
Meninggalkan jejak debu di belakangku, aku melesat ke depan selagi memosisikan pedang dengan gaya tusukan.
Akemi memasang kuda-kuda dengan kaki kiri ke depan, dia menahan ujung pedangku dengan telapak tangannya sebelum akhirnya melemparkanku ke arah belakangnya.
Sesuatu ditembakkan ke arahku, itu mirip sebuah bola hitam seukuran kepalan orang dewasa yang mana menghisap apapun ke dalamnya.
Bahkan ketika aku menyerangnya dengan sihir, sihir itu malah tersedot bersamaan puing-puing bangunan yang hancur.
"Black Hole, apapun yang terhisap ke dalamnya akan hancur menjadi partikel, sebelum targetnya di telan benda itu akan terus aktif."
"Jadi begitu."
Aku menciptakan tangan raksasa dari tanah lalu menangkapnya.
"Apa dengan cara seperti ini kau bisa menahan kemampuanku?"
"Aku hanya perlu sedikit waktu."
Aku menghilangkannya dengan sihir teleportasi membuat Akemi mengerenyitkan alisnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Mudah saja, jika Black Hole sulit ditangani, aku hanya harus memindahkannya jauh dari sini tepatnya di kedalaman laut."
"Jangan bercanda, aku masih bisa membuatnya kembali sebanyak yang kumau.."
Saat Akemi sadari kedua tangannya sudah tergeletak begitu saja ke tanah, kedua tangannya sudah terpotong.
"Aaaaaaarh, bagaimana bisa, kapan kau menebasku?"
"Saat kau melempar Black Hole barusan."
"Sialan."
__ADS_1
Akemi melesat ke arahku, wajahnya sekarang lebih terlihat seperti iblis dari seharusnya, aku memutar pedangku dan dengan sekali tebasan aku membelahnya menjadi dua bagian dengan mudah sebelum akhirnya menghilangkan pedangku.
"Mustahil."
Dia tergeletak tak bernyawa, jika dia mati aku akan kesulitan mencari informasi, karena itu aku membangkitkannya kembali.
Dia tampak shock melihat dirinya tidak apa-apa.
"Bukannya aku barusan mati?" perkataannya diselimuti kecemasan.
"Aku membangkitkanmu kembali."
"Kau pasti bercanda..."
"Selagi rohmu belum terpisah jauh dari tubuhmu. Aku bisa membangkitkanmu sebanyak yang kumau."
Aku menciptakan lingkaran sihir di atas kota dan dalam sekejap orang-orang yang mati telah dibangkitkan kembali.
"Lupakan soal aku yang bukan manusia, lebih penting dari itu.. bisakah kau menceritakan seluruh rencana Raja Dunia Bawah."
"Meski aku mati aku tidak mungkin mengatakannya."
"Bagaimana jika aku membunuhmu dan membangkitkanmu berulang kali."
Seluruh tubuhnya mulai gemetaran sampai dia membungkuk ke arahku.
"Tolong jangan lakukan itu, aku akan mengatakannya."
Akhirnya dia mau menyerah, setelah mendengarkan seluruh rencana Raja Dunia Bawah aku tersenyum lalu memunculkan panel di sampingku, aku mengetik beberapa kode ke dalamnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kau terlempar ke dunia bawah jadi kau tidak tahu bagaimana sulitnya hidup di dunia ini bukan? Maka dari itu, aku akan membiarkanmu untuk merasakannya."
__ADS_1
Dia mencoba mengeluarkan sihir di tangannya meski begitu, tak ada apapun yang keluar. Black Hole yang kukirim juga pasti sudah menghilang.
"Sekarang, nikmatilah hidupmu seperti manusia biasa."
Wajah Akemi memucat dan dengan lemas dia menjatuhkan bahunya ke bawah, untukku sendiri, aku melanjutkan perjalananku menuju bagian istana.
Di depan gerbang itu, para penjaga menghunuskan pedang secara bersamaan yang mana kutangkis hanya dengan satu tangan.
Orang-orang itu terpental ke segala arah sebelum pingsan.
"Kurasa aku sudah cukup bermain-mainnya."
Aku tiba di depan singgasana untuk menatap pemimpin dari negara ini.
"Aku datang untuk mengembalikan tahta ini ke orang bernama Orihime."
"Apa kau yang menghancurkan kota kami juga?"
"Jangan salah paham, orang yang melakukannya pihak ketiga."
"Jika Orihime yang menyuruhmu, mana mungkin aku mempercayainya."
Pria itu mengambil pedang miliknya sebelum melompat ke arahku, aku dengan ringan menangkap pedangnya lalu menghancurkannya dengan tangan kosong hingga dia terduduk dengan wajah ikan mati.
"Mu-mustahil."
Orang-orang sering mengatakan itu di depanku hingga aku sudah bosan.
"Apa kau mau memberikan tahtanya?"
"Akan kulakukan, jangan sakiti aku."
Negosiasi lebih cepat dari yang kuduga.
__ADS_1