
Sedikit jauh dari pasukan utama bertarung, Luis dan Arthur masih terus menumbangkan monster yang terus menyerang.
Pireta mengulurkan kedua tangannya menciptakan bola api raksasa yang dengan mudah ia lemparkan ke kumpulan para monster yang kebanyakan adalah Orc.
Clara juga tak ingin kalah dan ia melemparkan cairan mudah terbakar kemudian melemparkan api untuk menyulutnya agar terbakar.
"Kerja bagus Clara."
"Fokuslah bertarung, musuh kita masih banyak," balasnya pada Arthur.
"Um.. dia sedang serius."
Dari kawanan itu ada beberapa Orc yang menarik sebuah kotak besar di belakangnya.
"Benda apa itu?"
Para Orc meninggalkan kota tersebut lalu mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, itu adalah Orc yang memiliki tubuh 10 kali lipat dari Orc biasanya dan tampaknya sudah memakan seekor kuda.
Ia meraung penuh kemurkaan hingga cairan dari mulutnya menyebar ke segala arah.
Dengan langkah besar dia berjalan.
"Apa yang kita harus lakukan," saat Pireta mengutarakan pemikirannya, sebuah sosok jatuh dari langit layaknya sebuah meriam, dia menginjak Orc tersebut hingga tubuhnya terdorong ke tanah lalu meledak dahsyat.
__ADS_1
Kepulan asap menyebar ke segala arah dengan retakan bencana di tanah.
Hanya dengan kemunculannya saja, dia sudah mengalahkan Orc kuat dengan mudahnya, sayap kelelawar tercipta di punggungnya dengan taring yang menyeruak dari ujung mulutnya.
Semua orang memangilnya," Rin Elisten."
"Melawan musuh lemah seperti ini kalian masih kewalahan, cepat selesaikan semua ini dengan cepat."
"Ba-baik."
***
Selagi melihat sekelilingku, aku telah membunuh banyak monster hingga aku sudah tidak bisa menghitungnya lagi.
Tidak ada prajurit lagi yang bisa bertahan untuk pertarungan akhir, karena itu semuanya mundur ke dalam desa meninggalkan aku, Calistha dan Nibel digaris depan.
Selagi menatap jauh di langit secara bersamaan kami melihat sosok hitam yang mendekat, tubuhnya berlapis kulit keras layaknya sebuah baja serta tubuhnya lebih besar dari naga pada umumnya.
Dengan mulut yang berjeruji itu dia menciptakan bola api raksasa kemudian melemparkannya ke arah kami bertiga.
Aku melompat ke depan lalu menggunakan tangan kananku untuk menelan serangan tersebut dengan baik, naga itu memutuskan mendarat di depan Calistha dan Nibel selagi meraung kuat.
Calistha berlari ke depan dengan pedangnya di susul Nibel, aku juga tidak bisa hanya diam dan berbalik ke arahnya.
__ADS_1
Hanya dengan kibasan ekornya dia menyapuku hingga sejajar dengan tanah, di saat itu aku melihat naga itu berhasil menggigit Nibel kemudian menelan tangan kanannya sebelum dia membantingnya ke tanah.
Sial.
Sudah jelas ini sangat berbahaya.
Saat dia mencoba mengincar ratu aku melompat dengan sebuah tendangan menghantam wajah naga tersebut hingga ia berguling-guling di tanah sebelum terlentang menatap langit.
"Ratu tolong rawat luka Nibel, biar aku sendiri yang mengalahkannya."
"Baik, berhati-hatilah."
Naga tersebut bangkit dari terpurukan, semakin besar musuh yang kulawan maka semakin mudah untuk mengenainya, seolah membaca pikiranku tubuh Tiamat mengeluarkan asap dan kemudian menjadi seorang pria dengan jubah berkibar di belakangnya.
"Jadi kau Tiamat itu, kau sebelumnya membekukan alam Dewi jadi aku harus membunuhmu agar semuanya terbebaskan."
Dia tertawa terbahak-bahak.
"Kau utusan Dewi rupanya, aku ingin tahu bagaimana rasanya dagingmu."
"Jangan khawatir, kaulah yang akan mati sekarang, sebagai naga hitam aku sama sekali tidak peduli dengan nasibmu, akan tetapi aku lebih penasaran dengan siapa orang yang memanggilmu serta yang membebaskanmu dari pembatuan."
"Entahlah, kau mungkin harus mengalahkanku dulu."
__ADS_1
Aku tersenyum masam sebelum melesat maju.