
Di atas langit biru itu, seekor kudanil bersayap terbang melesat menembus awan. Di atasnya seorang gadis kecil duduk dengan senangnya selagi memegangi topinya agar tidak tertiup angin.
Ia mengenakan gaun putih imut dengan pita di bagian lehernya, rambutnya yang berwarna pirang dikepang satu ke belakang.
"Momo, kau terlalu cepat."
Seolah mengerti apa yang dikatakan gadis kecil itu, kudanil bernama Momo melambatkan kecepatannya, hingga pemandangan hutan di bawah mereka menjadi lebih jelas.
Gadis itu bernama Koko salah satu dewan penyihir paling muda diantara semuanya.
"Valesta dan Laura sudah kalah, sekarang giliranku bertindak. Asal dia bukan lolicon aku pasti bisa mengalahkannya, benar kan Momo."
"Ough... ough.."
"Kau bertanya kenapa kita ke sini? Itu, sebenarnya ada benda aneh yang ditinggalkan Laura di sini... kurasa aku akan menggunakannya untuk menghabisi kriminal itu, kalau tidak salah... ah di sana."
Sebuah laba-laba raksasa dari besi dibiarkan begitu saja tanpa perawatan, kendati demikian seluruh bagiannya masih berfungsi dengan baik.
Koko mengeluarkan bola sihir dari tasnya yang sangat besar yang dia dapatkan sejak lama.
"Aku mendapatkannya dari pulau jauh dari sini, tadinya aku membawa dua buah, sayangnya aku tanpa sengaja menjatuhkannya ke laut dan seekor buaya malah menelannya... sungguh sial."
__ADS_1
"Ough.... ough."
"Jangan khawatir, satu juga sudah cukup untuk menggerakkan monster besi ini. Laura tidak bisa menghidupkannya tapi dengan ini, aku pasti bisa melakukannya."
Tepat di atas laba-laba besi tersebut. Koko berdiri di atas Momo sebelum melompat jatuh ke bawah.
Ada pintu tersembunyi di punggungnya yang mana Koko bisa masuki. Di ruang kontrol itu ia memasukan bola sihirnya ke dalam kotak energi kemudian menelan beberapa tombol dan memasukkan gambar dari musuh yang ia ingin kalahkan.
"Beaufort Reymond, dari wajahnya dia terlihat sangat jahat.. sekarang temukan dia dan hancurkan, syukurlah Laura sempat mengajariku cara menggunakan ini."
Sebelum hendak keluar Koko menekan tombol otomatisnya lebih dulu, untuk berhati-hati ia juga melelehkan pintunya dengan api biru di tangannya.
"Dengan ini selesai."
***
"Jadi apa yang kau butuhkan?" tanya Aria yang perutnya telah terisi kembali.
"Bisakah kau membuat sesuatu dengan ini?"
"Batu sihir kah, besar sekali... aku bisa menyatukannya dengan senjata, apa kau ingin melakukannya?"
__ADS_1
"Seperti itu bagus, tolong buatkan aku busur besar paling bagus.... berapa yang harus kubayar?"
"Dibanding uang, maukah kau membayarnya dengan sesuatu yang lain yang harganya sama persis.. dengan batu sekeras ini, harganya sangat mahal."
"Apa yang kau inginkan?" aku balik bertanya.
Aria tersenyum lalu berkata.
"Aku perlu material dari sisik para kadal yang hidup di Air Terjun Frosta... belakangan ini tokoku sangat sepi karena aku hanya menggunakan bahan material yang masih bisa ditemukan di sekitar sini, jika menggunakan sisik mereka, aku yakin bisa mengatasi kelaparanku."
"Berapa banyak?"
"Seratus buah dipotong biaya makanan yang kau berikan, tapi usahakan agar tidak membunuh kadalnya... sisik mereka cepat tumbuh bahkan jika kita mengambilnya sangat banyak."
"Mengambil sesuatu dari monster tanpa membunuhnya itu sulit," potong Mamisa.
"Tapi jika kita membunuhnya mereka mungkin akan balas dendam pada manusia dan itu sangat berbahaya."
Aku diam untuk memikirkannya.
"Baiklah, aku akan mengambil lebih banyak dari yang kau minta."
__ADS_1
"Benarkah? Terima kasih banyak."