gawat, aku tidak bisa menghentikan perapal sihir tingkat tinggi ini terlebih, kami juga terputus dari ketiga orang yang kupanggil sebelumnya.
Aku memang abadi meski begitu akan berbahaya bagi Helfina, dia bisa mati.
Ludin tertawa lalu berkata.
"Sihir ini sihir yang sama yang pernah kulakukan pada para ras naga, mereka adalah makhluk terkuat di dunia ini akan tetapi mereka tidak ada apa-apanya setelah menerima sihirku haha."
"Kau terlalu berlebih Ludin, cepat selesaikan."
"Sesuai yang kau inginkan."
"E..."
Sihir yang bisa menghancurkan segalanya.
__ADS_1
"Edison."
"Itu nama orang," teriakku.
Setiap lingkaran sihir bersinar terang dan siap menjatuhkan kami berdua dengan ledakan luar biasa, akan tetapi tiba-tiba saja Gabriela muncul secara mendadak di antara aku dan Helfina.
"Sihir yang menarik.. Recall," bersamaan perkataannya sihir ledakan itu lenyap sekaligus.
"Mustahil, siapa kau?"
Ludin dan Edgar cukup beraksi dengan hal itu hingga kedua bawahanku lainnya telah mengepung keduanya.
"Membosankan harus melawan pria terus, ada wanita kah."
"Biarkan aku menjadikan mereka sebagai pupuk tanamanku."
Rin, Amnestha dan juga Gabriela.
"Kami datang untuk menyelamatkan tuan kami" kata Rin sedikit menggoda.
Dia tidak menyukai pria jadi aku tahu senyuman itu palsu.
"Ogah, entah kenapa rasanya keperawananku terancam sekarang."
Aku seharusnya tidak mendengar hal barusan.
"Bagaimana ini Edgar?"
"Mereka bisa menerobos dimensiku, apa boleh buat kita gunakan skill itu."
Aku berteriak ke arah Rin dan Amnestha.
"Cepat hentikan mereka."
Sebelum mereka bisa melakukannya mereka lebih dulu diterbangkan oleh angin tornado hingga jatuh ke bawah.
__ADS_1
"Mode Dewi suci, diaktifkan," kata Edgar tersenyum puas.
Entah itu Edgar atau Ludin keduanya telah diselimuti cahaya keemasan tapi itu hanya sesaat sebelum akhirnya kembali menghilang.
Menaikan status dalam waktu tertentu, itulah yang mereka lakukan.
Gabriela sedikit khawatir.
"Berkah Dewi."
Dia memunculkan empat sayap di punggungku lalu mwlesat ke arah Edgar, sebelum sampai patung itu tiba-tiba bergerak lalu menghantam Grabiela dengan tangannya hingga ia menukik jatuh.
"Biar aku saja yang menghadapi ketiganya, kau urus kedua orang itu."
"Baiklah."
Keduanya berpisah yang mana kini lawanku dan Helfina hanya Edgar dengan patung iblis sebagai senjatanya.
"Wajah keterkejutan kalian berdua cukup bagus."
"Kau ini orang bodoh, menggunakan berkah Dewi untuk hal seperti ini."
"Kau tahu banyak, apa jangan-jangan kau pahlawan juga? Biarlah siapa kau itu tidak akan merubah apapun."
Kaki patung itu berusaha menginjak kami berdua, aku merangkul Helfina lalu berguling untuk menghindari serangannya.
"Helfina?"
"Tubuhku tak bisa bergerak."
"Itu adalah kekuatan patung iblis ini, setiap orang yang melihatnya akan disiksa oleh ketakutan hingga mereka tak bisa bergerak, matilah."
Kaki patung bersiap menginjakku bersama dengan Helfina sekaligus, aku menahannya dengan satu tangan kemudian melemparkannya ke atas hingga terjatuh bersama pemiliknya.
Aku berdiri dan menarik bibirku untuk tersenyum.
__ADS_1
"Dibanding bersama para pelayanku hal merepotkan segini bukan apa-apa."
"Kau?"