
"Sebenarnya skill apa yang ingin kau ambil," tanya Alexius.
"Skill penetral sihir, dengan ini kemampuan apapun tidak akan berpengaruh padaku sehingga aku bisa menggunakan kemampuan cincinku kembali."
"Ternyata hanya itu, walau kau menggunakan kemampuan cincinmu aku tak akan kalah, inilah kekuatan yang kuambil dari para Oni."
Tubuh Alexius bertambah besar hingga sebuah tanduk muncul di keningnya bersamaan petir hitam yang keluar dari seluruh tubuhnya. Pedang Excalibur miliknya mulai berubah hitam.
Aku juga memunculkan pedang Grandbell dan meningkatkan seluruh kekuatannya sebelum menerjang dengan kecepatan tinggi, Alexius pun melakukan hal sama hingga kami saling memanggil satu sama lain.
"Beaufort."
"Alexius."
PRANG.
Keheningan terasa diantara kami berdua saat pedang kami menusuk jantung satu sama lain.
"Kau juga akan mati bersamaku."
"Seperti yang aku katakan, apapun yang kau gunakan sudah tidak akan berpengaruh padaku lagi... Hanya kaulah yang akan mati."
"Mengesalkan sekali," berbeda denganku Alexius hanya manusia biasa yang tak memiliki keabadian.
Darah menyembur dari mulut Alexius lalu dia rubuh ke samping, dengan ini semuanya telah selesai. Aku menarik pedang Alexius dari tubuhku yang telah kembali ke bentuk asalnya.
__ADS_1
Pedang ini tadinya dimiliki oleh kota suci ini, sepertinya pedang ini ingin kembali kemari.
Aku segera menusukan pedangnya ke lantai dan berkata.
"Hanya seseorang yang pantas yang akan bisa berhasil menarik pedangnya dari sini."
Bersamaan itu para penduduk dan keempat Arch Priest bermunculan dari segala arah hingga mengelilingiku. Elbina berkata.
"Kita menang," dan membawa semua orang pada teriakan semangat.
Aku berjalan ke arah Minerva lalu membantunya berdiri.
"Kazuya."
Beberapa hari setelahnya, di masionku yang mulai terasa damai aku duduk selagi menyeruput tehku dalam damai. Minerva yang beberapa hari tinggal bersama kami akhirnya sudah memutuskan untuk pergi.
"Terima kasih atas semuanya."
Aku berdiri untuk menjabat tangannya.
"Kau yakin tidak ingin tinggal di sini?"
Minerva menggelengkan kepalanya.
"Aku pikir aku akan pergi ke benua lain untuk memulai kehidupan baru, di benua ini terlalu banyak hal yang menyakitkan bagiku."
__ADS_1
"Begitu, jika itu yang kau inginkan aku tidak bisa berbuat banyak, semoga perjalanan kau menyenangkan."
"Aah."
Para penghuni masion mulai bermunculan untuk mengantarkan kepergian Minerva dan hanya melambai ke arah punggung yang semakin menjauh itu.
Aku tidak tahu bisa bertemu dengannya atau tidak, yang jelas aku yakin Minerva pasti menemukan apa yang dia inginkan suatu hari nanti, setelah sosoknya menghilang butiran warna putih mulai berjatuhan dari langit yang mana semakin lama benda itu semakin bertambah banyak hingga menutup permukaan tanah.
Selly dan Sella melangkah ke depanku selagi mengangkat tangannya.
"Salju."
"Ini indah selagi."
Aku hanya tersenyum sebagai balasan.
"Lebih baik kalian mengganti pakaian dengan pakaian yang lebih hangat terutama Rusina.
"Aku lebih suka pakaian seperti ini, lagipula aku ini rubah yang tahan dingin."
Ariel meletakan syal di leherku dan aku mengelus kepalanya, dunia ini telah damai meski begitu aku masih harus menyelesaikan kandidat raja di kerajaan Atharissa tapi dengan musim dingin yang sudah tiba kurasa hal itu bisa menunggu nanti.
Pagi berikutnya salju telah menumpuk di halaman perkarangan rumah, seperti apa yang kukatakan selanjutnya tubuhku kini berubah menjadi mumi karena syal yang terlalu banyak dililitkan di tubuhku.
Ketika aku terjatuh semua orang menggulingkan tubuhku dan merubahku menjadi boneka salju, sementara mereka sendiri bersenang-senang dengan permainan perang bola salju.
__ADS_1