Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 510 : Batu Roh


__ADS_3

Ini adalah sebuah menara yang berada di pulau langit atau kami menyebutnya menara pengetahuan.


Semenjak penunggunya lebih menghabiskan waktu menulis novel tempat ini dijaga oleh muridnya Beresford.


Namun sepertinya aku salah duga tentang itu.


Di depanku Asteropedia duduk selagi membaca buku tebal di kedua tangannya.


"Lama tak bertemu Kazuya kau memerlukan sesuatu?"


"Bukannya kau sibuk menulis?"


"Aku sudah pensiun, aku terlalu terbawa suasana kini akhirnya aku bisa menemukan jalanku yang seharusnya, manjadi penunggu perpustakaan ini."


"Ini pasti mimpi."


Aku mencubit diriku sendiri dan itu terasa sakit.


"Kau akhirnya sudah kembali, lalu bagaimana perusahaanmu?"


"Sudah kuberikan pada orang lain."


"Syukurlah."


Aku pikir gara-garaku tempat ini di kosongkan, syukurlah dia telah kembali.


Tampak Beresford juga sedang menata buku-buku di rak lain. Aku mengutarakan keinginanku hingga Asteropedia memikirkannya.


"Roh salju, kurasa kau bisa menemukannya di belakang pintu itu."


"Aku baru tahu ada pintu di sana."

__ADS_1


"Koleksi bukuku semakin banyak jadi sebagiannya ada di sana."


Aku maupun Katharina berjalan ke pintu itu setelah menyapa Beresford, saat aku membukanya ruangan yang lebih luar tampak menyambut kami.


"Ini sihir ruang dan waktu ya."


"Sepertinya begitu," jawabku pada Katharina sebelum memulai pencarian.


Aku mulai mencari menurut alfabet kemudian menemukan buku tersebut.


"Peri salju hanya bisa keluar pada hari bersalju meski begitu ada cara agar mereka hidup tanpa harus menidurkan dirinya sendiri yaitu dengan batu roh."


"Batu roh?"


"Roh salju bisa tinggal di dalamnya dan sesekali keluar dari sana, walau waktunya sebentar paling tidak roh tersebut tidak terkurung di satu tempat."


"Ah begitu... tapi cara mendapatkannya sulit juga, batu roh harus dibuat dari beberapa batu lainnya termasuk tetesan embun kehidupan dari seekor kura-kura raksasa yang tinggal di pegunungan dingin."


Setelah mendapatkan informasi yang kubutuhkan kami kembali ke desa, di pinggir pulau melayang Bellatrix tampak duduk dalam wujud naganya selagi melihat pemandangan awan yang memukau.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Aku lapar."


"Bukannya aku sudah mentraktir kalian berdua tadi."


"Saat dalam wujud manusia perutku akan kenyang tapi jika dalam wujud naga aku lapar."


Ukuran juga mempengaruhi rupanya.


"Di bawah sana ada sebuah sungai, mari cari ikan untuk dipanggang.

__ADS_1


"Itu ide bagus."


Aku naik ke punggung Bellatrix dan begitu juga Katharina yang duduk di belakangku selagi memelukku.


"Kau terlalu erat."


"Aku takut ketinggian."


Sudah jelas dia berbohong.


Naga Bellatrix mendaratkan kakinya sementara aku dan Katharina turun ke sungai untuk menangkap ikan yang berenang indah.


Katharina menangkap ikan yang berenang di bawah kakinya lalu melemparkannya ke tepian, beberapa juga masuk ke dalam mulut Bellatrix.


"Makanan memang paling segar dimakan ketika masih segar."


Aku tidak ingin berkomentar apapun.


Setelah beberapa percobaan aku juga mendapatkan beberapa ikan, kecuali Bellatrix aku dan Katharina lebih memanggangnya dengan api unggun.


Katharina hanya makan sedikit begitu juga aku sementara sisanya berakhir di perut Bellatrix.


"Aku sangat kenyang, lalu pergi kemana kita selanjutnya?"


"Sepertinya kita akan masuk ke dalam dungeon."


"Dungeon? Gua yang sempit itu?"


"Ada beberapa batu yang bisa ditemukan di sana aku perlu mengambilnya untuk menciptakan batu roh."


"Begitu, kemana saja aku akan mengantarkan kalian... kurasa jika dalam bentuk manusia aku tidak akan kesulitan bergerak di dalam sana."

__ADS_1


Sejujurnya di dungeon juga ada beberapa area yang bisa dimasuki puluhan naga jadi soal Bellatrix yang masuk ke dalamnya itu bukan masalah.


__ADS_2