
Setelah mendaki selama setengah hari aku akhirnya baru bisa menempuh setengah perjalanan dari tempat yang akan kami tuju, jika aku melihat ke bawah kulihat beberapa air terjun raksasa mengelilingi sebuah daratan di tengahnya sementara kami semua berada di sisi lain tebing.
Ketika aku terus memfokuskan diri pada daratan, aku melihat sesuatu yang menakjubkan dimana para elf juga tinggal di sini.
Mereka membuat pemukiman kecil dari rumah-rumah sederhana dan bisa kuhitung jumlahnya hanya sekitar 10 rumah tanpa pria.
"Benar-benar pemandangan yang indah," gumamku demikian.
"Oh maksud tuan dada mereka, elf memang terkenal dengan kecantikan mereka," yang menjawabku dengan kesal adalah Gabriela di susul oleh Rin.
"Kenapa ada elf ditempat ini, setahuku aku yakin di sini bukan kawasan mereka?'
Amnestha hanya diam memperhatikan lalu berkata.
"Mereka sedang mandi rupanya."
"Bagaimana kalau kita kembali turun dan mencoba beristirahat di sana."
Pandangan ketiganya langsung menusukku.
"Aku tidak mau menyiakan apa yang telah kucapai sekarang, sangat melelahkan jika kita mendaki lagi kemari."
"Yang dikatakan Amnestha benar, aku memang bisa mengeluarkan sayap hanya saja jika terbang, udaranya terlalu dingin dan itu membuatku membeku."
"Aku juga."
Aku mendesah pelan, kurasa kita bisa mampir setelah urusan kita di sini selesai.
Kami melanjutkan perjalanan kembali dan saat matahari hampir terbenam akhirnya kami sampai di sebuah rumah sederhana dimana asap terlihat keluar dari cerobongnya
__ADS_1
Kami semua terkapar lelah sementara orang dari rumah akhirnya keluar, seperti apa yang kuingat orang itu adalah seorang wanita cantik dengan rambut sebahu berwarna coklat, ia mengenakan celana pendek yang mampu memamerkan kaki putihnya yang panjang, untuk bagian atasnya dia mengenakan jaket berbulu yang terlihat hangat.
"Kau akhirnya datang juga bocah," dia mengatakannya dengan nada jahil.
Dia adalah Aurora.
Setiap aku bertemu dengannya aku akan selalu tertuju pada dua gunung yang bisa menyembul kapanpun dari balik bajunya.
Seperti tahu apa yang kupikirkan Aurora segera menutupinya.
"Mari lakukan nanti saat malam hari."
Aku bersujud ke arahnya dan berkata.
"Dengan senang hati."
"Hentikan kalian semua, aku bisa mati."
"Itu lebih baik."
Aku duduk di lantai dengan wajah babak belur di dalam rumah sementara ketiganya duduk di kursi bersama Aurora yang menuangkan air teh di gelas kami semua.
"Kalian pasti kedinginan, silahkan dinikmati?'
"Terima kasih."
Aku juga dapat tehnya tapi apa harus di lantai juga, Rin, Amnestha dan Gabriela memperkenalkan diri mereka.
"Begitu, kalian mau-mau saja mempunyai tuan dari job orang desa."
__ADS_1
"Oi, perkataanmu sangat menyakitkan," atas pernyataanku Aurora tertawa kecil sebelum melanjutkan.
"Tapi pilihan kalian benar, di masa depan nanti Beaufort akan menjadi sosok yang luar biasa dan pantas menjadi tuan kalian."
"Kami juga berfikir demikian," balas Gabriela mendapatkan anggukan rekannya.
Aku akhirnya diminta duduk di kursi dan saat itu Aurora memberikanku sepuluh cincin aneh dari sebuah kotak yang diambilnya.
"Seperti yang aku katakan dulu, jika kau datang ke sini aku akan memberikan kekuatan padamu, cincin ini belum sempurna tapi kurasa kau bisa melakukan sesuatu untuk itu nanti, coba pakailah."
"Baiklah."
Aku memakai sepuluh cincin yang diberikan padaku.
"Kemudian lihat kartu petualangmu."
Ketiga pelayanku juga ikut mengintip dari sampingku hingga berkata di waktu bersamaan.
"Level 9999."
Sulit untuk membayangkan bahwa levelku berada di angka seperti itu, untuk memastikan aku bertanya pada Aurora.
"Dengan ini berarti aku sudah kuat?
Aurora memiliki ekpresi senyuman jahil di wajahnya.
"Itu hanya level eror, setiap harinya angka sembilannya akan bertambah namun tidak untuk kekuatanmu, kekuatanmu masih sama malah akan lebih sulit untuk mengukurnya di level berapa," bersamaan perkataannya sepuluh cincin yang kukenakan hancur berserakan.
"Sudah kubilang cincinnya belum sempurna, walau memiliki kelemahan seperti itu, cincin ini sangat berguna loh," tambahnya demikian.
__ADS_1