
Hari yang ditunggu kini telah tiba, bersama ketiga pelayanku aku berdiri di atas tebing selagi mengamati keadaan di bawahku.
Di sana tampak dua komandan raja iblis sedang menggiring pasukannya menunju kerajaan.
Para prajurit tampak kebingungan saat tahu mereka datang dari arah yang tidak diduga, setiap orang berpikir bahwa musuh mereka akan terkena jebakan yang mereka siapkan akan tetapi hasilnya tidaklah demikian.
Seseorang telah membocorkan informasi tersebut, pria jahat yang berpikir akan menggulingkan kerajaan ini dengan tangannya.
Aku berpikir siapa pria jahat itu? Benar.. itu aku.
Selly dan Sella terkurap selagi memegang dua dinamit di tangan mereka, sedangkan Nermia mengurusi persediaannya di belakang.
"Tuan, kapan kami akan melempar senjata ini?" kata Selly.
"Saat salah satu diantara mereka kalah."
"Heh, padahal aku ingin melakukannya sekarang."
"Ingat, jangan lakukan apapun, Sella dan Nermia juga."
Mereka mengangguk mengiyakan sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke arah peperangan yang sedang terjadi di sana itu.
Para pasukan kerajaan tampak berusaha menahan gempuran pasukan musuh yang terdiri dari para iblis. Di antara mereka terlihat komandan kesatria Hiji bertarung melawan dua komandan sekaligus.
Bahkan di saat seperti ini pahlawan itu tidak muncul. Yah... dia akan menjadi urusan Felisa nanti karena itu aku akan fokus dengan pertarungan di depanku ini.
Hiji menebas kepala salah satu komandan raja iblis, hingga tubuhnya tumbang ke tanah, walau dia berhasil mengalahkan satu orang dia tetap saja tidak bisa mengalahkan satunya lagi.
Sebuah pedang menembus leher Hiji, saat pedang itu ditarik kembali, darah menyembur ke udara lalu ia tumbang tak bernyawa.
Nermia yang melihat itu hanya bisa memalingkan wajahnya.
"Bukannya nona Hiji itu ahli dalam serangan jauh seperti busur? Kenapa dia bertarung menggunakan pedang," pertanyaan itu berasal dari Sella.
Sellylah yang menjawabnya.
"Ini pasti karena sihir pesona milik pahlawan itu, dia menyuruh nona Hiji yang bertarung digaris depan untuk menggantikannya."
__ADS_1
Kemungkinan besar seperti itu.
"Sudah saatnya, persiapkan senjata kalian."
"Roger kapten."
Nermia menyalakan obor di tangannya, dan secara bergiliran Selly maupun Sella menyalakan sumbunya lalu melemparkannya ke para pasukan entah itu dari raja iblis atau kesatria mereka semua diledakkan.
"Apa-apaan ini, uwwahh.."
Boom!
"Gyaah.."
DOAARRR!
Tanah terangkat ke udara saat ledakan saling sahut menyahut mengahasilkan api.
"Tembak lagi."
"Sialan, siapa kau ini?"
"Itu tidak penting."
Aku mendekat padanya setelah mengambil pedang yang menancap di tanah lalu menebas tubuhnya hingga ia terduduk di tanah.
SREETTTTT.
"Walau kau membunuhku pertarungan iblis dan manusia tidak akan pernah berakhir, apa yang sedang kau lakukan hanyalah sia-sia."
"Tidak, aku akan mengakhirinya... akan kubunuh semua raja iblis seperti yang kulakukan sebelumnya."
"Jangan-jangan kau?"
SRAK.
Ujung pedang menembus jantungnya hingga dia rubuh ke samping.
__ADS_1
"Sekarang sisanya terserah padanya," gumamku dalam hati selagi melirik ke arah istana.
Di dalam ruangan yang luas itu Heis tampak memegangi kepalanya frustasi, rencana yang telah dia buat, begitu saja dihancurkan oleh sesuatu yang tidak ia ketahui.
Setelah membereskan semua uang serta barang berharga miliknya, dia berlari ke arah pintu belakang.
Saat dia hendak melangkah seseorang telah menunggunya dengan sebuah pedang di tangannya, dia adalah Felisa.
"Kau masih hidup?"
"Tentu saja, aku datang untuk membunuhmu."
"Membunuhku hahah jangan bercanda, kau akan menjadi mainanku yang baru."
Heis mengarahkan cincin yang diambil dari saku bajunya, itu berbentuk sebuah bola mata yang bersinar terang atau sejujurnya mata dari seorang yang pernah dikalahkannya di masa lalu, item ini memiliki kemampuan pesona yang membuat siapapun yang melihatnya tidak akan bisa menolak penggunanya.
Dengan santai dia mengenakannya di jari lalu menunjukannya pada Felisa. Kendati demikian, tangan Heis terbang ke langit begitu saja.
"Uwwwwahahhhh... sialan tanganku."
Felisa menebasnya tanpa ampun.
Heis menarik pedangnya dengan tangan satunya lagi, hingga keduanya saling beradu sesaat sebelum akhirnya Heis tumbang kehabisan darah.
"Aku tidak ingin mati, aku tidak ingin mati..
Dewi selamatkan aku."
Beberapa tangan hitam menangkap Heis dari segala arah.
"Apa ini, tidak, apa ini?"
"Kau membuatku kecewa Heis, aku memintamu untuk menjadi pahlawan tapi kau malah lebih buruk dari raja iblis, pikirkan apa yang kau lakukan di neraka nanti," tentu saja suara itu hanya terdengar oleh Heis.
"Maafkan aku."
Selanjutnya tubuh Heis lenyap seutuhnya meninggalkan kebingungan di wajah Felisa.
__ADS_1