
Di dunia lain yang pernah aku tinggali ada cara untuk menikmati ikan tanpa harus memasaknya yaitu membuatnya jadi sushi atau shasimi.
"Jadi begitu, dengan pola potongan yang sempurna bisa mendapatkan masakan dengan cita rasa luar biasa, akan kutulis dalam buku catatan... kukira aku akan membuat bisnis kembang api serta makanan laut."
"Huum... humm.. enaknya, aku tidak berhenti memakannya."
"Ini enak," Selly dan Sella pun tampak menikmatinya.
Aku mengirim potongan daging ikan ke dalam mulutku, untuk sisanya aku akan membakarnya saja.
Lain kali kuharap mereka tidak memancing ikan sebanyak ini. Sesampainya di dermaga kami menyelinap keluar secara diam-diam.
Kota ini telah dikuasai seutuhnya oleh musuh dan sulit untuk bergerak secara leluasa, kami berlarian di sepanjang gang-gang sepi.
"Ngomong-ngomong apa kau tahu sebenarnya yang mereka inginkan?" tanya Akane.
"Kupikir ini bersangkutan dengan sihir suci."
"Memangnya untuk apa menggunakan sihir suci?"
"Entahlah tapi kurasa itu bukan hal baik, sama seperti menara di dalam air itu semuanya dibuat dengan sihir suci."
"Apa mungkin mereka menggunakan pengetahuan dari suku Atlantis."
"Itu hanya kemungkinan saja."
Aku membentangkan peta di depan kami yang berjongkok membentuk lingkaran kecil.
"Aku dan Amaterasu akan mengambil jalur depan, sementara Selly, Sella dan Akane mengambil jalan belakang, hancurkan saja apapun yang kalian lewati."
"Terdengar menyenangkan kan Selly."
__ADS_1
"Ini tugas yang cocok dengan kami."
Di tengah kota ini ada sebuah kapal terbang raksasa yang digerakkan oleh batu sihir, tidak salah lagi bahwa di sanalah markas rahasia dari Raja Dunia Holdan.
Kali ini aku akan menghajar Miguel ataupun raja yang dilayaninya.
"Mari bergerak."
"Laksanakan."
Aku dan Amaterasu mengambil arah yang berbeda dengan kelompok Akane, setelah mengalahkan pasukan musuh sayangnya yang datang bukan Miguel melainkan dua orang yang sebelumnya mengalahkan Selly dan Sella.
Mereka pria dengan rambut funk, salah satu membawa gitar dan satu lagi membawa mikropon.
"Kita kedatangan mangsa baru Red."
"Benar sekali Green, wanita cantik dan pria culun."
"Tuan Kazuya lebih cocok di sebut pria liar."
"Jangan mengatakan aneh tentangku."
"Mari berikan mereka musik kematian kita."
"Benar sekali, Rock N Roll."
Red memainkan gitarnya hingga tiba-tiba tubuh kami tidak bisa digerakkan kecuali mengangguk-anggukan kepala kami ke depan dan ke belakang.
Sementara itu Green bernyanyi.
"Guk ngangguk ngangguk ngangguk ngangguk ngangguk ngangguk guk
__ADS_1
Guk ngangguk ngangguk ngangguk kaya' ayam lagi matuk tuk
Guk ngangguk ngangguk ngangguk ngangguk ngangguk ngangguk guk
Guk ngangguk ngangguk ngangguk kaya orang lagi batuk."
"Uwah.. kepalaku pusing tuan Kazuya."
"Aku juga."
"Sekarang Red, rubah musiknya."
"Oke."
Dari kami yang mengangguk sekarang berubah menjadi menggelengkan kepala.
"Leng geleng geleng geleng geleng geleng geleng
Leng geleng geleng kaya' ayam lagi celeng
Leng geleng geleng geleng geleng geleng geleng
Leng geleng geleng kaya' orang ditempeleng"
Jangan menggunakan lagu orang lain sebagai senjata sialan, lagipula ini lagu Project Pop, aku melompat lalu memukul wajah Green hingga dia menabrak Red di belakangnya sampai terpental menembus bangunan.
Keduanya keluar dari puing-puing bangunan yang menimpa mereka.
"Hebat sekali kau bisa bergerak setelah mendengar permainan kami, tapi lagu kematian sebenarnya adalah sekarang."
Keduanya membuat satu lingkaran sihir raksasa di atas langit dan dari sana sosok berjubah hitam muncul dengan sabit raksasa di tangannya.
__ADS_1
"Grim Reaper," kata keduanya.