Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 206 : Fate Dan Kebenaran Dari Vampir


__ADS_3

Perahu yang kami sewa mulai bergerak tertiup angin, aku dan ketiga pelayanku berdiri di depan selagi melihat panorama laut biru yang membentang.


Gabriela membentangkan tangannya selagi membuang nafas dalam-dalam.


"Segar sekali, rasanya aku ingin berenang di dalamnya."


"Kalau begitu bagaimana kalau kita berenang," balas Rin kemudian mengalihkan pandangan ke arah kapten perahu yang menjadi satu-satunya yang mau mengantar kami ke sana.


Dia seorang wanita berambut pirang panjang dengan seragam biru putih serta topi mirip bajak laut, dia bernama Fate.


"Kalian tidak bisa berenang di sini, namun kalian bisa berselancar."


"Berselancar?" kami menanyakan hal sama.


"Papan seluncur kalian akan diikat dengan tali lalu ditarik dengan perahu ini."


"Sepertinya menyenangkan, boleh aku mencobanya juga," kata Gabriela bersemangat.


"Tentu saja."


"Kalau begitu aku juga ikut," tambah Amnestha.


Hingga pada akhirnya mereka hanya mengenakan pakaian dalam dan naik ke sebuah papan yang di tempatkan di belakang perahu.


Papan itu sudah dirancang dengan pegangan tangan serta bagian ujungnya di ikat tali yang terhubung dengan kapal.


Aku berdiri bersama Fate saat ketiganya melompat ke air dan menentukan posisi mereka, aku bertanya padanya.


"Apa kau pernah mencoba hal ini?"


"Tentu saja belum, meski ingin, aku tidak bisa melakukannya karena perlu seseorang untuk menjalankan perahu ini."


"Kalau begitu bagaimana jika aku yang menjalankannya dan kau coba juga."


"Kau bisa menjalankan perahu ini?"


"Itu mudah, aku pernah beberapa kali melakukannya saat mencari ikan."


"Kalau begitu aku menerima tawarannya."


Fate melepaskan topinya, kemudian disusul pakaian atasnya lalu pakaian bawah.


"Aku tidak ingin membuat pakaian dalamku basah, aku akan melepaskannya juga."

__ADS_1


"Tentu, lakukan sesukamu," kataku datar untuk menutupi jantungku yang bisa meledak kapanpun.


Dia melompat ke air dengan papan satu lagi.


Saat aku membentangkan layarnya, kapal kembali bergerak sementara orang-orang di belakangku terlihat bersenang-senang.


"Owh, ini sangat menyenangkan," teriak Gabriela.


"Jangan sampai lepas, jika kalian tidak ingin terlempar ke dalam laut."


"Baik."


Baru setelah setengah perjalanan mereka naik kembali ke perahu dengan wajah puas, Fate mengenakan pakaiannya kembali sementara pelayanku harus diam dulu berjemur untuk mengerikan pakaian dalam mereka.


"Seharusnya kita melepaskannya juga tadi."


"Sepertinya begitu, lain kali mari lepas semuanya."


"Setuju."


Mari pura-pura tak mendengarnya.


"Dari sini biar aku ambil alih," kata Fate.


Aku memberikan kursi pengemudi padanya.


"Ngomong-ngomong kenapa kau ingin pergi ke negeri awan?"


"Ada barang yang ingin kuambil dari sana?"


"Maksudmu mencurinya."


"Bisa dibilang begitu."


Fate tertawa.


"Pantas saja, semenjak hak kekuasaan dipindahkan sudah jarang orang luar mengunjungi tempat itu, terlebih mereka juga dilarang meninggalkan wilayah yang ditentukan untuk turis."


"Aku baru tahu itu, bisa ceritakan lebih lanjut."


"Sebagai gantinya boleh aku juga ikut bergabung dengan kelompokmu."


"Aku tidak keberatan sih, tapi aku harus mendengarkan alasanmu?"

__ADS_1


Fate menatapku dengan pandangan serius.


"Kau boleh mempercayainya atau tidak, tapi sebelumnya wilayah itu sebenarnya adalah wilayahku."


Jika itu benar, tidak aneh dia mau mengantar kami ke sana.


"Aku akan menganggap kau berbicara hal yang sebenarnya, karena itu, bisakah kau mengatakan apa yang terjadi lebih rinci?"


"Ketika aku hidup di istana, tanpa terduga malam harinya beberapa orang menyelinap masuk dan membunuh setiap pengawal, saat itu aku bisa melarikan diri namun kedua orang tuaku terbunuh dan aku bersembunyi di bawah gorong-gorong kota."


Fate diam sejenak lalu melanjutkan.


"Memang benar bahwa perampok itu berhasil di hukum mati, tapi anehnya pamanku malah menobatkan dirinya menjadi pewaris kerajaan dan bilang bahwa aku sudah mati walaupun tubuhku tak ditemukan."


"Dengan kata lain, ada kemungkinan bahwa pamanmu sendiri yang menyuruh perampok itu."


"Benar, rasanya aneh jika hanya perampok biasa mau merampok istana."


Rin muncul setelah mengenakan pakaiannya lagi dan memotong percakapan.


"Biar aku bertanya, bagaimana kau bisa lolos dari perampok itu?"


"Aku sebenarnya tidak lolos, ada seseorang yang menyelamatkanku."


"Seseorang, bisa kau membuka mulutmu," atas pernyataan Rin, Fate melakukannya.


Aku melihat ke dalam mulutnya juga dan terdapat taring menyeruak dari giginya.


"Kau Vampir," kataku demikian.


"Seseorang mengubahku jadi vampir dan membuatku hidup kembali."


"Apa kau tahu siapa nama vampir itu?" Tanya Rin.


"Katharina Hellson."


"Dengan kata lain, vampir sebenarnya belum punah seutuhnya, di belahan benua lain ada yang mirip seperti Rin."


Rin menggelengkan kepalanya saat aku melirik ke arahnya.


"Meski itu benar, aku sudah tidak ingin pergi ke tempat itu atau mencarinya, aku sudah menemukan tempatku sekarang, bersama tuan yang aku cintai."


Ini pertama kalinya aku mendengar hal itu dari mulut Rin hingga wajahku memerah.

__ADS_1


"Aku merasakan cinta yang banyak di sini," ucap Fate tersenyum lebar.


__ADS_2