
Seekor Boar berlari ke arahku, aku memutar pisau di tanganku lalu melompat untuk menikam tulang tengkoraknya, perlahan kesadarannya terenggut seutuhnya lalu roboh ke samping.
Kami sudah mengalahkan 10 Boar dengan kata lain itu sama dengan 50 Koin perak, restoran dan rumah makan biasanya menyajikan daging hewan ini di tempat mereka, satu piring bisa menghasilkan 10 koin perak untuk beberapa orang dewasa
Jika dihitung bayarannya benar-benar tidak setimpal terlebih karena jumlahnya banyak mereka cenderung menurunkan harga pasar setiap bulannya.
Gabriela menepuk kedua tangannya dengan pose kemenangan.
"Quest dari Guild hanya memburu sekitar 5 ekor, bagaimana kalau kita nikmati setengahnya?"
"Daging seperti ini tidak enak jika tidak bisa mengolahnya, lebih baik kita coba jual lima lagi di kota."
"Baiklah."
Aku meminta pihak guild untuk mengambil buruan kami, upahnya sendiri akan diambil dari bayaran kami sekitar 5 koin perak, sedangkan lima lagi telah kujual pada restoran lain di kota, aku meminta guild untuk mengirimkannya juga.
Dengan ini penghasilan 50 koin perak diambil biaya pengangkutan 10 koin sisanya 40 koin perak yang kami terima. Agar adil kami membaginya menjadi dua bagian yang mana kami nikmati di bar di dalam guild.
"Tolong Bir dinginnya."
"Baik."
Aku memperhatikan seluruh meja yang hampir penuh ini kecuali kursiku dan Gabriela, satu meja bisa diisi oleh empat orang, aku tidak keberatan jika ada seseorang yang duduk di sampingku sekarang.
Terlebih jika itu seorang kakak cantik yang seluruh tubuhnya hanya tertutup akar.
"Jangan tergoda dengan peri hutan tuan, mereka akan menghisap energi tuan hingga kering di atas ranjang."
__ADS_1
"Anak kecil diam saja, lagipula aku ini roh agung namaku Amnestha Hesolviar, salam kenal."
"Anak kecil, katamu... mau berantem."
Aku segera memotong perkelahian itu untuk melanjutkan.
"Kebanyakan orang di sini berusaha untuk menghindari orang desa sepertiku, jadi apa ada sesuatu hingga kau duduk bersama kami?"
"Sebenarnya, ada orang gila yang menancapkan pedang terkutuk di wilayahku, aku ingin kau melakukan sesuatu untuk itu."
"Soal itu kami juga sedang sibuk, tolong cari orang lain saja yang lebih kuat," potong Gabriela.
"Aku tidak berbicara dengan anak kecil."
"Sialan kau, dasar tubuh mesum, kau bahkan tidak mengenakan apapun di sana."
"Mari selesaikan di luar."
"Siapa takut."
Aku hanya melihat keduanya keluar dari pintu guild, aku sudah terlalu lelah untuk mencegah mereka, daripada itu, aku hanya seorang dengan level rendah bisa apa aku.
Ledakan terjadi beberapa kali di luar, orang-orang mulai berhamburan untuk melihat, untukku sendiri hanya fokus dengan makananku.
Masalahku sudah banyak jadi bodo amat kota ini mau meledak juga.
"Daging ayam ini sangat enak, pelayan tolong tambah lagi."
__ADS_1
"Ba-baik, bukannya kedua orang yang berkelahi itu kenalan Anda, apa tak apa dibiarkan begitu saja?"
"Mereka hanya terlalu bersemangat, nanti juga berhenti kalau sudah kelelahan, semua kerusakan mereka sendiri yang tanggung."
"Begitu."
Aku kembali dengan makananku sampai entah itu Gabriela atau wanita bernama Amnestha duduk kembali dengan wajah yang masing-masing babak belur.
Keduanya seolah bertingkah tak terjadi apapun, dan orang-orang guild mengerumuni mereka berdua.
"Dengan kekuatan seperti itu, kalian berdua pasti bisa mengalahkan raja kegelapan serta membantu pahlawan Alexius untuk menyelamatkan dunia."
Keduanya membalas di waktu bersamaan.
"Hah, pahlawan sok narsis itu... Aku lebih suka bersama tuanku."
"Sayang sekali aku juga tidak tertarik dengan sosok pahlawan."
"Orang desa ini, dia ini pasti sangat lemah... jika kalian menjadikannya tuan, itu hanya akan merendahkan kalian berdua."
Sebelum Gabriela bereaksi akan hal itu, aku segera bangkit lalu membayar makanan untuk hari ini.
"Terima kasih untuk makanannya."
Aku berjalan pergi.
"Tuan jangan tinggalkan aku."
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku belum selesai bicara dengan kalian berdua."