
Di Kota Bendungan Andreas aku akhirnya mendapatkan ketenanganku, orang-orang yang tadinya tidak memiliki kebebasan kini mulai kembali ke rutinitas harian mereka sementara aku hanya berjalan melewati mereka untuk memastikannya.
Ini sangat damai.
Aku bisa mengatakan itu sebanyak yang kumau, Rusina masih tidur di penginapan karena terlalu banyak meminum alkohol seharusnya aku melarangnya sejak awal.
Langkahku berhenti di sebuah kedai yang menyediakan makanan enak dimana aku memesan beberapa daging panggang yang di atasnya di taruh keju mencair, aku juga memesan minuman bebas alkohol seperti biasanya.
Kemarin aku telah mendapatkan mimpi yang indah dimana aku berkencan dengan Dewi Ristal, walau penampilannya sedikit tomboi banyak hal imut terlihat darinya.
Dibanding ketiga Dewi yang lain kencanku dengan Dewi Amnesia sangatlah melelahkan dia terus saja memintaku untuk bermain game dengannya hingga aku tidak bisa bermain lagi untuk beberapa waktu.
Yah, mari lupakan soal itu untuk segera menikmati pesananku sendiri.
"Silahkan dinikmati."
"Terima kasih."
Aku mulai dengan potongan kecil yang mana segera kumasukkan ke dalam mulutku, rasa yang begitu menyegarkan. Ketika aku memikirkan hal itu tanpa sadar seseorang telah mengambil kursi di sampingku, ia mengenakan jubah coklat yang menutupi seluruh badannya bahkan untuk melihat wajahnya itu tertutup sepenuhnya.
Saat aku kebingungan seseorang yang tidak kutahu itu mengambil makananku seolah telah menjadi makanannya sendiri.
"Aaah."
Nyam.. nyam.
Walau tidak melihat ekspresinya dia tampak menikmatinya, aku bisa mendengar dari suara mulutnya.
__ADS_1
Mungkin dia kelaparan karena itu aku meminta pelayan membawakan kami lebih banyak makanan seperti itu, mungkin karena suka makan daging dadanya bisa sebesar itu juga.
"Hey Kazuya, aku ingin makan makanan manis," aku sungguh terkejut saat dia memanggil namaku terlebih seorang yang berada di balik tudung itu adalah Dewi Ristal.
"Kenapa Dewi ada di sini?"
"Ssssttt.... jangan panggil aku Dewi, panggil aku Risa saja."
Aku memperhatikan sekelilingku untuk mengamati, syukurlah tidak ada yang mendengar perkataanku barusan.
"Ini sangat enak, makanan manisnya?"
Pada akhirnya aku memberikan apa yang Dewi Ristal mau.
"Aku benar-benar kenyang, sebagai balasan apa yang kau mau dariku?"
"Fufu, kau masih nakal.. dada besar mempunyai resiko besar juga, apa kau siap dengan resiko tersebut?"
"Jika aku harus mati, tidak akan ada penyesalan lagi."
Orang-orang mulai melirik kami dan tampak wajah Dewi Ristal memerah.
"Bangunlah, aku malu."
"Ah iya, maafkan aku."
Saat aku duduk kembali di sebelahnya ia memelukku dan menempatkan kepalaku di dadanya.
__ADS_1
"Begini sudah cukup kan."
"Ini lembut, bahkan lebih lembut dari bantal bulu angsa."
"Jangan mengatakan hal aneh, Ariel pasti sedang melihatku dan sedang menangis, sebaiknya kau melakukan hal sama seperti ini padanya."
"Sejujurnya aku sudah melebihi tahap ini."
"Kau ingin mengubar-ngubar kemesraan hubungan suami istri padaku," teriaknya.
Dewi di depanku memang sulit dimengerti.
"Ngomong-ngomong kenapa Risa ada di sini?"
"Ini adalah hadiahku, aku sudah memenangkan kompetisi dimana akhirnya aku bisa pergi ke alam dunia fana semauku sementara para Dewi lain akan terus menggantikan tugasku."
"Tapi raja iblis belum sepenuhnya aku kalahkan?" tanyaku kembali.
"Itu karena di dunia ini hanya ada satu pahlawan yang tersisa, bukannya itu artinya dari awal aku telah menjadi pemenangnya, tidak masalah mengambil hadiahku lebih awal."
Aku tidak tahu tentang logika itu, tapi selagi melihat wajah Dewi Ristal sesenang ini aku tidak bisa mengeluh apapun.
"Dewi Ariel juga akan sesekali datang kemari mungkin Dewi lainnya juga, walaupun tidak selama yang kulakukan."
"Lalu sejak awal kenapa kalian melakukan kompetisi ini?" aku menjatuhkan kepalaku di meja.
Rasanya perjuanganku sia-sia.
__ADS_1