Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 372 : Pulau Tengkorak Di Tengah Laut


__ADS_3

Di pesisir pantai itu, Viore melempar sebuah mendali ke udara, di saat yang sama dia mengambil pistol yang di sembunyikan di pahanya kemudian menembakan sihir yang mampu mengenai mendali tersebut hingga berubah menjadi seekor burung hantu raksasa putih.


"Tuan putri."


Aku dan Mamisa mengerenyitkan alis selagi saling berbisik satu sama lain.


"Kejam sekali Redo, dia memaksa rohnya untuk memanggilnya tuan putri."


"Benar sekali, kasihan."


"Aku bisa mendengar kalian, terlebih Owl sendiri yang mau memanggilku seperti itu."


"Benarkah?"


"Benar sekali, tuan putri adalah majikan saya yang baik... walau ucapannya kadang kasar di dalam hatinya lebih lembut dari siapapun."


Kami jelas meragukannya.


"Jangan membahas yang tidak perlu. Owl tolong antar kami ke pulau tengkorak, kami ingin berburu roh."


"Laksanakan."


Kami bertiga terbang di langit, sekitar 20 menit kemudian pulau yang kami maksud terlihat, pulau itu sangat luas di mana bagian tengahnya merupakan sebuah gunung berbatu, alasan kenapa disebut pulau tengkorak karena batu tersebut menyerupai kepala tulang manusia... tentu tidak ada kutukan atau hantu semacamnya di sini.


Jikapun ada, kurasa Viore yang seorang pendeta bisa melakukan sesuatu.


Owl menghilang tepat saat kami bertiga turun dari tubuhnya, sensasi tanah basah adalah hal yang langsung kurasakan di kakiku.


Hampir seluruh wilayah ini diselimuti hutan dengan pohon rimbun.

__ADS_1


"Menurut gosipnya ada dua roh yang tinggal di sini, kita bisa membaginya masing-masing satu."


"Aku hanya mengambil untuk seseorang sebagai hadiah."


"Begitu."


Kami tiba di sebuah reruntuhan di mana ada dua pilar yang masih berdiri kokoh di sana, di antara keduanya ada terowongan yang menjorok ke bawah.


Mamisa tampak memucat selagi duduk memeluk lututnya.


"Aku tidak mau pergi ke tempat seperti ini lagi kyaaaaa."


Dia menjadi korban nyamuk, tawon dan juga semut.


Dia mungkin dibenci hewan kecil.


Aku membantunya dengan membuat sihir pelindung.


"Itu yang kuinginkan."


Pada akhirnya aku dan Viore saja yang masuk ke dalam reruntuhan, karena gelap aku membuat obor lalu masuk bersama-sama.


Semakin dalam maka semakin gelap sehingga kami berdua harus berhati-hati, tepat saat aku menginjakan kakiku tiba-tiba saja sebuah lingkaran sihir raksasa bersinar lalu saat aku sadari kami berdua dipindahkan ke dalam laut.


Ada sebuah pelindung yang sama seperti yang kugunakan pada Mamisa, hanya saja skalanya lebih besar.


Rasanya mirip berada di dalam bola kristal namun bukan kota yang ada di sekitar kami melainkan arena mirip Colosseum.


Setiap tempat duduk diisi oleh sebuah sarung tangan yang bergerak sendiri sementara itu di depan kami seorang wanita dengan senang bertingkah seperti layaknya pembawa acara.

__ADS_1


"Setelah sekian lama, akhirnya datang juga penantang berikutnya. Apa kalian ingin mengambil roh di pulau ini?"


"Aah, siapa kau?" tanya Viore


"Namaku Memaid, aku juga roh loh."


Roh putri duyung tepatnya.


Dia melanjutkan.


"Pemilik roh sebelumnya menugaskanku sebagai penguji jika ada seseorang yang mengambil roh di pulau ini.. mereka harus melewati tiga pertarungan, baru aku akan menyerahkan ini."


Mermaid menunjukkan dua mendali di tangannya.


Satu mendali dengan ukiran wanita memegang harpa dan satu lagi ikan mas koki raksasa.


Viore berbisik ke arahku


"Aku akan mengambil yang ikan."


"Kau lebih menyukai roh hewan kan."


Dia mengangguk mengiyakan.


"Bagiku mereka terlihat imut."


"Aku tidak keberatan."


Mermaid berenang ke atas lalu berkata dengan diiringi tepuk tangan dari penonton.

__ADS_1


"Pertarungan pertama... mereka berdua harus melawan golem raksasa, munculkan golemnya."


Seperti yang dikatakannya sebuah golem setinggi 20 meter muncul secara ajaib di hadapan kami.


__ADS_2