Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 160 : Skill Terakhir


__ADS_3

Di depanku Alexius berdiri dengan santai, dia meregangkan tangannya dan berkata.


"Dewa kegelapan dan mantan pahlawan siapa yang akan menang? Sama seperti dulu aku juga akan membunuhmu... Hisperia."


Dalam sekejap area kota telah terselimuti warna merah darah menelan warna langit sesungguhnya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyaku.


"Ini adalah salah satu kemampuan khususku, dengan ini entah kau dan aku tidak akan bisa hidup lagi maupun bereinkarnasi, kita berdua akan benar-benar mati dan memilih neraka atau surga untuk menjadi tempat terakhir."


Aku menunjuk ke arahnya.


"Kau yang akan masuk neraka."


"Kau terlalu yakin bisa mengalahkanku Beaufort."


Kami berdua melangkah maju dan saling mengirim tinju maupun tendangan satu sama lain, aku memukul wajahnya beberapa kali hingga dia memuntahkan darah dan begitu pula Alexius memberikan damage yang sama padaku.


Sihir ini juga memaksaku untuk tidak bisa menggunakan kemampuan dari sepuluh cincin milikku.


Brak.


Brak.


Kami saling terbang menghancurkan dinding bangunan.


Alexius mengarahkan tangannya menciptakan sihir api, aku juga begitu hingga kedua sihir kami berbenturan menghasilkan ledakan besar, entah bangunan atau fasilitas umum semuanya diterbangkan dengan mudah membuat area sekeliling kami menjadi tanah kosong tanpa apapun.


Aku mengeluarkan pedang Grandbell dari tanganku, begitu pula Alexius yang mengeluarkan pedang Excalibur, jika ada sosok yang lebih mengerikan dari apapun itu adalah pahlawan, mereka memiliki kemampuan lebih dari 100 skill dengan peringkat S.


Kami saling membenturkan pedang dan itu menghasilkan ledakan yang memekakkan telinga, sebuah topeng mata tiga menempel di wajahku saat Alexius mengirimkan tebasan cahaya padaku.


Aku menangkisnya ke samping dan lagi-lagi ledakan tercipta di sana membuat seluruh kota hancur berserakan.

__ADS_1


"Kau ini telah menjadi pahlawan tapi kulihat kau hanya memiliki skill sedikit, biarlah.. Aku akan menyelesaikan ini."


Pedang Excalibur milik Alexius berubah menjadi busur dan ia menarik panah cahaya dari sana, aku pun menghilangkan Grandbell dan menggantinya dengan busur api hitam.


Di saat yang sama kami meluncurkan panah tersebut yang mana saling bertubrukan dengan dahsyat, sayangnya panahku tidak bisa mengimbangi kekuatannya hingga itu berhasil mengenai wajahku membuatku terdorong beberapa meter ke belakang.


Topeng yang kupakai hancur berkeping-keping sementara darah terus mengucur dari keningku.


"Kau begitu mengecewakan Dewa Kegelapan."


"Jika kau menganggapku seperti itu kenapa tidak biarkan aku menggunakan cincinku."


Alexius mengubah pedangnya kembali sedia kala, satu tangan lain memegangi wajahnya selagi tertawa keras.


"Aku tidak begitu bodoh untuk melakukannya, cincin yang kau gunakan itu seharusnya tidak ada di dunia ini, cincin itu telah menghancurkan batas akal sehat dari dunia."


Aku kembali berkata.


"Jika aku melawan orang yang memiliki cincin ini aku juga akan bilang begitu, syukurlah cincin ini hanya dimiliki olehku dan hanya aku sendiri yang bisa menggunakannya."


"Aku memang bodoh, hanya membuat satu cincin aku harus bertarung dengan 10 juta monster dan mengambil jiwa mereka, beberapa kali aku juga berada di kondisi sekarat... tapi apa boleh buat, dulu aku hanya orang desa yang lemah yang ingin bertambah kuat."


"Aku bisa mengerti perasaanmu itu, saat kau berada di atas puncak kau mulai kehilangan jati dirimu hingga berusaha menguasai dunia ini dan berharap seseorang mengalahkanmu."


"Tepat sekali, tapi sekarang berbeda, aku memiliki banyak orang yang harus kulindungi sekarang dan aku tidak perlu mati kesepian."


Aku berhenti sejenak lalu melanjutkan.


"Berbeda denganmu yang membuang semuanya, aku akan merangkul semua orang untuk saling tertawa bersama."


"Mimpi yang bodoh, orang kuat ada untuk disembah oleh yang lemah.. Itulah sebuah kebenaran."


Sebelum aku melangkah maju, sosok Minerva muncul dari atas untuk menebas Alexius.

__ADS_1


"Akan kubunuh kau."


"Tak berguna."


Alexius mengayunkan pedangnya dan seketika kedua pedang Minerva hancur.


"Mustahil, pedangku hancur."


Darah menyembur dari tubuh Minerva hingga dia tumbang ke tanah, aku buru-buru maju dan memaksa Alexius mundur ke belakang.


Syukurlah organ vitalnya tidak terkena.


Air mata mengalir dari wajah Minerva.


"Bahkan hingga sejauh ini, aku tidak bisa mengalahkannya, maafkan aku semuanya."


Semua ras Oni telah dibunuh oleh Alexius karena itu dia hanya hidup sendirian sebagai Ras Oni sekarang.


Aku berkata padanya.


"Jangan bersedih Minerva, akulah yang akan membalaskan dendam semua keluargamu serta menyelamatkan semua orang."


"Haru Kazuya."


Aku berdiri lalu empat layar beranda muncul di depanku, dunia ini memiliki konsep seperti sebuah game untuk para pahlawan karena itu aku akan mengalahkannya dengan cara seperti ini juga.


Kuhancurkan seluruh skill dan kemampuan yang kumiliki, semuanya termasuk extra skill.


Patung muncul dari depanku lalu hancur begitu saja, kukorbankan seluruh poinku yang selama ini kutabung yang semuanya berjumlah 1 juta poin.


Alexius tertawa.


"Apa yang sedang kau lakukan?"

__ADS_1


"Kau bertanya kenapa aku memiliki skill sedikit dari kebanyakan pahlawan miliki sepertimu, itu karena aku menunggu saat ini... aku mengorbankan seluruhnya hanya untuk satu skill."


Ekpresi Alexius mulai memucat bahkan senyuman di wajahnya telah hilang seutuhnya.


__ADS_2