
Di atas ujung pohon cemara yang tinggi sosok Amnestha berdiri selagi mengawasi laki-laki di bawahnya, anak itu memiliki rambut panjang perak yang tertutup oleh topi penyihir, pakaiannya tampak seperti penyihir pada umumnya, dia memiliki tubuh tinggi serta kulit putih yang membuat para gadis akan iri dengan hal itu.
Walau berpenampilan demikian, dia adalah pria tulen yang menyukai gadis pada umumnya, karena memiliki wajah seperti ini kadang seseorang akan menganggapnya sebagai perempuan sesungguhnya.
Amnestha terus mengamati apa yang dia lakukan sampai akhirnya memutuskan melompat turun ke bawah, sebagai roh hutan dia akan sangat mudah melakukan hal ini.
Menyadari seseorang mendarat di depannya pemuda itu menengadah untuk memastikan siapa yang ada di sana.
Pandangannya langsung terkunci di antara dada Amnestha yang terbuka.
Selanjutnya.
Darah menyembur dari mulutnya hingga ia pingsan.
Amnestha yang memperhatikan hanya mendesah pelan, tentu saja dia tidak tahu bahwa di depannya adalah seorang laki-laki.
"Ada apa dengan dia?" selagi bergumam itu Amnestha melihat tupai yang sebelumnya terluka telah bangkit kembali.
Sejak tadi pemuda ini mencoba menyembuhkan tupai ini dengan sihirnya, karena dia lemah itu memerlukan waktu lama sampai tupai tersebut bisa memanjat pohon.
Amnestha kembali mengalihkan pandangan ke arah laki-laki yang terbaring tersebut, tentu yang dia perhatikan adalah bagian dada.
__ADS_1
"Untuk gadis secantik ini kenapa dadanya rata?" ada perasaan yang membuat Amnestha ragu hingga ia memeriksa seluruh tubuh pria itu secara menyeluruh saat dia melihat bagian bawahnya Amnestha menggelengkan kepalanya.
"Alamak... dia seorang pria," katanya tersipu malu, di saat yang sama pemuda malang itu terbangun dan melihat resletingnya terbuka.
"A-apa yang kau lakukan? Ini tindakan senonoh."
"Aku cuma ingin memastikannya, kau cowo kan."
"Tentu saja."
Pandangan Amnestha begitu dekat saat dia meraih tangan pemuda itu lalu meletakkannya di dadanya, pria itu langsung pingsan dengan darah mengucur dari hidungnya.
"Sudah kuduga, laki-laki ini sangat penakut terhadap wanita... meski begitu kurasa dengan sedikit latihan di akan terbiasa."
Selagi duduk di atas batu, Amnestha mengambil sebuah daun lalu meniupnya menjadi bunyi seruling yang indah, bersamaan itu para hewan berkumpul di dekatnya hanya untuk mendengarkan nyanyian tersebut.
Saat si pemuda bangun para binatang mulai berlarian menjauh hingga sosok mereka menghilang dalam semak-semak.
"Kau sudah sadar, siapa namamu?"
"Pireta.. aku seorang penyihir pengelana."
__ADS_1
"Karena itu kau berada di tempat ini, benar.. namaku adalah Amnestha Hesolviar seorang roh agung, aku datang ke sini untuk mencari seorang kandidat raja di salah satu kerajaan, aku pikir kau orang yang cocok untuk kupilih."
"Tidak, tidak, aku tidak cocok... aku ini lemah, lihat, aku hanya bisa menggunakan sihir penyembuh saja."
"Kekuatan tidak hanya dinilai dari seberapa orang mampu melakukan segala hal, melainkan dari hati.. hatimu sangat baik dan itu sudah cukup bagiku, untuk kekuranganmu mari kita berlatih."
"Tetap saja."
"Kalau kau bersedia kau boleh menyentuh dadaku lagi."
Pireta segera menutupi hidungnya.
"Tolong jangan lakukan itu, aku tidak terbiasa dengan hal seperti ini."
"Imutnya... untuk seorang laki-laki kau terlihat cantik, sayangnya kau tidak bisa menolak, jika kau menolak aku yakin kau akan kehilangan sesuatu yang berharga seperti kesucian."
"Tidak, menjauhlah dariku."
Amnestha mendorong tubuhnya selagi mengkerucutkan bibirnya, sedangkan Pireta mati-matian untuk menjauhkan musuhnya dengan kedua kakinya.
"Jangan melawan, kau akan akan merasa senang loh."
__ADS_1
"Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini," teriaknya tanpa terdengar siapapun.