
Sudah ada empat desa yang terkubur oleh salju dan semua itu keluar dari sebuah retakan di atas langit.
"Itu dia, kalau kita bisa menutup salah satunya maka semua celah dunia akan ikut tertutup juga, yang harus kita lakukan membuat seseorang menembakan sihir tingkat atas ke dalamnya," tanpa dimintapun Dewi Ristal mengatakannya begitu saja.
"Bukannya itu tugas Dewi?"
"Karena terlihat berbahaya ini jadi tugasmu."
"Oi, mana perkataanmu yang ingin mengatasinya."
"Itu dan sekarang berbeda."
Aku mendesah pelan lalu berkata.
"Mari mendarat dulu dan biarkan aku melepaskan borgol ini."
"Baik."
Setelah borgolku dilepas aku menciptakan panah api hitam untuk menghancurkan celahnya namun sayangnya sebelum mengenainya itu lebih dulu menghilang dalam sekejap.
Ini yang dimaksud semua sihir tidak bisa digunakan.
__ADS_1
"Jika sihir tidak bisa dipakai lalu bagaimana aku bisa menutup celahnya?" tanyaku pada Dewi Ristal.
"Aku belum memikirkannya, coba kau pikirkan."
Aku tidak tahu kenapa Dewi Ristal datang kemari.
Selagi diam tak bergerak hujan salju mulai bertambah luas, kalau saja ada seseorang bisa melemparkanku ke sana tanpa menggunakan sihir, ketika aku mengalihkan pandanganku aku bisa melihat dua pohon yang berdiri saling bersebelahan, ada beberapa celah kosong di tengahnya.
"Jadi begitu, mari buat ketapel," setelah mempersiapkan apa saja bahan yang bisa digunakan, aku duduk di kursi dimana kiri dan kananku sebuah tali elastis mirip sebuah karet, aku tidak ingin tahu bagaimana Dewi Ristal membuatnya yang jelas dia seorang Dewi jadi hal seperti ini tidak sulit baginya.
Saat Dewi Ristal menarikku ke belakang aku diluncurkan ke atas langit tepatnya menuju celah tersebut.
Dan hasilnya.
Semua orang pasti tahu.
Selagi membantu membersihkan salju yang menumpuk di jalanan desa para istri penduduk desa ini sedang disibukkan mengelola daging kelinci yang kuberikan pada mereka, jumlahnya akan cukup sampai salju ini mencair, tentu saja aku juga memberikan daging kelinci tersebut pada desa yang lain sebanyak yang mereka butuhkan.
"Terima kasih, berkatmu desa kami bisa selamat."
"Ah iya, ini bukan apa-apa," kataku pada salah satu penduduk desa sebelum dia mengalihkan pandangan ke arah wanita berpenampilan aneh yang sedang memeluk kendaraannya.
__ADS_1
"Lalu siapa dia? Pakaiannya terlihat aneh."
Seperti itulah tanggapan semua orang terhadap Dewi Ristal.
Aku meminta Dewi Ristal untuk mengganti pakaiannya seperti sedia kala, aku berharap dia memakai rok atau gaun tapi sepertinya dia lebih menyukai celana.
"Bukannya itu terlihat ketat, bokongmu tampak jelas."
Dewi Ristal hanya melotot ke arahku dengan wajah memerah selagi memegangi bokongnya dengan kedua tangan, harusnya aku tidak mengatakan itu.
Dua hari berikutnya di masionku semuanya tampak baik-baik saja atau bisa kubilang terlalu damai untuk dijadikan kenyataan, aku yang curiga mulai mencari keberadaan semua istrimu beserta Rusina dan Marina dan menemukan semua orang sedang berbaring di rumput di belakang rumah tanpa mengatakan apapun.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Kami sangat bosan suamiku, akan lebih baik jika kami hanya menghabiskan waktu hari ini untuk berjemur." Aerithlah yang menjawabnya sebagai perwakilan.
Mereka terlihat sangat malas, mari coba pikirkan sesuatu yang bisa membuat mereka ceria.
"Bagaimana kalau kalian bermain pingpong, aku akan membuat meja dan Betnya."
Sejak itu olah raga ini terkenal ke seluruh benua dan beberapa orang bahkan menyebutku sebagai Raja Pingpong walaupun sebenarnya aku tidak memainkannya.
__ADS_1