
Di antara para tengkorak itu ada seorang wanita yang berasal dari ras vampir, jika tidak salah dialah yang menyerang kota sebelumnya bernama Marina.
Dia menyuruh anak buahnya untuk menyerang hingga bentrokan pun pecah, suara pedang dan sihir menjadi satu-satunya yang bisa dilihat dari sini, ketika semua orang disibukkan dengan pertempuran aku diam-diam menyelinap untuk memasuki kastil.
Menggunakan skill [Hide] yang kubeli dengan poinku aku bisa mudah memasukinya, di lorong yang luas dimana lantainya dilapisi karpet merah aku terus berjalan menuju bagian ujungnya, di tempat luas itu ada sebuah kursi tahta yang mana sedang di duduki Raja Iblis Nikel sementara dibelakangnya tampak api biru meluap-luap lalu mengelilingiku dalam sekejap supaya tidak bisa melarikan diri.
"Aku sudah menunggumu pahlawan, akan kubalaskan apa yang telah kau lakukan pada para pasukanku."
Nikel berdiri selagi menarik pedang di sampingnya, tubuhnya sangat besar setara lima kali lipat tubuh orang dewasa serta seluruh bagiannya berlapiskan zirah besi yang tampak kokoh.
Dia melompat ke depanku selagi mengayunkan pedang besarnya untuk memaksaku mundur ke belakang.
"Pedang ini bernama pedang Zelda, pedang ini memiliki kemampuan untuk menghilangkan sihir di dekatnya."
Mungkinkah?
Aku memunculkan lingkaran sihir dan itu tidak memunculkan apapun dari sana. Apa cara ini yang sama yang dilakukan untuk membunuh pengguna cincin sebelumnya.
Aku menarik pedangku dalam posisi bertahan.
"Jika aku tidak bisa menggunakan sihir, kau juga berarti sama."
"Memang benar tapi aku yakin dengan kemampuan fisikku."
Nikel melesat ke arahku aku juga begitu, saat jarak kami saling berdekatan, aku menseluncurkan tubuhku di lantai untuk menghindari tebasan diagonal lalu bangkit menyerangnya dengan tebasan ringan.
Prang.
__ADS_1
Pedang kami saling memercikan kembang api ke udara lalu kembali berbenturan dengan gemaan yang memekikkan telinga.
DUAAR.
DUAARR...
"Sialan."
Nikel mengayunkan pedangnya dari samping, aku menahannya dan seketika tubuhku terlempar jauh menembus api biru hingga seketika pakaianku terbakar, aku berguling-guling di lantai untuk memadamkannya.
"Hampir saja," kataku lemas.
"Jika kau menyerah aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit," atas gertakannya aku hanya tersenyum tipis.
"Itu bukan apa-apa, akan kutunjukan yang jauh lebih menarik."
Kalau tidak salah.
Ini dia.
Aku mengeluarkan potion penguat, item ini bisa memperkuat seseorang 1000 kali lipat dari tubuh awal, hanya saja memiliki efek samping yang cukup merepotkan, untuk sekarang mari abaikan hal itu lalu meminumnya.
"Apa yang kau minum itu?" tanya Nikel.
"Kau juga akan tahu, ini adalah item langka."
Perlahan tubuhku dialiri kekuatan besar, aku membuang pedangku, memutuskan untuk menggunakan tangan kosong sebelum akhirnya melesat menuju Nikel. Dia menahan pukulanku dengan pedangnya namun pedang itu langsung hancur seketika.
__ADS_1
"Cepat sekali... Aaaaaaa."
Prang.
Pertama aku memukul di bagian dada hingga baju besinya hancur, kemudian disusul beberapa pukulan yang membuatnya terbang ke langit hingga menembus atap kastil.
Aku menguatkan kakiku dan melompat mengejarnya ke udara.
"Jangan mendekat."
"Matilah."
"Mustahil."
Dengan satu pukulan aku menghantam perutnya hingga tubuhnya meledak dahsyat, orang-orang yang bertarung di bawahku tampak berhenti seketika untuk melihat sosokku yang jatuh ke bawah.
Sebelum menghantam bangunan Gabriela lebih dulu menangkapku di udara, melihat raja mereka telah dikalahkan para pasukan musuh mulai menjatuhkan senjata lalu melarikan diri.
Marina hendak melarikan diri namun Helfina lebih dulu menjatuhkannya.
"Lebih baik kau ikut denganku."
Sebagai efek samping dari ramuan yang kuminum tubuhku seketika dipenuhi rasa sakit.
"Tuan?"
"Sakit sekali, tulangku seolah bergemeretak."
__ADS_1
Seharian itu aku terus menahan rasa sakit.