Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 189 : Pemilik Dari Menara Pengetahuan


__ADS_3

Aku menikmati tehku selagi menikmati langit malam bertabur bintang, di dekatku ada setumpuk kertas yang dicuri oleh Aurora dari menara pengetahuan yang semuanya bertuliskan pembuatan tentang sepuluh cincin yang sebelumnya kukenakan.


Setelah membacanya, sepertinya ada satu bagian yang hilang dari kertas ini, ketika aku terus memikirkan apa itu? Tiba-tiba saja seorang gadis kecil muncul di depanku.


Saking terkejutnya aku sempat hampir terjatuh dari kursi yang kududuki.


"Sepertinya kau mengambil barang penting dari perpustakaanku, aku datang untuk mengambilnya kembali," katanya selagi menunjuk kumpulan kertas di dekatku.


"Apa kau penjaga menara pengawas."


"Benar sekali namaku Asteropedia Platinum, ingat itu baik-baik."


Asteropedia memiliki telinga dan ekor kucing ditubuhnya, serta rambut putih panjang yang mempesona, yang bisa kukatakan dia gadis loli tulen.


"Bukan aku yang mengambilnya, tapi akan kuberikan padamu."


"Kau serius."


"Tentu lagipula ada bagian yang tidak ada di dalamnya."


"Benar sekali, hebat kau menyadarinya, satu hal yang penting tidak kutulis di dalamnya."


"Kutulis, dengan kata lain kaulah yang membuatnya sendiri?"


"Benar, sepuluh cincin ini menyalahi aturan Dewi, aku sedikit takut bila kemampuan ini dimiliki oleh orang jahat."


"Kalau takut, kenapa kau malah membuatnya?"


"Jawabannya sederhana, karena aku bosan. Aku membuat cincin ini untuk menghabiskan waktu saja."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum masam sebagai balasan kemudian Asteropedia melanjutkan.


"Siapa pun yang mencuri kertas ini, benar-benar menyedihkan, dia mencurinya saat aku pergi ke kamar mandi.. betapa menyebalkan itu."


"Ara, maksudmu aku?"


Tanpa terduga Aurora muncul dan duduk di sebelahku.


"Jadi kau rupanya."


"Di penglihatan masa depanku, aku melihat bahwa cincin ini akan sangat diperlukan bagi seseorang dan dengan ini aku yakin dunia akan jadi sedikit lebih baik."


"Dunia ini tak akan berubah," jawab langsung Asteropedia.


"Menurutmu begitu, aku yakin Beaufort bisa melakukan sesuatu untuk itu."


"Dia hanya orang desa."


"Tapi kurasa pantas dicoba juga," Asteropedia memunculkan tinta dan kertas lalu ia menulis sesuatu di sana, sebuah formula terakhir yang diberikan padaku.


"Aku hanya memberikan setengahnya, dengan kata lain meski kau melakukan apa yang ada di dalam kertas ini, level eror-mu tidak akan menghilang... Tapi jika suatu hari cincinmu hancur dan kau berniat membuatnya lagi, aku akan membantumu hingga kau benar-benar akan memiliki Lv 999."


Asteropedia pada akhirnya mengembalikan seluruh kertas itu padaku.


"Aku akan mengambilnya nanti."


"Ternyata kau pengertian," ucap Aurora santai.


"Seharusnya kau meminta maaf, tapi biarlah... Aku hanya ingin tahu apa dunia ini akan berubah seperti apa yang kau katakan barusan, sejujurnya aku sudah melihat banyak pahlawan yang dikirim Dewi berguguran di depan mataku."

__ADS_1


"Meski hanya sedikit cahaya bukan berarti hal itu benar-benar menghilang seutuhnya."


"Perkataan bagus," setelah mengatakan itu, Asteropedia menghilang dalam sekejap.


Aurora yang duduk di sebelahku mengintip kertas yang kupegang di kedua tanganku.


"Apa tulisannya?"


Dia terlalu dekat hingga kurasakan bantalan empuk di kedua tanganku.


"Di sini ditulis aku harus memasukkan batu jiwa ke dalam bahan cincinnya, dan menghisap jutaan jiwa monster ke dalamnya."


Aurora tampak sedikit kecewa.


"Itu pasti membutuhkan waktu tidak sebentar."


"Sepertinya begitu, dan juga di sini ditulis bahwa jika aku terus memakai cincinnya suatu hari cincinnya akan hancur juga."


"Dasar gadis loli itu, dia memberikan formulanya tidak sempurna, agar bisa melihat bagaimana cara kau menggunakannya."


Kurasa sudah sewajarnya dia berhati-hati.


Meski begitu.


Bagiku ini lebih dari cukup.


Aurora berkata ke arahku setelah berdiri.


"Sepertinya Asteropedia sengaja melakukan ini, dia sudah tahu bahwa aku membuat cincin untuk seseorang jadi dia datang setelah melihat siapa yang kutunggu, jika dia sudah tahu bahwa aku yang mencurinya harusnya dia dari awal sudah meminta kertasnya."

__ADS_1


Itulah kenyataannya.


__ADS_2