
Setelah semua pembangunan selesai sudah sewajarnya mengadakan sebuah perayaan, selagi membiarkan orang-orang sibuk menghias pusat desa ini, aku Haru Kazuya akan pergi memancing.
Aku mengambil libur sehari dari pekerjaanku yang melelahkan agar bisa bersantai seorang diri.
Tempat yang kutuju adalah sebuah sungai yang jarang diketahui orang lain karena berada di tengah hutan, sesampainya di sana aku duduk di atas batu lalu melemparkan kail pancingku yang telah diberi umpan.
Pertama ikan kecil yang kudapatkan kemudian ikan sedang lalu ikan yang paling besar, saat aku berfikir aku akan mendapatkan ikan lainnya seekor rakun duduk di sebelahku, dia melemparkan pancing miliknya dan dalam sekejap dia mendapatkan ikan besar selagi tersenyum sombong.
Hewan ini menyebalkan.
Aku memilih mengabaikannya dan kembali ke pancinganku yang telah ditarik sesuatu. Yang kudapatkan ikan yang jauh lebih besar dari rakun tersebut.
Aku tanpa sadar tersenyum sombong yang mana membuat rakun itu kesal, hal itu terus saja terulang hingga di belakang kami sebuah tumpukan ikan telah menggunung.
Meksi begitu, aku tetap yang menang.
"Aku kalah."
"Kau bisa berbicara?" tanyaku.
"Memangnya bagimu seekor rakun yang bisa memancing sudah biasa."
"Kau bisa memancing?"
"Telat oi," teriaknya.
"Jadi bagaimana dengan ikannya?"
"Entahlah, tidak jauh dari sini ada pemukimanku... akan sulit membawa semuanya."
__ADS_1
Jika begitu aku menawarkan diriku untuk membawanya lewat sihir penyimpananku lalu pergi ke pemukiman yang dimaksud, ada sebuah desa yang cukup tersembunyi di balik semak-semak di mana seluruhnya dihuni oleh para rakun.
Kami berjalan ke tengahnya hingga para rakun mengelilingiku.
"Ada manusia."
"Yo, kalian tampak lembut."
"Tuan Kazuya."
"Ah benar."
Aku menjentikkan jariku dan gundukan ikan muncul di sana.
Rakun bersamaku berkata.
Mereka berteriak senang..
"Jadi apa yang akan kalian buat dengan ikannya?"
"Kami akan memakannya langsung."
"A-apa? Apa kalian tidak bisa memasaknya."
"Memasak?" semua rakun memiringkan kepalanya.
"Serahkan padaku, aku akan mengajari bagaimana membuat api maupun memasaknya."
Api bisa dibuat dengan teknik menggosok kayu atau membenturkan kedua batu agar membuat percikan api.
__ADS_1
Pertama bagian awal adalah membuat bumbu, garam bisa diambil di dalam gua di sana, ada banyak batu garam yang bisa digunakan.
Kedua adalah kecap yang bisa dibuat dengan cara fermentasi kacang, karena membutuhkan waktu lama membuatnya jadi aku memberikan mereka secara gratis dari sihir penyimpananku.
Dan ketiga aku meminta seluruh rakun jantan untuk mengumpulkan bahan makanan di sekitar rumah mereka, sementara yang betina akan membantuku memasak.
"Kalau begitu mari bergerak."
"Oh."
Bahan pertama yang kami olah tentu saja ikan, dengan membuang kotoran di dalam tubuhnya ikan akan terasa lebih lezat, untuk bagian ususnya kita bisa menggorengnya juga di wajan berbeda.
Aku mengatakan itu pada rakun betina hingga mereka mengangguk mengiyakan lalu melakukan sama persis seperti yang kutunjukan. Melihat rakun memegang pisau adalah pemandangan yang jarang ditemui di manapun.
Setelah mereka selesai mereka mulai menggorengnya maupun membuatnya menjadi sup.
Para rakun jantan juga secara bertahap menumpuk bahan makanan yang mereka temukan, ada jamur, kemudian rebung, ubi jalar serta talas.
Tidak sedikit juga yang membawa buah-buahan kecil serta daun mint yang disukai para rakun.
"Bahannya sudah terkumpul dengan baik, sekarang kalian juga harus belajar memasak."
"Baik."
Aku mengajarkan semua hal yang bisa kulakukan pada mereka, semuanya hanya resep sederhana meski begitu dalam memasak mereka ke depannya akan menemukan resepnya sendiri hingga semakin berkembang.
Setelah semua hidangan tersaji sebuah perayaan akhirnya bisa dimulai.
Aku juga harus kembali dan mengecek pekerjaan semua orang di desa.
__ADS_1