Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 119 : Dewi Dan Para Arch Priest


__ADS_3

Di antara orang-orang yang berlalu lalang aku bisa mencium berbagai aroma harum dari masakan pinggir jalan, jika kau bertanya padaku tempat seperti apa yang kusukai saat menghabiskan uang, jawabannya tempat seperti ini dimana di kiri maupun kananku semuanya dipenuhi oleh warung-warung beraneka ragam, ada olahan daging, ikan,sayuran bahkan sesuatu yang sulit didapatkan di kota lainpun ada di sini.


Di banding itu aku harus segera menemukan istiku itu, walau dia Dewi aku khawatir dengannya. Apalagi dia memiliki hati sangat lembut.


Baru saja aku mengatakan itu Ariel sudah di kerumuni pria nakal, aku hendak melangkah maju namun seorang pendeta wanita telah lebih dulu menghajarnya lalu meminta penjaga membawa mereka keluar.


Kota ini memang kota yang aman dimana semua orang saling menjaga satu sama lain.


Ketika aku berjalan seseorang memegangi lenganku, saat aku melihatnya mataku terkejut.


"Kau, Asteropedia Platinum kenapa ada di sini?"


"Kenapa kau begitu terkejut, aku juga perlu liburan karena itu aku datang kemari, kebetulan aku melihatmu barusan."


Dia muncul di situasi yang kurang tepat.


Apa boleh buat, aku menggendongnya lalu membawanya berlari bersamaku mengejar Ariel, syukurlah aku berhasil.


"Jangan melarikan diri lagi, nanti kau tersesat."


"Biarkan aku," katanya imut lalu mengalihkan pandangan tepat pada Asteropedia.


"Siapa dia?"


"Mama."


Ariel mengambil Asteropedia dariku lalu melemparkannya ke semak-semak.


"Sakit, kenapa kau lakukan itu pada gadis kecil?"


"Kau pasti iblis kecil, aku tidak ingat melahirkanmu."

__ADS_1


Dia malah terlalu serius.


Aku merangkul Ariel.


"Tenanglah."


"Jika suamiku bilang begitu."


"Sebenarnya apa yang terjadi di sini?"


Asteropedia kebingungan.


Aku mungkin tidak harus menjelaskan hal ini pada gadis kecil.


Aku membelikan beberapa tusuk sate untuk keduanya, karena Asteropedia termasuk ras kucing dia lebih menyukai ikan yang kuberikan setelahnya.


Selagi memegangi tangan Ariel aku berkata ke arah Asteropedia.


"Berjalan seperti yang direncanakan, para siswa mulai fokus untuk menaikan nilai mereka entah dari akademik maupun non akademik, terlebih sebagian mereka berpura-pura agar terlihat baik."


"Begitu, sosok raja adalah orang yang terus terang pada dirinya, tolong awasi orang-orang seperti itu."


"Aku tahu, ngomong-ngomong soal komik yang kuberikan, aku ingin meminta lanjutan yang ini," secara spontan Asteropedia menunjukkan komik dewasa padaku yang diambil dari sihir penyimpanannya.


Ariel membacanya.


"Tinggal bareng dengan One-san berdada besar, jadi itu yang selalu kau lihat."


Sekali lagi Ariel berlari.


"Seharusnya kau tidak menunjukkan hal seperti itu, dia terlalu sensitif."

__ADS_1


"Aku akan berhati-hati lain kali, mana lanjutannya."


"Tidak ada itu cuma berakhir di volume segitu."


"Tidak, aku shock."


Anak ini terlalu banyak tingkah.


"Karena aku sudah di sini aku harus kembali sekarang, sampai nanti."


"Owh, sampai nanti."


Akhirnya dia pergi juga.


Aku kembali mencari keberadaan Ariel dan sekarang dia dikerumuni pria aneh lagi selanjutnya para pendeta menyelamatkannya.


Sebenarnya berapa banyak adegan ini harus diulang-ulang. Setelah penuh perjuangan akhirnya aku sampai di katedral dimana ke empat Arch Priest itu kutemui secara khusus di ruangan pribadi mereka.


"Catrine lama tak bertemu?" Ariel jelas langsung menyapanya.


"Bu-bukannya anda Dewi Ariel."


"Tentu saja."


"Aku seharusnya tidak duduk."


Catrine yang biasanya langsung menunjukkan ekspresi ceria langung berwajah suram bahkan Arch Priest lainnya juga.


"Ini terlalu mengejutkan, boleh aku memelukmu Dewi."


"Tentu."

__ADS_1


Mereka berpelukan dengan erat.


__ADS_2