Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 311 : Pengiriman Bahan Makanan Bagian Satu


__ADS_3

Dalam perjalanan, mereka dihadang sekumpulan bandit yang menggunakan benteng pos pemeriksaan yang telah tidak terpakai, mereka mengepung setiap kereta dengan berbagai senjata yang mereka punyai.


Salah satunya berkata.


"Kami akan memperlakukan wanita dengan baik," tepat saat dia menyelesaikan perkataannya sebuah tangan telah menembus tubuhnya hingga tewas dalam sekejap.


Bertepatan tangan itu ditarik keluar, darahnya bergerak lalu membentuk sebuah pedang panjang.


Wanita kejam dengan tatapan tajam itu adalah seorang vampir sekaligus mesin pembunuh tanpa hati nurani, dia adalah Rin Elisten.


Tak terima dengan perbuatannya lima orang melompat ke arahnya.


Dan selanjutnya.


Kelima kepala terpenggal ke udara, dari setiap tubuh yang tumbang itu, menyemburkan darah bersama suara yang terdengar aneh. Sementara bandit sisanya terbunuh oleh para naga.


Salah satunya mendekat ke arah Rin.


"Nona Rin, apa Anda tidak apa-apa?"


"Bukan masalah, bereskan mayatnya, dan kita akan langsung bergerak."


"Baik."


Sekitar sepuluh kereta yang membawa persediaan makanan kembali bergerak menyusuri jalanan hutan dengan pepohonan rimbun.


Desa yang mereka tuju adalah desa terpencil, karena itu hal seperti monster atau bandit adalah sesuatu yang sering mereka lewati, bahkan tidak terkecuali para pelayan lain yang memiliki tugas yang sama.


Sesampainya di desa, para penduduk bertanya-tanya selagi mengerumuni setiap kereta yang masuk ke tempat mereka, Rin mengubah wajahnya ke mode pelayan ramah.


"Halo semuanya, namaku Rin Elisten aku adalah salah satu pelayan tuan Kazuya, aku datang kemari untuk mengantarkan bahan makanan yang bisa kalian gunakan."

__ADS_1


Beberapa pria dari ras naga di belakang Rin langsung tersedak seolah sesuatu masuk ke dalam mulut mereka, saat Rin mengalihkan pandangannya mereka semua berlarian dan langsung membagi persediaan kepada penduduk yang mengantri.


Setiap orang paling tidak memiliki bahan makanan yang mereka bisa gunakan selama tiga hari.


"Terima kasih."


"Itu yang terakhir Nona Rin."


"Mari lanjutkan perjalanan... kita akan sampai di desa berikutnya sebelum malam hari."


"Okay."


Rin mengeluarkan peta di tangannya dan mulai menandai tempat yang mereka sudah singgahi, salah satu gadis kecil berkata ke arahnya.


"Anu... apa kami boleh memakan makanan segar ini?"


"Tentu saja, apa ada seseorang yang melarangnya?"


"Tidak, hanya saja bahan makanan itu sangat berharga di tempat ini."


"Begitukah, karena di sini dekat danau kalian hanya bisa memakan ikan saja, tunggu sebentar."


Rin pergi untuk mengambil beberapa kantong biji di dalam kereta beserta sebuah tulisan cara merawatnya.


"Kau bisa membaca?"


"Tentu."


"Baguslah, ambil ini dan cobalah tanam ini bersama penduduk lainnya."


"Ini?'

__ADS_1


"Hanya biji bayam, kangkung serta jagung... jika kalian bisa menumbuhkannya kalian bisa menikmatinya setiap hari dengan mengambil benihnya kembali."


"Aku mengerti."


Rin tersenyum kecil selagi mengelus rambutnya sebelum kembali masuk ke dalam kereta.


Di desa berikutnya mereka menghabiskan malam di kedai makan, Rin mengambil kursi bersama para pria yang bersamanya dalam perjalanan, tentu hanya dia wanita satu-satunya di karavan tersebut.


Ini untuk mencegah Rin melecehkan wanita lain, bagaimanapun dia hanya menyukai sesama wanita.


"Nona Rin mari bersulang."


"Bersulang."


Rin hanya meminum seteguk air di gelasnya.


"Anda terlihat lesu."


"Aku hanya bisa meminum darah wanita, apa di sini ada penyewaan wanita seperti prostitusi."


"Mana mungkin ada hal seperti itu di tempat seperti ini," teriak semuanya selagi mendesah pelan.


"Kalau begitu aku akan memakai wanita di sana, dadanya besar."


"Tolong jangan lakukan itu, kita dalam misi penting... bukannya tuan Kazuya sudah memasukan beberapa darah beku di dalam kereta, kami terpaksa akan melaporkannya."


"Kalian bersengkongkol dengan tuan Kazuya."


Semuanya hanya membungkuk sebagai permintaan maaf hingga Rin menjatuhkan bahunya lemas.


"Apa boleh buat, aku tidak ingin terkena hukuman dari tuan."

__ADS_1


__ADS_2